Saturday, November 23, 2019

BERCERITA: PENGALAMAN MEMBUAT KARTU ANGGOTA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

CARA MEMBUAT KARTU ANGGOTA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo, teman-teman.
Setelah sekian lama akhirnya aku memiliki kartu anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kali ini aku akan berbagi pengalamanku dalam membuat kartu anggota perpusnas.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 RT. 11/RW.2, Gambir, Senen Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Untuk membuat kartu anggota, kamu bisa melakukannya langsung di Lantai 2 bagian Layanan Keanggotaan Gedung Perpusnas, dengan jam operasional dan kuota antrean sebagai berikut.

Senin—Kamis      : 08.30—17.30/KUOTA ANTREAN 500
Jumat                    : 09.00—17.30/KUOTA ANTREAN 500
Sabtu & Minggu   : 09.00—16.00/ KUOTA ANTREAN 400

Meskipun jam operasionalnya sampai pukul 16.00 dan 17.30, namun apabila pendaftar telah memenuhi kuota antrean, kamu tidak bisa mencetak kartu perpusnas di hari itu. Kamu hanya akan mendapat nomor kartu anggota dan baru bisa mencetak kartu anggota di lain hari. Oleh karena itu, bila kamu ingin membuat kartu anggota pastikan dirimu tidak datang di sore hari.
Syarat untuk memiliki kartu anggota Perpusnas di antaranya, memiliki kartu identitas yang berlaku, Kartu identitas yang berlaku untuk WNI yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk), KIA (Kartu Identitas Anak), atau KK (Kartu  Keluarga). Sedangkan untuk WNA memerlukan KITAS (Residence Permit) atau VOA (Visa on Arrival). Selain itu, minimal pembuatan kartu anggota adalah SD Kelas 1.
Baiklah, sekarang mari kita membahas cara membuat kartu anggota Perpusnas.

Pendaftaraan Keanggotaan
1. Isi formulir
-          Untuk pengisian formulir, dapat dilakukan secara daring (online) melalui http://keanggotaan.perpusnas.go.id/ dan juga dapat dilakukan langsung di di Lantai 2 bagian Layanan Keanggotaan Gedung Perpusnas.
-          Untuk mengisi formulir, pastikan kamu membawa atau menyiapkan kartu identitas yang berlaku, seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk), KIA (Kartu Identitas Anak), atau KK (Kartu  Keluarga) untuk WNI dan KITAS (Residence Permit) atau VOA (Visa on Arrival) untuk WNA. Setelah itu, kamu tinggal mengisi data yang sesuai dengan kartu identitas sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Kamu diwajibkan mengisi seluruh inputan bertanda bintang (*). Selain itu, sifatnya opsional, tetapi dianjurkan untuk tetap mengisi agar datamu lebih lengkap.
-          Nah, setelah kamu mengisi seluruh data diri dengan benar, selanjutnya klik kotak kecil bagian bawah yang bertuliskan ‘Saya menyatakan data yang diisi benar dan dapat dipertanggungjawabkan, serta setuju untuk menaati segala peraturan Perpustakaan Nasional RI’.
-          Setelah itu, langsung saja klik kolom ‘DAFTAR’.
-          Selanjutnya kamu akan mendapatkan kode registrasi atau nomor anggota.

\ 2.  Mencetak Kartu
-          Apabila kamu mengisi formulir melalui website, kamu tetap perlu datang ke Perpusnas untuk mencetak kartu. Di sana, kamu tinggal memasukkan nomor anggota/NIK di komputer yang tersedia, baru akan mendapatkan nomor antrean.
Sedangkan, apabila kamu mengisi formulir langsung di Perpusnas, kamu akan mendapatkan nomor anggota sekaligus nomor antrean.
-          Setelah kamu mendapatkan nomor antrean, kamu tinggal menunggu nomormu dipanggil melalui pengeras suara. Nomormu hanya akan dipanggil nomor sebanyak dua kali, jadi pastikan kamu tidak berada terlalu jauh dari lokasi.
-          Setelah nomormu dipanggil, kamu harus segera datang ke counter sesuai yang diinstruksikan melalui pengeras suara.
-          Di counter kamu akan diminta untuk menghadap kamera untuk difoto*. Hasil foto tersebut nantinya akan langsung tercetak di kartu anggotamu. Nah, sambil menunggu proses pencetakan petugas akan melakukan verifikasi terhadap data yang telah kamu masukkan.
-          Tidak sampai lima menit, kartumu TELAH SELESAI DICETAK.
*saat di counter, kamu tidak perlu menarik kursi yang telah disediakan karena kursi tersebut telah diatur sedemikian rupa agar pas dengan kamera. Siapkan senyum terbaikmu karena kartu anggota BERLAKU UNTUK SEUMUR HIDUP :p 


Beginilah hasil kartunya.
Dokumentasi Pribadi
Kira-kira begitulah cara untuk memiliki kartu anggota Perpustakaan Nasional RI. Oh iya, aku juga ingin berbagi sedikit pengalaman pribadiku. Aku mengisi formulir di Perpusnas, namun karena saat pertama kali aku datang kuota antrean pencetakan kartu sudah penuh. Aku belum bisa mencetak kartu di hari itu. Nah, saat aku kembali datang ke Perpusnas, aku melakukan cara yang sama dengan yang mengisi formulir melalui website resmi Perpusnas.
Nah, selain itu, saat aku datang mesin pencetak kartu antrean tidak mengeluarkan kertas nomor antrean. Bila terjadi seperti itu, jangan ragu untuk memberitahu kepada petugas layanan informasi yang ada di sana. Petugas akan senang hati membantu. Hal ini juga berlaku apabila kamu memiliki kebingungan lainnya. Jangan malu untuk bertanya.
Mungkin sekian yang bisa aku sampaikan dalam blog-ku kali ini. Blog ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadiku serta sumber lainnya untuk memastikan kebenaran informasi. Mohon maaf apabila ternyata masih terdapat ketidaksesuaian. Jangan ragu untuk mengoreksi, memberikan informasi tambahan, ataupun bertanya. Langsung saja tulis di kolom komentar.
Oh iya, kalau ada yang mau aku berbagi pengalaman lagi boleh dong kasih saran apa yang harus aku bagikan. Tulis juga di kolom komentar,
Tulis dengan bahasa yang baik dan santun ya, guys. Hehe
Sekian dariku. Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Media sosial            : hanafm24 (Instagram dan Storialco)
Surat elektronik       : hanafm24@gmail.com
#hanafm #hanafmdiary

Sunday, November 17, 2019

MENGAPA GEMAR MEMBACA?

MENGAPA GEMAR MEMBACA?

Hana kecil tidak lulus TK.
Aku berhenti di kelas 0 besar dan memutuskan belajar mandiri di rumah (aku sungguhan belajar๐Ÿ˜).  Memiliki banyak waktu luang, aku menjadi sering bermain. Aku rutin berkunjung ke istana Putri Nirmala yang baik hati dan ke rumah besar Paman Gober yang pelit tapi jenaka.

Ibu tidak pernah membelikan buku, tetapi ada seorang saudara yang selalu memberikan buku cerita secara cuma-cuma. Setiap pulang berkunjung, selalu ada majalah atau buku cerita yang kubawa. Kini buku-buku itu lenyap entah kemana. :(

Bertahun-tahun kemudian, kegemaran membaca mulai berkurang. Ada hal yang lebih menarik di televisi. Mataku beralih dari lembaran kertas bergambar ke layar kaca penuh warna.

Saat kelas 9, guru Bahasa Indonesia memberi tugas untuk membuat resensi novel. Di tengah godaan dari teman-teman untuk meniru dari internet, aku memutuskan pergi ke perpustakaan sekolah untuk meminjam sebuah novel. Meresensi novel itu sendiri. Ketika itu aku menemukan novel berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" karya Tere Liye.

Duarrr! Aku jatuh cinta dengan novel itu. Jalan ceritanya membuat air mataku luruh seketika. Terlebih banyak pemahaman baik yang kuterima. Ini berbeda saat kecil aku membaca buku anak-anak. Pemahaman yang kuterima sungguh berbeda. Mungkin ini karena diriku mulai beranjak dewasa.

Perpustakaan sekolah di SMP-ku tertata amat rapi. Sayang, pustakawan yang galak membuatku seringkali enggan untuk berkunjung ke sana. Hingga pada akhirnya Ibu pustakawan berdagang, dan aku membeli dagangannya sambil meminjam novel di perpus sekolah. Duarrr! Beliau menjadi amat ramah meski tetap pemarah^^

Sejak itu, kegemaran membacaku kembali. Berawal dari cerita yang ada di majalah, aku beralih membaca novel. Buku tebal berisi ratusan halaman tanpa warna. Hanya tulisan. Tak masalah. Aku menyukainya.

Kegemaran itu bertahan hingga hari ini dan seterusnya. Rasanya, membaca satu buku tak pernah cukup. Setelah selesai membaca, aku selalu memiliki hasrat untuk membaca buku lainnya, khususnya buku yang membahas hal yang tak dibahas tuntas di buku sebelumnya. Ah, selalu begitu siklusnya.

#hanafmdiary #mengapagemarmembaca

Saturday, August 31, 2019

IP Kedua, Bagaimana?


“IP semester 1 itu IP terbesar dari semua semester.”
Deg.
Aku kaget banget waktu salah satu temanku bilang begitu. Waduh, berarti bakal susah banget dong buat dapetin IP yang lebih tinggi dibanding semester sebelumnya. Yah, tapi yaudahlah, ya. Usaha aja dulu. 


Halo, teman-teman. Udah lama banget gak nulis di blog. Haduh, maafin banget jari-jariku ini males banget kalau disuruh nulis. Maunya scroll-scroll gak penting di Instagram doang. Udah jarang banget nulis. Huhuhu. Tapi, insyaa allah, pengalaman tentang masalah IP di akan aku tulis  terus di tiap semester, tentunya di blog kesayanganku ini. Walaupun nunggu terkumpul niatnya lama banget. Hihi

Kembali ke topik.

Sebenarnya aku baru aja isi KRS (Kartu Rencana Studi) buat semester 3, dan keinget kalau aku belum nulis di blog masalah IP-ku di semester 2, akhirnya mulailah kutulis sekarang –bersama benih-benih semangat yang mulai kusemai. Asikkkk

Pembuka blog tadi adalah kalimat yang beberapa kali aku dengar dari beberapa teman kuliahku. Aku sih gak tau benar apa enggak, cuma rumornya begitu. Apalagi di semester pertama kemarin, kami memang mendapat IPS yang cukup tinggi semua. Beberapa dosen juga pernah bilang kalau di semester awal itu, dosen masih pada baik soal nilai. Wah, terus di semester selanjutnya gimana dong?

Hal yang bikin aku tambah pesimis di semester dua ini adalah aku ngerasa semangat belajarku berkurang drastis, karena sejak bulan Ramadan kemarin aku harus menempuh perjalanan 2—3 jam buat ke kampus. Ya, aku pulang-pergi Bogor-Jakarta. Kebayang dong. Harus naik angkot, terus naik KRL, terus dilanjut naik Transjakarta buat ke kampus. Sampai di kampus, udah capek duluan. Pulang ke rumah, harus pakai rute yang sama. Sampai di rumah, udah capek duluan, maunya langsung rebahan. Boro-boro belajar buat besok. Semakin pesimis lah aku gimana IP-ku di semester ini.

Meski begitu, aku tetap mencoba belajar dengan sebaik-sebaiknya. Mengerjakan tugas dengan benar-benar menggunakan ilmu yang aku punya, tidak sekadar untuk mencari nilai dan agar tugas selesai saja. Ujian-ujian pun aku kerjakan dengan sebaik-baiknya. Walau di beberapa mata kuliah, aku sama sekali gak belajar sih. Hehe. Maafkan aku. :”)

Akhirnya terlewati sudah semester dua dengan segala keruwetan tugas dan ujiannya, serta drama-drama yang terjadi di dalamnya.

Setelah itu, tentulah aku menanti-nanti hasil belajarku selama satu semester ke belakang. Sayangnya, pengumuman KHS di kampusku mengalami sedikit keterlambatan. Entah apa masalahnya. Di saat pembayaran UKT sudah dibuka, yang artinya mahasiswa sudah harus melaksanakan kewajibannya, tetapi hak mereka untuk menerima nilai mereka belum juga diberikan oleh pihak kampus.
Nah, barulah pada tanggal 2 Agustus 2019 pukul 00.01, Pustikom melalui akun instagramnya, mengumumkan bahwa mahasiswa sudah bisa melihat KHS-nya. Saat itu, kebetulan aku lagi begadang, jadi setelah ada teman yang mengabarkan, aku segera membuka SIAKAD untuk melihat nilaiku. Tentunya dengan berdoa terlebih dahulu.

Jujur aja, aku memang cukup deg-degan saat hendak membukanya. Namun aku bisa sedikit lebih santai di bandingkan semester sebelumnya. Apalagi karena aku membuka saat dini hari, jaringan juga sedang bagus-bagusnya. Hehe

Daaaan… saat aku membuka nilaiku, lagi-lagi IP-ku kali ini membuatku bersyukur. Memang belum sempurna, tetapi tidak terlalu buruk juga. Satu hal yang membuatku senang adalah bahwa aku berhasil membantah rumor yang beredar di antara teman-teman kuliahku, bahwa IP semester selanjutnya tidak akan bisa lebih tinggi daripada IP semester pertama. Segala puji bagi Allah, IP semester duaku lebih tinggi daripada IP semester satu. Walaupun, yaaaaaaaa, selisihnya bener-bener tipis banget, hihi.

Jadi, guys, rumor, “IP semester 1 adalah IP terbesar dari semua semester” itu belum tentu benar, ya. Semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing, sejauh mana kita mau berjuang untuk mendapatkan hasil yang baik.

Memang benar di semester awal, dosen pasti memberikan banyak kelonggaran. Mereka pun pasti memahami peralihan kita dari masa menjadi siswa ke mahasiswa. Tetapi, bukan berarti di semester pertama mereka memberi kelonggaran selonggar-longgarnya, sedangkan di semester selanjutnya mereka mengencangkan tali seketat-ketatnya.

Dosen Linguistikku pernah bilang, 
“Dosen tidak memberikan nilai, mahasiswa yang menentukan nilainya sendiri.” 
Nilai kita tidak tergantung pada dosen, ilmu yang kita dapatkan pun tidak tergantung pada dosen. Dosen hanya perantara antara kita dengan nilai dan ilmu itu sendiri. Selebihnya, kembali diri masing-masing.

So, jangan pernah pesimis, ya!

Kalau IP-mu di semester ini belum memuaskan, tetap berusaha! Nilaimu bisa lebih baik di setiap semesternya. Jangan lupa berdoa juga, segala usaha tanpa doa hanya akan berakhir sia-sia. Imbangi juga pembelajaran di perkuliahan dengan kegiatan bermanfaat lainnya, entah dengan berorganisasi, mengikuti lomba, ataupun yang lainnya. Agar kita tidak perlu berpeluh-peluh sampai jenuh dan bisa tetap menjalani semua dengan riang gembira! ๐Ÿ˜Š

Oh iya, aku pengen tau dong, apa aja sih rumor yang beredar di kampus kalian tentang IP dan sejenisnya? Kalau ada, boleh tulis di kolom komentar, ya.

Terima kasih untuk teman-teman yang udah membaca tulisanku ini sampai habis. Doakan aku supaya semakin rajin menulis, ya. 
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Wednesday, June 19, 2019

CERPEN: KELIRU Karya Hanafm

KELIRU
Hana Farhani Maulida


“Dia itu Cina!”
Aku terkesiap demi mendengarnya. Dalam hatiku bertanya-tanya, kenapa? Namun ibu tak mau menjelaskan dan lebih memilih menutup pintu kamar. Menangis. Saat itu juga aku diliputi kegamangan luar biasa. Apakah aku harus mengetuk pintu, atau pergi menuju ruang tamu. Aku tidak tahu dan hanya bisa terpaku di bibir pintu. Sementara di dalam kamar, ibu menangis tersedu.
“Bu, tolong jangan begini. Keluarlah!” pintaku sambil mengetuk pintu. Amat berhati-hati. Namun, tak ada jawaban, selain tangis yang semakin menderas.
Setelah diam membisu selama beberapa waktu, aku pergi ke ruang tamu. Menemui kekasih hatiku. Wajahnya amat sendu. Matanya berlinang pilu. Dia pasti mendengar semuanya, dan pastilah itu membuatnya sangat terluka.
Aku semakin tidak mengerti, tentang segalanya, termasuk bagaimana cara menghadapi dua wanita yang sedang terluka, yang mana aku sangat mencintai keduanya.
“Maafkan aku. Aku tidak mengerti.” Dan kalimat bodoh inilah yang terucap dari bibirku kemudian. Ia menatap mataku –masih dengan wajah sendu. Ya Tuhan, tolong hentikan waktu! “Aku akan pulang,” tuturnya parau.
Dan di sinilah kami sekarang, di dalam mobilku yang entah mengapa terasa sempit dan sesak. Aku memandang sang puan yang tengah menikmati ramainya kota, atau entahlah, aku hanya menerka-nerka sesuatu yang kuharap dapat membuatku lega. Padahal jelas kulihat tangisnya tak kunjung mereda. Mendung di parasnya tak kunjung sirna. Sungguh, aku tidak percaya. Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya rona bahagia yang terpancar?
Beberapa jam yang lalu, di tempat yang sama, kami begitu bahagia. Melepas canda yang mengundang tawa. Meski debar gugup di dada tak dipungkiri tetap ada. Sesampainya di rumahku, kesenangan itu masih tak terkira jumlahnya. Ibuku menyambutnya dengan perasaan suka cita. Tetapi, baru lima menit kami duduk di sofa, semua kegembiraan itu lenyap tak tersisa. 
Sebagai lelaki, aku tidak ditakdirkan untuk mudah peka. Kami lebih senang bermain logika. Untuk itulah, hingga detik ini, aku masih sibuk menerka-nerka.
Hening menemani kami selama dalam perjalanan.
Sang perempuan enggan berkata, lelakinya bingung harus mengucap apa.

**

“Kapan pacarmu itu dikenalin sama ibu?”
“Sabar, Bu. Nanti aku pasti kenalin sama Ibu.”
“Cepetan dong!” Ibu merajuk genit yang kusambut dengan senyum malu-malu.
Kurasakan ibu sangat gembira. Wajahnya tampak begitu antusias. Wajar saja, ini adalah kali pertama aku menceritakan seorang wanita kepada ibunda. Wanita yang telah kucintai selama setahun belakangan. Wanita pertama yang kucintai setelah dirinya.
Hari itupun tiba, hari di mana aku memperkenalkan kekasih hatiku pada ibu. Keduanya tampak begitu antusias. Ibu memasak hidangan terlezat untuk menjamu calon menantu, dan kekasihku membuat kue yang kubilang kesukaan calon mertuanya. Sebagai wanita, merekapun tak lupa menampilkan yang terbaik. Setelah makanan terhidang di meja, ibu sibuk bersolek. Sementara kekasihku, begitu lama kutunggu, karena sibuk mempercantik diri. Tak tahukah mereka, bahwa mereka sudah begitu sempurna di mataku –dengan ataupun tanpa bedak itu.
Jarak antara sedih dan bahagia sungguh terlalu dekat. Harapanku terlampau segala, hingga kenyataan membawaku pada siksa.

**

Masa melesat begitu cepat. Tidak pernah lebih lambat dari mata yang mengerjap. Aku telah tiba di depan rumahnya.
“Kenapa ibumu sangat membenciku?”  tanyanya setelah sekian lama membisu. Ia menunduk lemah.
Tak semua manusia dapat menemukan cintanya. Tak semua pertanyaan ada jawabannya. Aku menemukan cintaku –dirinya , tetapi tak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku belum mampu mencerna semuanya. Tidak bisa menyimpulkan apa-apa.
Apa yang baru saja terjadi seribu kali lebih cepat dibanding kilat, dan sejuta kali lebih menggemparkan dibanding gelegarnya. Mulutku terkunci rapat, yang bisa kulakukan selanjutnya hanyalah menggenggam tangannya erat.
“Tolong, tinggalkan perempuan itu. Kau bisa menikah dengan siapapun, asal tidak dengan mereka.” Aku teringat kalimat yang tadi ibu ucapkan setelah tiba-tiba meninggalkan ruang tamu saat kami tengah bercakap santai. Saat aku bertanya kenapa, ibu malah menjawab dengan jawaban yang membuatku semakin bertanya-tanya.
Aku menatap lekat mata bening kekasihku. Pikiranku pun melayang kepada cerita itu.
Kala itu, aku masih dalam rahim ibu. Beberapa hari kemudian barulah aku bisa merasakan dunia. Namun, dalam ‘beberapa hari’ itu begitu banyak yang terjadi. Beberapa hari itu cukup sudah mengacaukan kebahagiaan keluargaku.
Semua orang marah dan bertindak di luar kewarasan dirinya. Langit biru menjadi kelabu. Hujan turun menjatuhkan abu. Api membara di mana-mana. Asapnya membuat gelap dan pengap. Dan ayah ada di sana. Ketika semua orang berlari menjauh pergi, dengan gagah berani ayah turun ke sana. Mencari berita. Namun, sungguh, jika ayah hanya mencari berita, tentulah ayah tidak akan meregang nyawa. Ayah melakukan lebih dari tugasnya.
Ayah tak tahan dengan kerumunan itu. Hatinya panas melihatnya. Ayah menarik perempuan yang berada dalam kerumunan. Menyelamatkannya. Perempuan itu tampak menyedihkan. Pakaian yang melindungi tubuhnya sudah tak sempurna lagi. Rambutnya berantakan. Wajahnya dipenuhi memar. Entah apa saja yang sudah direnggut darinya. Namun, menyelamatkan perempuan itu tidak semudah yang ia kira. Pepatah ‘kebaikan akan selalu menang’ ketika itu, sangat tidak ada artinya. Ayah tidak bisa menjadi malaikat untuk perempuan itu. Justru malaikat yang datang menjemputnya. Ayah dibunuh. Dibunuh karena kebaikan hatinya.
Aku ingat cerita itu. Aku ingat wajah sendu ibu ketika menceritakannya. Pelan-pelan aku mulai memahami sesuatu.

**

Aku kembali ke rumah, menemui Ibu yang kutahu sangat terluka. Kejadian itu memang sudah ia maafkan. Namun, dendam hanya terpendam, tidak sirna. Aku memeluk ibu yang masih saja terluka. Tak peduli sudah berapa lama, semuanya masih tersimpan rapi di dalam kepala. Teringat dan membekas selamanya.
Ayahmu adalah orang baik, namun menjadi baik harus siap dicabik. Itu yang dulu juga ibu katakan. Ibu benar. Aku tahu itu. Aku sangat mengenal ayahku, seratus persen sama dengan ibu mengenalnya. Aku bercakap dengan ayah melalui cerita-cerita ibu. Aku masih dalam rahimnya kala itu. Tak bisa merasakan kesedihan ibu. Tiada kuasa mengusap air matanya. Kini aku sudah dewasa, lebih dari cukup untuk memahami semuanya. 
Memang selama ini kutahu ibu bisa berdamai dengan waktu. Menjalani hidup dengan baik-baik saja. Bahkan berkeseharian dengan mereka, namun untuk menjadikan salah satu dari mereka keluarga, aku mengerti kenapa ibu tak pernah rela.
Saat mengetahui kekasihku ternyata berdarah Tionghoa, masa lalu itu kembali lagi, menyayat hatinya bagai sembilu. Bertahun-tahun ia yakin luka itu telah sirna, namun ternyata dendam itu hanya terpendam, dan melekat selamanya. Tak peduli sampai sejauh ini dia terlihat baik-baik saja.
Sekarang semuanya terang benderang.

**

Senja adalah waktu berpisah untuk hari yang baik ataupun buruk. Entah hari ini hari yang seperti apa, tetapi semoga perpisahan ini menjadi sebuah awal untuk melihat indahnya bintang di langit. Meski aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kekasihku ada di depan mataku, wajahnya masih saja sendu. Aku dilucuti rindu. Hasrat memeluknya begitu menggebu. Namun kali ini tak bisa lagi.
Aku menyampaikan semuanya. Semua hal yang bahkan pernah terlupa olehku.
“Aku turut berduka cita atas ayahmu. Kebaikan hatinya pada kami telah merenggut nyawa sekaligus kebahagiaan keluargamu,” ujarnya sendu. Tumpah ruah air mata tidak kuasa dibendungnya lagi.
“Sungguh, itu bukan salahmu. Kau tak ada sangkut pautnya dalam tragedi itu.” Ya Tuhan, tolong jangan buat kekasihku merasa bersalah. Ini bukan salahnya. Takdir saja yang tak berpihak pada kami. Hatiku semakin tidak terima, haruskah aku meninggalkan perempuan sesuci dirinya?
“Aku tidak sesuci yang kau kira. Aku terlibat. Aku adalah bagian dalam tragedi pilu itu.” Air matanya terhenti, tetapi kini aku yang tidak mengerti, apa maksudnya?
“Aku adalah salah satu anak korban dari tragedi itu, dan perbuatan ayahmu sungguh sedikit banyak menyenangkan hatiku. Bahwa ternyata masih ada yang peduli pada kami saat itu,” pungkasnya sambil tersenyum. Senyum yang begitu teduh. Aku terperanjat tidak percaya. Bagaimana mungkin?

**


Terima kasih telah berkenan membaca. Kritik dan saran sungguh sangat aku harapkan. :)
Salam sastra, salam cinta ๐Ÿ’“

Jadilah temanku!
Ikuti aku di instagram: hanafrhani
Beli buku di @bookstore.fm (ig), ya. 
Surel: hanafm24@gmail.com

Thursday, March 21, 2019

PENGERTIAN MEMBACA, MEMBACA KRITIS, DAN MEMBACA KREATIF

Hana Farhani Maulida
1 PB 1
Keterampilan Membaca Kritis Kreatif

1. Pengertian Membaca
Membaca adalah suatu proses untuk memperoleh informasi dari suatu bahan tulisan dengan media kata-kata yang menunjukan interaksi tidak langsung antara penulis dan pembaca.

2. Pengertian Membaca menurut Para Ahli

Henry Guntur Tarigan (2008 : 7)
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.

Sabarti Akhdiah 1993: 22
Suatu proses untuk memahami makna tulisan.

Santosa, 2009: 63
Kegiatan memahami bahasa tulisa

Kusnama, 2011: 73
Kegiatan memaknai lambang-lambang bunyi atau lambang ortografis tertulis dalam kegiatan berbahasa,


3. Tujuan Membaca
·         Memperoleh ilmu, gagasan, wawasan, dan pengetahuan baru
·         Mengembangkan pengetahuan dan ilmu yang telah dimiliki
·         Memenuhi asupan kebutuhan otak / akal
·         Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam sendiri maupun dari lingkungan
·         Memperluas wawasan agar dapat berpikiran terbuka
·         Mengaitkan antara satu informasi dengan informasi lainnya

4. Pengertian Membaca Kritis
Kegiatan membaca yang ditempuh dengan cara yang bijak, mendalam, evaluative, serta analisis agar dapat memahami suatu informasi suatu bacaan dengan sebaik-baiknya, bukan sekadar mencari-cari kesalahan isi atau pilihan kata yang terdapat dalam bahan bacaan.

5. Pengertian Membaca Kreatif
Kegiatan membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan baru yang terdapat dalam bahan bacaan dengan cara mengidentifikasi atau mengombinasikan pengetahuan yang sebelumnya telah didapatkan. Membaca kreatif di sini juga memiliki tujuan untuk menciptakan suatu karya tulis atau bahan bacaan baru melalui proses merekayasa teks, misalnya teks puisi direkayasa menjadi sebuah teks novel.



Tuesday, March 05, 2019

Hanafm's Diary: TUGAS PERTAMA KULIAH DI SEMESTER 2

TUGAS PERTAMA KULIAH DI SEMESTER 2:
 yang terlalu terburu-buru


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Selamat pagi, temen-temen... Hari ini aku akan share tugas pertamaku di masa perkuliahan di semester 2 :) Tugas mata kuliah Keterampilan Membaca Kritis Kreatif ini merupakan mata kuliah lanjutan dari "Keterampilan Membaca Teknik" di semester pertama. Di pertemuan pertama, pastilah ya dosen memperkenalkan diri, menjelaskan RPS, memberikan tagihan-tagihan tugas, dll dll. Nah, setelah itu, dosenku memberikan tugas kepada kami untuk menceritakan pengalaman pertama kami menginjakkan kaki pertama kalinya di kampus tercinta, Universitas Negeri Jakarta. Yuhuuu. Namun, cukup disayangkan, waktu yang diberikan itu hanya sekitar 30 menit sebelum jam mata kuliah usai. Bayangkan, guys. Selama satu bulan lebih, jemari ini tidak dipakai untuk menulis cepat, eh tiba-tiba di hari pertama kuliah diharuskan menulis dengan cepat.

Sama seperti yang lainnya, akupun mulai mengerjakan tugas (mau tak mau), meski didera rasa bingung yang luar biasa karena cukup lucu rasanya harus mengulik perasaanku waktu itu. Ah, UNJ. Namun cukup disayangkan, aku belum bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Pokoknya, asal mengumpulkan saja. And I regret for it. Maka dari itu, aku berkeinginan untuk menulis kisahku itu di blog pribadiku. Yeaaaaaay. Selamat membaca :)


Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia: Pilihan yang Terlalu Terburu-buru

Di kelas 12, tentu setiap orang mulai memikirkan untuk menentukan masa depannya, entah pilihan untuk bekerja ataupun melanjutkan pendidikan. Apapun itu pasti setiap dari mereka menginginkan yang terbaik untuk dirinya, dan diriku termasuk ke dalam setiap orang itu. Sejak kelas 10, aku sudah mantap untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, tak peduli apa kendalanya dan bagaimana caranya. Saat itu, aku belum memikirkan apapun, termasuk ke mana aku akan kuliah dan konsentrasi apa yang ingin aku dalami. Aku hanya berusaha untuk membulatkan tekad sedini mungkin. 

Saat duduk di bangku kelas 11, aku mulai meyakinkan diri untuk memilih Pendidikan Ekonomi sebagai jurusan pilihanku, dengan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, sebagai tempatku menuntut ilmu. Akupun semakin rajin belajar dan mulai mencari informasi mengenai mimpiku tersebut. Namun, semakin tahu, semakin aku tak menentu. Langkahku tiba-tiba goyah. Semangatku mendadak hilang arah. Meski begitu, aku tak pernah berhenti berusaha dan berdoa. Segala yang kubisa, tetap kukerahkan semampunya.

Penghujung kelas 12 pun tiba, aku "diharuskan" untuk "benar-benar" memantapkan pilihan. Dengan perasaan yakin dan bismillahirrahmannirrahim, kuputuskan sebuah pilihan yang membuat guru-guruku kaget. Beberapa bahkan menentangku habis-habisan. Ya, karena aku yang dulunya keukeuh untuk mengambil Pendidikan Ekonomi, kini berpindah haluan dengan mengambil Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mayoritas dari mereka yang selama ini mendukungku, kini ada di barisan orang yang mencemooh pilihanku. Mereka berdalih kalau aku bisa lebih dari itu. Tetapi aku percaya, inilah yang terbaik untukku dan akulah yang paling tahu mengenai hal itu. Selain berpindah pilihan program studi, aku juga berpindah pilihan universitas. Atas beberapa pertimbangan yang telah kupikirkan dengan matang.

Pengumuman SNMPTN pun terdengar, derai air mata bahagia maupun kecewa mulai menampakkan rinainya. Mereka menamainya, #TIMHIJAU dan #TIMMERAH, Alhamdulillahirrabbil'alamiin, aku masuk ke daftar #TIMHIJAU yang berbahagia, sebab aku diterima di pilihan pertama. Air mata tak kuasa kubendung. Puji syukur tak henti terhatur. Serta ucapan terima kasih tak lupa kusampaikan pada mereka yang terkasih,

Singkat cerita, masa perkuliahan pun dimulai. Aku mencoba menjalaninya dengan segenap suka cita. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang kurasa kosong, hampa, serta sia-sia. Perasaan cemburu seketika menyergapku. Aku iri pada temanku yang berada di program studi yang selama ini begitu kuingini. Aku terus berpikir, "Seharusnya aku menjadi seorang guru Ekonomi yang mencintai dunia tulis-menulis." Bukan seperti yang kujalani sekarang ini. Akupun mulai menjalani perkuliahan dengan ogah-ogahan. Belajar hanya bila benar-benar terpaksa dan semaunya.

Di pertengahan semester satu, aku mulai mencoba menerima fakta yang harus kujalani. Mungkin rezekiku ada di sini. Aku mulai belajar dengan fokus dan serius, mengesampingkan karakter ambisius. Tak apa. Aku harus bersyukur. Banyak di luar sana lulusan muda yang bahkan tak bisa kuliah, dengan banyak alasan. Dan aku adalah satu di antara banyak dari mereka yang beruntung. Betapa hina diriku jika terus mengeluh di atas semua nikmat yang telah Allah SWT. berikan. 

Sungguh, aku tak perlu menyesal. Sedikitpun tidak perlu. Itu hanya akan membuang waktu berhargaku. Aku hanya dapat memetik pelajaran dari semua kejadian yang menghampiri, bahwasanya, yang tahu sesuatu yang baik atau tidak untuk diri kita,sejatinya bukanlah diri kita, melainkan Allah Subhannahu Wa Ta'ala. :) Aku akan belajar untuk tidak memutuskan sesuatu dengan tergesa-gesa dan aku harus belajar untuk menerima segala yang datang padaku dengan lapang dada, karena hanya itulah yang bisa kulakukan sebagai hamba.

Bismillahirrahmannirrahiim...
Aku akan berkuliah dengan baik,
 mewujudkan semua impianku,
demi mengangkat derajat keluarga, terutama kedua orang tuaku, di dunia dan di akhirat kelak.
Dengan ridho-Mu dan ridho mereka: KUYAKIN BISA!

***


Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca kisahku. Semoga kebahagiaan dan berkah Tuhan selalu menyertai kalian semua.  Doakan aku semoga bisa aktif menulis blog, ya. Sebab niatku ingin menebar manfaat dengan cara yang aku bisa. Mari saling mendoakan, mari saling mengingatkan perihal kebaikan. :)

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...





Monday, February 25, 2019

IP Perdana, Bahagia atau Berduka?

Buat beberapa kampus mungkin sudah Mengetahui IP perdana dari jauh-jauh hari, tetapi untuk mahasiswa UNJ yang baru bisa mengakses SIAKAD, Selasa malam, 12 Februari tahun 2019 akan cukup menegangkan. Terutama untuk maba yang untuk pertama kalinya akan mendapatkan IP perdana. Wowwww.

Kamu gimana pas mau dapet IP perdana? #timpanik, #timselow, atau #timASingleSheetofPaperCan'tDecideMyFuture ? Di manapun posisimu, semoga IP perdanamu mampu membuatmu tersenyum bahagia :)
Mau buka IP perdana ini rasanya kaya mau buka pengumuman lolos PTN gak sih? Deg-degannya beda tipis gitu, huehehe. Gak kali ya itu mah aku doang, dasar maba!! Hehe

Jujur aja, ketika temen-temenku udah bilang nilai IPS udah bisa diliat aku mah selow banget. Sebenernya lebih ke gak berani, sih. Soalnya ya gitu, deh (apaan si๐Ÿ˜‚). Beberapa temen bahkan udah chat minta kasih tau IP-ku berapa, waduuuuh. Aku aja belum tau. Tawaran membukakan IP juga menghampiriku looooh. Tapi eh tapi, rasanya gak perlu deh. Walaupun pas pengumuman SNMPTN aku dibukain sama temen, tapi kali ini ya gak perlu lah. Aku sudah jauh lebih tangguh dari aku yang terlalu takut waktu itu. Hehehe.

Oh iya, temen-temen, jujur, aku bukan tipe orang yang suka nanyain IP temen-temenku loh. Ya karena menurutku, "aku gak harus tau juga gitu loh." Mungkin buat temen-temen yang dapet IP bagus, mereka akan dengan senang hati memberitahukan nilainya. Namun buat temen-temen yang mungkin dapet nilai yang gak memuaskan, mereka pasti gak berkenan atau malu memberitahukannya. Apalagi sekarang kan bukan sekolah lagi yang ada peringkat juara 1, 2, dan 3. Nilai IP itu ya untuk data pribadi dan refleksi diri aja (ini menurutku yaaaa).

Akhirnya aku memutuskan untuk membuka SIAKAD dan melihat nilai IP pada pukul 00.01 WIB, guna menghindari beberapa kepanikan seperti server down, lemot, dan lain-lain. Alhamdulillah saat aku membuka SIAKAD sampai melihat nilaiku di semester ini, semuanya lancaaaaaar. Akupun cukup puas dengan nilai yang aku dapatkan. Meski aku merasa ada beberapa materi di mata kuliah tertentu yang aku belum menguasainya. Serta aku harus memperbaiki pola belajarku di semester selanjutnya.

Hm, jadi, kalau ditanya “IP perdana, bahagia atau berduka?” Jawabanku adalah... “Bersyukur.” Ya, bersyukur. Dan berapapun IP-ku aku akan mensyukurinya, terlebih bila aku telah berusaha semampu yang aku bisa. Karena bisa masuk kuliah juga adalah salah satu yang sangat aku syukuri. Atas segala perjuangan dan doa-restu dari semua orang di sekelilingku.

Aku setuju dengan orang-orang yang berpendapat, "IPK bukan penentu kesuksesan." Sebab memang banyak sekali faktor kesuksesan seseorang, tetapi memiliki nilai IP yang tinggi juga suatu kebanggaan bukan? Terlebih kita memang berproses dan berjuang demi mendapatkannya. Setidaknya itu menjadi salah satu bukti bahwa kita telah belajar dengan baik di bangku kuliah.

Oke, gitu dulu ceritaku hari ini hehe. Sebenernya telat banget sih, tapi semoga ada manfaatnya ya ceritaku ini. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah baca :)

Sampai jumpa di tulisanku selanjutnya. Daaaaaaaaah.

Hanafm's Diary

Note:
IPS = Indek Prestasi Semester
IPK = Indeks Prestasi Kumulatif
SIAKAD = Sistem Informasi Akademik

Tuesday, February 12, 2019

Hanafm's Diary: Ajari Aku untuk Ikhlas

Ajari Aku untuk Ikhlas

Pernah membantu seseorang, sampai mengorbankan diri sendiri, tetapi kemudian dikhianati. Rasanya bagaikan ditikam dari belakang. Sakit. Hati mencoba ikhlas. Namun sulit. Bagaimana caranya? Aku tak tahu.

Sejenak mungkin aku lupa, tetapi kemudian nanti teringat lagi. Rasanya sakit sekali. Ingin menangis namun air mata seperti tertahan. Kemudian berpikir, "Air mataku terlalu berharga untuk orang sejenis dia." Sungguh rasanya ingin dia mati saja, atau melihatnya tak pernah bahagia seumur hidupnya. Tetapi, sejahat itukah aku? Entahlah. Aku hanya benci, tak mau mengenal lagi.

Ya Allah, ajari aku untuk ikhlas dan menerima semua dengan lapang dada. Jangan sisakan benci di hati ini. Sekecil apapun. Kumohon. :(

—Hanafm's Diary

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...