Thursday, June 28, 2018

BERCERITA: PENGALAMAN MEMBUAT SURAT KETERANGAN SURAT BEBAS NARKOBA DI BOGOR CEPAT MUDAH & MURAH

BERCERITA
—Berbagi Cerita—

PENGALAMAN MEMBUAT SURAT KETERANGAN BEBAS NARKOBA DI BOGOR
CEPAT, MUDAH, DAN MURAH!

Setelah diterima di perguruan tinggi, aku harus melakukan registrasi dan lapor diri. Dimana salah satu persyaratannya adalah menyertakan Surat Keterangan Bebas Narkoba atau SKBN.  Selain di kantor BNN (Badan Narkotika Nasional), surat ini juga bisa dibuat di rumah sakit atau puskesmas.  

Meski begitu, tidak semua penyedia layanan kesehatan tersebut menerima pembuatan SKBN.
Aku sendiri membuat SKBN di Puskesmas Bogor Tengah yang terletak di Jl. Telepon No. 1, Pabaton, Bogor Tengah. Nah, karena aku tidak tahu daerah Bogor maka aku menggunakan aplikasi Google Maps. Hehe. Lokasinya terletak di seberang toko seragam M260, patokan utamanya adalah SDN Pengadilan 1 dan kantor Telkom. Dari sana kita tinggal masuk sedikit saja.

Aku tiba sekitar jam 9 pagi ketika suasana puskesmas cukup ramai. Meski begitu, pelayanannya cukup cepat dan saat itu aku tidak perlu antre. Biaya yang dikeluarkan juga murah yaitu hanya 75.000 rupiah. Biaya ini hanya untuk membuat SKBN saja, jika ditambah Surat Keterangan Sehat atau yang lainnya tentu akan dikenakan biaya yang berbeda.

Setelah membayar dan mengisi nama, umur, dan alamat di kertas formulir (atau entahlah namanya apa hehe), aku diarahkan ke laboratorium. Di sana aku diberikan botol oleh asisten lab untuk diisikan urine. Pastikan sebelum mengambil urine kamu minum yang banyak ya supaya gak lama di toiletnya. Hehe. Jika sudah, botol yang berisi urine diberikan kembali ke asisten lab.

(Ada sedikit kejadian lucu, nih. Karena aku takut botol urine-nya berbau tidak enak, aku cuci dulu botol bagian luarnya memakai sabun cuci tangan. Sedetik kemudian aku menyadari bahwa itu adalah suatu kesia-siaan yang hakiki. WKWKWK. Mungkin asisten lab dan dokternya bingung kenapa botolnya wangi. HEHEHE.)

Tidak sampai setengah jam, SKBN sudah diberikan oleh dokter dan aku dinyatakan bebas narkoba. Beginilah bentuk SKBN-nya.




Berdasarkan informasi dari beberapa kawan dan blog yang aku baca, SKBN juga dapat dibuat di RS Bhayangkara, RSUD Kota Bogor, dan RSUD Cibinong. Tetapi, harganya lumayan mahal. Yaitu, di atas 250.000 rupiah. Kata temanku, sih, isinya sama saja. Hanya kalau di rumah sakit memakai map yang bagus. Kalau aku, sih, lebih milih yang murah aja. Hehe. Lagipula SKBN hanya berlaku selama tiga bulan.

Oh iya, sebelum ke Puskesmas Bogor Tengah, aku juga sempat pergi ke Puskesmas Ciapus, Puskesmas Pagelaran, dan Puskesmas Pasir Mulya, tetapi ketiga puskesmas tersebut belum menyediakan fasilitas pembuatan SKBN. 

Oke, kira-kira begitulah pengalamanku dalam membuat Surat Keterangan Bebas Narkoba. 

Semoga dapat bermanfaat untuk teman-teman semua. Terima kasih. :)


Friday, June 08, 2018

PROSA: Jatuh Cinta dengan Sahabat?


Jatuh Cinta dengan Sahabat?



Jatuh cinta dengan sahabat itu seperti menata ulang kamar tidur. 
Kita sudah tahu bagaimana bentuknya. Tahu ada benda apa saja di setiap sudut dan sisinya. Tetapi, atas dasar harapan untuk mendapatkan kenyamanan yang lebih lagi, kita mulai menggeser lemari dan tempat tidur, memindahkan boneka, menata buku-buku, dan lain sebagainya.
Persis seperti jatuh cinta dengan sahabat sendiri. 
Kita sudah tahu bagaimana sifat dan karakternya. Hal-hal apa saja yang disukai dan dibencinya. Kita tahu. Tapi atas nama cinta, mau tidak mau harus ada sedikit perubahan.
Dan, ada dua konsekuensi dari perubahan tersebut; semakin nyaman atau kehilangan rasa nyaman.
Namun, jika nyata tak seindah asa, kita tak akan pernah bisa kembali. Meskipun lemari, tempat tidur, boneka dan buku sudah kita pindahkan kembali ke tempat semula. Rasanya pasti berbeda. Tidak akan sama lagi. 
Persis seperti jatuh cinta dengan sahabat sendiri.


—Hanafm



Monday, May 28, 2018

BERCERITA: PENGALAMAN LOLOS SNMPTN 2018 - UNJ


Pengalaman Lolos SNMPTN 2018 - UNJ


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi teman-teman. Aku tidak tahu, sih, ketika kalian membaca tulisan ini saat pagi, siang, sore atau bahkan malam hari, tetapi semoga semangat kita semua selalu sehangat dan secerah mentari pagi. Eeeeeea.

Sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 17 April 2018 pukul 17.00 WIB, hasil SNMPTN telah diumumkan dan alhamdulilahirabbil'alamiin aku termasuk #TimHijau (Ket: warna hijau adalah warna yang muncul apabila lolos SNMPTN).  Aku lolos di pilihan pertama, yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Jakarta. Yeaaaay.





Untuk mensyukuri kebahagiaanku itu, aku ingin menceritakan sedikit pengalamanku lolos SNMPTN 2018, dari mulai persiapan sampai dengan pengumuman. Aku gak akan menjelaskan hal-hal teknis secara detail, karena setiap tahun kebijakan pemerintah bisa saja berbeda. Aku akan sharing pengalamanku aja, karena kata buku SIDU 'experience is the best teacher'. Eh, endorse, hehehe.

Pertama kali aku mendengar istilah SNMPTN itu dari guru Ekonomi sekaligus wali kelasku di kelas 11, Bu Mella Henrani. Namun beliau mengatakan bahwa ketika era beliau SNMPTN itu menggunakan tes tulis juga, hmmm. Selanjutnya baru aku ketahui, kalau SNMPTN tidak lagi menggunakan tes tulis sejak tahun 2013. Beliau memberiku nasihat untuk mulai mempersiapkan diri untuk jalur seleksi rapot dengan terus meningkatkan nilai akademikku. Dari sanalah keinginanku untuk mengikuti SNMPTN tertanam. Aku mulai mencari tahu apa itu SNMPTN? Apa saja persyaratannya? Bagaimana cara mendaftarnya? Dan lain sebagainya. Hmmmmmm

Selain informasi dari guru-guru di sekolah, aku juga tentunya mencari informasi mengenai SNMPTN dari kakak kelas yang lolos di jalur tersebut dan dari internet. Oh iya, aku juga sempat mengikuti seminar online mengenai SNMPTN dan yang menjadi pembicaranya adalah Kak Akbar dari UNJ. Pokoknya dari manapun kalian mendapatkan informasi pastikan kalian mencari informasi dari sumber yang akurat dan terpercaya, ya. Dan jangan menelan mentah-mentah semua informasi, kita juga harus bisa memfilternya, okay?

Satu hal yang baru terpikirkan olehku setelah mencari tahu tentang SNMPTN adalah aku belum menentukan jurusan yang akan aku pilih. Cita-citaku sejak kecil adalah menjadi guru. Namun, ketika kelas 10 aku bercita-cita ingin menjadi guru Bahasa Inggris, di kelas 11 semester 1 aku ingin menjadi Psikolog dan ketika semester 2 aku malah mencintai pelajaran Ekonomi. Pilihan jurusan itupun terus berubah-ubah sampai akhirnya aku menjatuhkan pilihan di Pendidikan Bahasa Indonesia. Jadi, untuk kalian yang berniat masuk kuliah lewat jalur SNMPTN, segera pikirkan pilihan kalian sedini mungkin, yaaaaa.

Sebelum memilih jurusan tentu saja aku melihat minat dan bakatku. Selain itu, aku juga mencari tahu apa saja yang akan dipelajari nanti di jurusan tersebut, suka-dukanya, peluang kerja, passing grade, skor nasional (pg&skornas untuk SBMPTN), bayangan minimal rerata rapot, daya tampung, persentase peluang lolos dan seberapa besar kemungkinan mendapatkan jodoh di sana, eh wkwkwk.

Nah, jangan lupa juga untuk mencari tahu dan mencatat tanggal-tanggal penting SNMPTN. Supaya kalian tidak ketinggalannya info. Karena ada beberapa kasus, sekolah harus diingatkan dulu baru mau membantu siswanya. Hmmmm.

Hal pertama dalam proses pendaftaran SNMPTN adalah pengisian dan verifikasi PDSS. Di sekolahku nilai diinput oleh siswa sendiri di lab komputer dan sekolah hanya akan memeriksa. Pastikan nilai kalian terinput seluruhnya dengan benar, karena waktu itu, aku terlewat memasukan nilai Sosiologi. Sumpah, panik banget, dong:(

Hal selanjutnya adalah menunggu pengumuman lolos verifikasi PDSS yang diumumkan pada tanggal 21 Februari 2018. Jika kalian dinyatakan lolos, baru kalian bisa daftar SNMPTN. Waktu itu yang bukain hasil verifikasiku itu temanku camaba IPDN, hehe. Alhamdulillah aku dinyatakannya lolos. Setelah itu, adalah melakukan pendaftaran. Tentunya jika sudah masuk waktunya, ya, hehe.

Aku mendaftar SNMPTN pada tanggal 2 Maret 2018, 4 hari menjelang penutupan SNMPTN. Mepet banget, cuy, hehe. Sekadar saran, usahain  kalian daftar di pertengahan masa pendaftaran karena khawatir jika mendaftar di awal atau di akhir website akan error/hang dikarenakan banyak yang mengakses. Oh iya, jangan lupa pastikan kuota kalian masih banyak, ya, takut aja tiba-tiba pas lagi asyik daftar, eh kuota abis. Aduh! Pasti itu dag dig dug serr banget, deh. Jangan lupa pakai kartu yang kecepatan akses internetnya bagus. Setidaknya selama rentang SNMPTN lah, karena itu berpengaruh terhadap irama jantung kalian, hehe. (Ini serius)

Okey, pilihanku di SNMPTN, diantaranya:

1. Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Negeri Jakarta (dt 18 dengan bayangan rerata rapot >80)

2. Pendidikan Sejarah - Universitas Negeri Jakarta (dt 24 dengan bayangan rerata rapot >79)

3. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Singaperbangsa Karawang (dt 77)

(Ket: dt = daya tampung)

Selain memasukan nilai rapot, aku juga memasukkan sertifikat yang aku dapatkan dari ajang lomba berskala internasional (ASEAN) dan nasional. Sertifikat yang kuinput termasuk ke dalam kategori sastra yang berkaitan dengan jurusan yang kupilih. Meskipun dari ketiganya aku tidak keluar sebagai pemenang utama.

Setelah selesai daftar dan cetak kartu, selanjutnya adalah tegang. Hahaha. Sumpah, ya. Mau dibilang jangan ngarep sama SNMPTN ngarep-ngarep dikit mah pasti ada. Pokoknya di masa-masa itu perbanyak do'a aja, deh. Berdo'a sama Allah, dan juga minta do'a dan ridho sama orang tua, guru, teman dan orang-orang di sekitar kalian. Oiya, di masa-masa ini banyak, lho, yang tiba-tiba minta maaf, berasa lebaran banget, wkwk.

Selama masa irama jantung gak karuan itu aku memang sudah mempersiapkan SBMPTN, dengan mengikuti try out dan membeli buku SBMPTN. Karena katanya SNMPTN itu jalur PHP. Tidak boleh berharap banyak, nanti kalau kecewa sakit. Gak ada obatnya. :(

Hingga tibalah di tanggal 17 April 2018, yaitu masa pengumuman hasil SNMPTN. Duh, rasanya teu pararuguh jiwa parah, deuh (keluar kan bahasa Jermannya). Mana pengumumannya jam 5 sore lagi. Jam-jam di rumah lagi menikmati senja sambil ngahuleung (melamun). Bahkan aku sampe ngungsi ke rumah sodara, lho, buat main sama sepupuku yang masih kecil supaya rasa deg-degannya berkurang (padahal gak ngaruh).

Ketika jam 5 sore, aku sengaja gak langsung buka. Sampai tiba-tiba ada temanku yang chat aku di whatsapp. Dia nanya aku udah cek SNMPTN belum? Aku jawab belum. Terus dia cerita, dia gak lolos. Sedih katanya. Aku cuma bisa semangatin aja, bilang masih ada SBMPTN. Selaw. Padahal aku sendiri belum berani buka:( bahkan beberapa teman udah menawarkan buat ngebukain hasilnya, tapi sumpah kutakut!:( Akhirnya dibukain lah sama temanku seorang pejuang SNMPTN 2017 yang gagal tapi akhirnya lolos USMI IPB (siapa coba? tebak weh!)

Dia bilang aku lolos! I don't believe it! Bukannya makasih aku malah marah-marah. Karena sumpah kalau bercanda ini gak lucu banget! Aku gak akan mau ngomong sama dia seumur hidup! Ketika dia kirim screenshotnya juga aku masih gak percaya, sampai dia telepon sumpah-sumpahan juga aku tetep gak percaya. Walaupun ketika itu aku udah loncat-loncat girang, sih. Wkwkwk.

Sampai akhirnya aku pulang ke rumah dan cek sendiri, dan ternyata bener. Ya allah, alhamdulilahirabbil'alamiin. Senja kali ini memang berbeda, senja kali ini begitu istimewa. Aku langsung bilang ke Ibuku dan memeluknya, selanjutnya adalah air mata. Terima kasih ya Allah, rencanamu sungguh luar biasa!

Meski aku didera kebahagiaan yang luar biasa, terbesit rasa sedih karena teman-teman seperjuanganku ada yang tidak lolos. Aku cuma menyemangati mereka. Walaupun kutahu itu tak berarti banyak. Kecewa itu boleh, bangkit itu harus!


Buat yang mau tanya lebih lengkap mengenai pengalaman SNMPTN-ku boleh, lho, menghubungiku langsung via dm instagram (hanafrhani) dan jangan lupa follow. Yah, promosi, hehe.

Nah, kira-kira begitulah pengalamanku lolos SNMPTN 2018. Yang baik silakan tiru, yang jelek silakan jadikan pelajaran. Memang benar jangan terlalu berharap dengan SNMPTN, tetapi kalian tetap harus untuk memaksimalkan peluang di SNMPTN.

Semoga apa yang kutulis bisa bermanfaat, dan semoga kamu bisa jadi #TimHijau selanjutnya! Aamiin.

Terima kasih sudah baca tulisanku yang panjang ini. Nantikan tulisan-tulisanku selanjutnya! 

Sekian.



Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
x

Monday, April 23, 2018

BERBAGI CERITA: CURAHAN HATI PENGGUNA OJOL

Hallo! Selamat pagi! Aku tidak tahu, sih, kalian membaca tulisan ini ketika pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Tapi, semoga saja semangat kalian selalu secerah dan sehangat matahari pagi. 😊

Buat kita-kita yang gak bisa mengendarai motor (dan jomblo) pasti sering banget kan memanfaatkan mode transportasi modern ini? Tentu banyak pengalaman yang kita dapatkan bersama babang ojek online (ojol), meskipun kebersamaan yang tercipta tak terhitung lama. Asik, hehe.

Oke, kali ini aku bakal sharing pengalaman aku naik ojol. Aku ini bisa dibilang cukup sering naik ojol, meskipun tidak rutin. Selain harganya terjangkau dan banyak promo, naik ojol juga lebih praktis untuk pergi ke tempat yang jaraknya cukup jauh dibanding menggunakan transportasi angkutan kota (angkot) yang harus turun-naik beberapa kali. Tapi, kalau untuk jarak dekat, aku saranin lebih baik naik angkot, sih. Pokoknya kita harus mampu jadi pengguna jasa angkutan umum yang bijak, deh. (Paham kan?)

Buat teman-teman yang sering menggunakan ojol pasti punya pengalaman uniknya masing-masing. Dari mulai abang ojolnya curhat, kepo, diem sepanjang perjalanan, nasihatin, jutek, ngebut, bahkan modus semuanya udah pernah aku rasain. Cuma kemarin (23/04) ada sedikit yang berbeda, nih.

Jadi, kemarin itu aku habis ada acara di salah satu institut negeri di kotaku, nah aku order ojol kan. Btw, ini adalah untuk pertama kalinya aku order pake aplikasi ini karena tergiur sama promo buat pengguna baru, hehe. Aku order itu mendekati waktu maghrib. Akhirnya dapet juga abang ojolnya, tapi aku chat gak dibales-bales. Yaudahlah aku sabar nunggu, sambil aku spam chat juga. 15 menit, masih gak ada balasan juga. Tapi, di hape-ku tertera kalau abang ojolnya sedang dalam perjalanan. Yaudah deh, aku positive thinking, mungkin lagi on the way. Aku tunggu sampai azan maghrib, tapi abangnya masih belum bales juga. Kan kesel:( di sekitar aku juga banyak abang ojol. Aku tunggu sekitar 5 menit lagi, deh. Dan, hasilnya masih sama........ Abangnya masih gak ngabarin sama sekali:)))) Ya ampun, agak kesel sih. Jujur aja, aku gak biasa ada di jalanan maghrib-maghrib gini. Yaudah deh, aku cancel orderan aku terus coba order lagi masih pake aplikasi yang sama. Alhamdulillah langsung dapet, abangnya juga ternyata gak jauh dari lokasi aku, dan yang terpenting dia ngasih aku kabar dengan ngebales chat aku. Sekitar 5 menit kemudian, sampailah dia. Dan aku naik ke motornya. Lega, deh.

Nah, di tengah perjalanan, tiba-tiba turun hujan. Awalnya kecil, tapi makin lama makin deras. Duh. Abangnya nawarin aku pake jas hujan, tapi aku gak mau. Akhirnya abangnya izin buat dia pake jas hujan dulu, sambil nawarin aku lagi buat pake jas hujan, tapi aku gak mau. Ribet soalnya hehe(: Dan akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan. Duh, hujannya makin deras ternyata. Aku kuyup banget. May, karena abangnya kasian sama aku, dia neduh dulu, deh. Aku agak takut sebenarnya, maghrib-maghrib gini ada di luar sama orang asing. Walaupun abangnya ini gak keliatan ada modus sama sekali. Baik banget.

Akhirnya aku tanya, “Baiknya gimana, Pak?” 
“Terserah mbaknya aja, tapi kalau mau lanjut pake jas hujan.” Kata Abang ojolnya. Yaudahlah karena aku gak enak Abangnya kelamaan, aku mau.

Sebenarnya abangnya gak terlalu tua sih, masih kaya pemuda gitu, cuma aku manggilnya Bapak aja biar sopan dan jaga-jaga supaya doi gak ada modus. Hehehehe

Tapi tau gak sih apa yang nyebelin setelahnya? Ketika aku pakai jas hujan, tiba-tiba aja hujannya mengecil kemudian berhenti. Huft.

Setelah itu, aku minta diturunin di depan gang rumahku, aku udah sempat turun padahal. Tapi, kata abangnya gak apa-apa sampe dalem aja karena rumahnya juga katanya searah. Okelah, aku setuju. Si abang ojol yang kusebut bapak itu mengantarkanku hingga ke depan rumah. Terima kasih abang (bapak) Ojol yang baik hati.

Kira-kira begitu ceritanya. Gak penting, sih. Aku lagi pengen sharing aja. Hehehe. Pada intinya, naik ojol itu ya hoki-hokian, sih. Bisa dapet yang abangnya baik atau yang agak kurang menyenangkan. Tapi, selama kita mau bersabar, inshaa allah ada jalan hehe.

Oh iya, aku juga mau ngingetin nih sama temen-temen, misalkan kita dapat pengalaman kaya aku barusan (si abang ojolnya gak kasih kabar atau telat jemput), tolong ya sebisa mungkin jangan curhat di media sosial dengan terang-terangan menyantumkan nama, plat nomor, dan aplikasi ojolnya. Kasian. Kita kan gak tau apa yang lagi terjadi sama si abangnya. Bisa aja dia lagi kena musibah atau ada sesuatu yang mendadak dan lebih penting. Soalnya udah banyak banget abang ojol yang kena suspend gara-gara curhatan penumpang di media sosial. Di era digital ini, segala sesuatu dapat dengan mudah viral. Kecuali, kalau emang abangnya melakukan sesuatu yang tak terpuji (paham ya maksudku), sebaiknya kalian langsung lapor aja ke customer service-nya, deh.

Satu lagi, setelah diantar sampai ke tujuan oleh abang ojol, don't forget to say thanks. Plus, kalau abang ojolnya menurut kalian baik banget, kasih deh uang tip dan bintang lima. Biar abangnya seneng, hehe. Berbagi itu indah, dan rezeki kalian pasti bertambah.

Oke, sekian dulu cerita dari aku.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.
😘😘😘



Wednesday, April 04, 2018

PUISI TENTANG CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA: Kebaikan Pertama, Lalu Jatuh Cinta

Kebaikan Pertama, Lalu Jatuh Cinta 
Hanafm






Aku mengenalmu
Temanku sering bercerita tentangmu

Kau baik, tampan, dan katanya lucu
Jawabku hanya 'oh begitu'.

Sempurna milikmu, kata mereka 
Di benakku, kau biasa

Tidak istimewa, apalagi luar biasa.

Hari itu jenuh!
Kapasitas otakku penuh! 

Tak henti aku mengeluh! 
Bahkan berharap ada seseorang yang membunuh.

Hingga tiba-tiba
Kau yang sering diceritakan mereka tiba

Dan berkata, 'Ini pulpenmu, tadi jatuh! Hati-hati hilang!'


Deg.
Jantung berhenti berdetak

Bumi berhenti berputar
Langit kehilangan warna
Cuma ada kamu di duniaku.


Kau benar tentang pulpenku yang jatu
Dan tak jadi hilang, kau tahu.
Tapi kau tidak tahu tentang hatiku yang juga ikut jatuh 

Dan galauku yang hilang.

Semenjak itu, aku mulai mencintai pulpen yang isinya hanya tinggal separuh itu.




Bogor yang penuh rindu, 30 September 2017. 

Monday, March 12, 2018

CONTOH KUISIONER SOSIOLOGI: Pengaruh Guru terhadap Minat Belajar Siswa/i

KUISIONER SOSIOLOGI

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Hallo! Selamat pagi! Aku tidak tahu, sih, kalian membaca tulisan ini ketika pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Tapi, semoga saja semangat kalian selalu secerah dan sehangat matahari pagi. 😊

Kali ini aku akan membagikan kuisioner yang menjadi tugas dalam ujian praktik Sosiologiku kemarin. Aku menyadari masih banyak kekurangan dalam kuisioner ini, disebabkan karena beberapa hal. (termasuk malas, hehe). Oke, semoga kuisioner ini bisa jadi contoh untuk  teman-teman semua. DON'T COPY, YAP!



**

Disusun oleh: Hana Farhani Maulida 
Untuk keperluan tugas ujian praktik Sosiologi kelas XII IPS. 


Pengaruh Guru dalam Minat Belajar Siswa/i

Karakteristik Responden
Nama:
Usia:
Jenis kelamin: L / P
Kelas:
Sekolah:

Petunjuk Pengisian:
-Beri tanda silang pada pilihan Anda untuk pertanyaan pilihan ganda
-Jawab dengan singkat, jelas, dan padat untuk pertanyaan uraian
-Dimohon untuk mengisi kuisioner ini secara berurutan, karena setiap pertanyaan dapat berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya.

Pertanyaan:
1. Apakah alasan Anda menyukai sebuah mata pelajaran?
A. Pelajarannya mudah
B. Sesuai minat dan bakat
C. Gurunya menyenangkan
D. Tidak tahu
E. Lainnya (..................................................)

2. Apakah Anda menguasai mata pelajaran yang Anda sukai?
A. Ya
B. Tidak
C. Ragu-ragu
D. Tidak tahu

3.Bagaimana sikap guru mata pelajaran tersebut terhadap Anda?
A. Memberi apresiasi
B. Baik
C. Biasa saja
D. Acuh

4. Respon seperti apa yang Anda harapkan dari guru tersebut?
Jawaban : ........................................................

5. Apakah menurut Anda metode mengajar guru mata pelajaran tersebut sudah tepat?
A. Ya
B. Tidak
C. Ragu-ragu
D. Tidak tahu

6. Apa alasan Anda tidak menyukai sebuah mata pelajaran?
A. Pelajarannya sulit
B. Tidak sesuai minat
C. Gurunya menyebalkan
C. Tidak tahu
E. Lainnya (....................................................)

7. Apakah Anda mampu mengikuti mata pelajaran tersebut?
A. Ya
B. Tidak
C. Ragu-ragu
D. Tidak tahu

8. Bagaimana sikap guru mata pelajaran tersebut terhadap Anda?
A. Memberi perhatian lebih
B. Baik
C. Biasa saja
D. Tidak peduli

9. Respon seperti apa yang Anda harapkan dari guru mata pelajaran tersebut?
Jawaban : ....................................................

10. Apakah menurut Anda metode mengajar guru mata pelajaran tersebut sudah tepat?
A. Ya
B. Tidak
C. Ragu-ragu
D. Tidak tahu

11. Metode mengajar seperti apa yang Anda harapkan dari guru Anda untuk meningkatkan minat belajar Anda?
Jawaban : ..........................................................

Terima kasih telah mengisi kuisioner ini dengan jujur
Sukses selalu untuk kita semua

**


Terima kasih sudah membaca. Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kekurangan. Aku masih dalam tahap belajar. Kritik dan saran dari teman-teman semua sangat aku harapkan, lho! Ditunggu, ya, di kolom komentar! 
Semoga apa yang kutulis bisa bermanfaat.

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh..... 

Sunday, March 04, 2018

BERBAGI CERITA: Apa yang aku lakukan itu benar?

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh... 

Hallo! Selamat pagi! Aku tidak tahu, sih, kalian membaca tulisan ini ketika pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Tapi, semoga saja semangat kita semua selalu secerah dan sehangat matahari pagi. 😊

Kali ini aku mau sedikit berbagi cerita tentang ilmu yang baru aja aku dapatkan tadi. Jadi, tadi itu aku habis mengikuti kajian Al-Qur'an yang dibimbing oleh Kak Wulan yang bertempat di Masjid Al-Huda, Gunung Batu, Bogor. Walaupun tadi aku datangnya agak sedikit telat, tapi alhamdulillah tetap ada ilmu yang aku dapatkan. 

Jadi teman-teman, sebagai umat muslim, segala sesuatu yang kita lakukan itu harus berdasarkan pada apa yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan Hadist. Maka, kita harus mempercayai dan meyakininya, karena itulah dasar atau pedoman yang paling benar untuk kita semua dalam melakukan suatu apapun di kehidupan ini. 
Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang ternyata tidak mempunyai dasar atau landasan yang jelas, seperti mengerjakan sesuatu karena hawa nafsu, atau sesuai kata orang terdahulu, bahkan mengikuti apa yang dikatakan temanku. 

Tentu saja kita boleh menerima nasihat atau perkataan yang disampaikan orangtua, teman, atau siapapun, karena memang semua orang di dunia ini bisa saja memberikan kita ilmu, bahkan anak kecil sekalipun. Tetapi, jangan ditelan mentah-mentah semuanya, ya. Kita juga harus mampu menyaring semua itu dan menyesuaikan dengan apa yang telah jelas tertera di dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadist. Kita ini kan sudah Allah berikan pedoman, masak kita tidak mau menggunakannya? Duh, betapa ruginya kita jika seperti itu. 

Oke, teman-teman, sepertinya hanya itu yang bisa aku bagikan sekarang. Aku tidak berniat untuk menggurui, aku hanya ingin berbagi saja. Jika ada kritik dan saran, atau terdapat kesalahan dalam tulisanku ini, tolong beritahu aku dengan cara yang baik, ya. Boleh kalian sampaikan di kolom komentar atau kirimi aku pesan melalui e-mail (hanafm24@gmail.com). 

Semoga yang sedikit ini bisa menjadi ilmu dan dapat bermanfaat untuk kita semua, ya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. 

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh... 

Friday, March 02, 2018

NASKAH: TERSESAT karya Hanafm

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Hallo! Selamat pagi! Aku tidak tahu, sih, kalian membaca tulisan ini ketika pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Tapi, semoga saja semangat kalian selalu secerah dan sehangat matahari pagi. 😊

Kali ini aku akan membagikan naskah teater karyaku sendiri. Naskah dengan judul "TERSESAT" ini mulanya diperuntukkan untuk ujian praktik kelas 12 IPS 1 di SMAN 1 Ciomas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Sejarah.

Dengan begitu banyak tekanan dan aroma kopi, akhirnya aku bisa menyelesaikan naskah ini dalam beberapa hari saja. Suatu pencapaian tersendiri, sih, untukku yang masih awam dalam dunia literasi. 

Oh ya, aku akan senang sekali, lho, jika ada di antara teman-teman yang menggunakan naskahku untuk pementasan teater kalian. Jika betulan ada, tolong beritahu aku, ya! Cukup dm ke instagram (hanafrhani)  atau email (hanafm24@gmail.com)  Hehe. (ngarep banget, dah!) 

Okey, langsung saja, ya... 
Ini dia!!!




**


TERSESAT
Hanafm



Pemain :
1. Maira / May
2. Karang
3. Ibu
4. Bapak
5. Hanif / Kakak Maira
6. Guru
7.  Pretty / Teman Maira I
8. Rani / Teman Maira II
9. Juki / Teman Maira III
10. Teman Maira (lebih dari satu)
11. Pemimpin Perusahaan
12. Asisten Pemimpin Perusahan
13. Koordinator Demo
14. Demonstran (lebih dari lima orang)
15. Satpam
16. Teman Karang

ADEGAN 1
Terik matahari seakan membakar tubuh, memancing peluh untuk jatuh, meski tetap tak mampu menyurutkan semangat para buruh PT. Unibaper yang sedang berdemo di depan kantor pusat, mereka menuntut keadilan atas hak mereka. Sudah dua tahun gaji mereka tidak dinaikkan. Mereka ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan untuk menyuarakan keresahan mereka selama ini. Mereka berteriak kesakitan karena menahan panas, haus, dan lapar, serta penderitaan yang tiada berujung. 
(koordinator demo berorasi dengan berapi-api, diikuti para buruh) 
NAIKKAN UPAH KAMI! 
NAIKKAN GAJI KAMI!
BERIKAN BURUH KESEJAHTERAAN!
APARAT KEAMANAN : Harap tenang semuanya!
KOORDINATOR DEMO : Kami tidak tenang sampai kami bertemu dengan direktur, BETUL!!?
PARA BURUH : BETUL!! (meninju tangannya ke udara)
KOORDINATOR DEMO: Peringatan!!!
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa.
kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan! (Wiji Thukul, 1986) 
PARA BURUH: LAWAN!!! LAWAN!!!

Setelah mereka berorasi menyuarakan tuntutan, keluarlah dua orang berpakaian rapi dan necis, yaitu pemimpin perusahaan bersama asistennya. Pemimpin perusahaan tersebut langsung naik ke atas mimbar dan asistennya berdiri tepat disampingnya. Aparat keamanan menertibkan kembali. Meminta semua untuk tenang.
ASISTEN : Silakan katakan keinginan kalian!
KOORDINATOR : Kami ingin gaji kami dinaikkan. Kesejahteraan buruh ditingkatkan. SETUJU!!?
BURUH : SETUJU!!!
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Baik, permintaan kalian akan saya penuhi. Saya janji! Sekarang kalian pulang, dan besok silakan bekerja lagi. (Para buruh bersorak, HUUUU)
KOORDINATOR : Bagaimana kami bisa percaya dengan Anda?
Pemimpin Perusahaan : Saya telah berjanji! Dan janji kami orang-orang BARAT tidak seperti janji pemimpin-pemimpin kalian.
(Pemimpin perusahaan itu turun dari mimbar, disusul asistennya. Koordinator demo membubarkan para buruh.)


ADEGAN 2
Pemimpin perusahaan berkewarganegaraan asing itu masuk ke ruang kerjanya yang bersih, rapi, dan dingin. Berbanding berjuta kali lipat dengan suasana di luar tadi.
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Oh my God, mereka membuat saya pusing! Dasar rakyat-rakyat jelata menjijikan! (sambil merebahkan tubuhnya di kursi)
ASISTEN : Apakah Anda benar akan memenuhi permintaan mereka?
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Apa yang kau bicarakan? Saya tidak akan melakukannya!
ASISTEN : Tapi, bukankah...
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Shut Up! Kau tidak dibayar untuk menceramahi saya! (berdiri) Lagipula, untuk apa saya menunaikan janji kepada mereka? Toh, digaji kecil atau besar mereka akan tetap bekerja untuk saya. Jika bukan karena saya darimana mereka akan makan? Meminta kepada pemimpin mereka? pemimpin mereka saja masih berhutang banyak kepada negara saya! (dengan wajah melecehkan) 
ASISTEN: Saya mengerti, tapi apa Anda tidak sedikitpun iba pada mereka? 
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Oh, ya, ya... Saya paham, kau membela mereka karena kau juga bagian dari mereka. Kau ingin naik gaji juga, kan? (Asisten nyengir, sambil menggaruk-garuk kepalanya) 
Dasar serakah! Gajimu itu sudah besar! Berpuluh-puluh kali lipat besarnya dibanding mereka! Apa lagi yang kurang? (diam sejenak) Tetapi, baiklah. Kau sudah berkorban banyak untuk saya, saya akan memberimu bonus dan menaikkan gajimu. Tapi, kau harus bisa memastikan proyek pembebasan lahan di Kampung Derita itu segera diselesaikan. Saya sudah tak sabar ingin mengembangkan kerajaan bisnisku! 
ASISTEN : Saya akan melakukan yang terbaik untuk Anda dan kemajuan perusahaaan ini.


ADEGAN 3
Di sebuah rumah kecil yang berada di gang sempit di sudut Ibu kota, terdapat seorang Ibu dan anaknya yang tengah menikmati santap makan malam dengan hening. Hingga datanglah Bapak dengan wajah kelelahan dan langsung duduk di meja makan. 
MAIRA : Bapak tadi demo? Tadi May liat di tv ( Bapak mengangguk )
IBU : Bapak lu udah demo berkali-kali tetep aje gajinye segitu-gitu bae, kagak naek-naek! Sembako aja sekarang udah pade naek. Kalau gak dibantu sama Ibu mana bisa lu makan enak tiap hari.
BAPAK : Baru pulang dimarahin, ngajak berantem? 
MAIRA : Udah Pak, Bu, udah!
BAPAK : May, lu kalau udah jadi istri harus doain suami, supaya sukses, dapet banyak duit. Bukan ngeluh aja saban hari kerjaannya. Toh, gaji laki lu buat lu -lu juga! 
IBU : Ah, pokoknya nih, May! Elu kalau nikah cari laki yang kaya dah, yang kerjanye rapi pake dasi pake seragam.
BAPAK : Tukang sampah juga pake seragam!
(Anak pertama mereka, Hanif yang baru pulang bekerja masuk.)
HANIF : Assalamualaykum... ada apa sih ini? (salam kepada Bapak, Ibu, dan Maira)
IBU : Wa'alaykumsalam... nah, udah balik lu, Nif, makan dulu dah sini! (Hanif duduk)
         Makan yang banyak, ya! (sambil mengambilkan makanan untuk anaknya)
BAPAK : Anak yang udah ngehasilin duit aja lu perhatiin. Gua laki lu sendiri kaga pernah! Noh liat si May dari tadi melongo! (menunjuk Maira) 
IBU : O iya, May, lu sekarang kelas 3 kan, ya? Entar lu kerja aja di kantor abang lu! Cari dah bos Abang lu yang tajir, biar lu dinikahin!
HANIF : Ibu, May kan mau kuliah. Ya kan, May? (Maira bergeming)
IBU : Enggak usah, deh. Ibu udah gak sanggup lagi ngebiayain si May, pas elu aja Ibu udah engap-engapan!
HANIF : Tenang, Bu. Di kantor Hanif ada beasiswa, May bisa daftar. May kan pinter. Tenang aja nanti sama Abang diusahain. Kamu mau kan, May? (Maira tetap bergeming)
IBU : Kalau gitu, Ibu setuju aja! Asal kagak ngeberatin Ibu lagi, Ibu udah tua! Ibu capek! Bapak elu mana pernah mikirin sekolah lu pada? Buat makan aja semuanya serba ngepas. Kalau bukan karena Ibu...
BAPAK : Ya Allah, elu jadi bini gak ada bersyukurnya, ya. Kerjaannya ngejelekin laki di depan anak sendiri. Gua ini kepala rumah tangga. Lu itu harusnya ngehargain gua. Capek gua lama-lama di sini. Kagak pernah ada harganya di mata elu. Kagak ngerti lagi, dah! Gak sama anak, gak sama tetangga, kerjaannya ngomongin kejelekan laki mulu, lu, ya.
IBU : Kalau elu jadi laki, jadi bapak, punya kerjaan enak juga gua gak akan ngeluh lagi. Gua bisa enak ngurus anak, dandan, arisan. Elu gak bisa ngasih hidup enak buat gua berani-beraninya marahin gua!
BAPAK : Ah, terserah! (memukul meja, keluar)
IBU : (sambil membereskan piring) Udah, biarin aja. Bapak kalian emang biasanya begitu. Nanti juga balik lagi ke sini. Paling jauh ke pos ronda, main catur, main gaple, ngopi ama pengangguran. Awas aja tuh orang judi, udah duit sedikit, terus dia pake judi. Kaga gua kasih kamar lagi. (masuk ke dapur membawa piring)
(Maira dan Hanif menghela nafas. Mereka sudah terlalu biasa mendengar pertengkaran kedua orangtua mereka)
HANIF : Gimana, May? Kamu mau?
MAIRA : Gak tau, Bang.
HANIF : Nih, May, abang kasih tau! Kalau kamu kerja Cuma pake ijazah SMA, paling-paling kamu jadi SPG, atau kerja jadi buruh kaya Bapak. Gajinya kecil. Gak dihargai sama orang. Kalau kamu pegang ijazah S1, kamu bakal dapet kerjaan enak! Kantornya pake AC!  Gajinya gede! Apalagi kalau kamu dapet beasiswa di kantor Abang, kamu bisa langsung kerja. Enak, kan?
MAIRA : Gak tau, Bang.
HANIF : Kamu ini setiap ditanya jawabannya diem, sekalinya jawab cuma gak tau gak tau aja. Jadi kamu tuh mau ngapain abis lulus? NIKAH? (dengan nada cukup tinggi) 
MAIRA : May Cuma aneh aja, Bang. Bapak kerja jadi buruh di pabrik punya asing. Abang, nyuruh May kuliah dan kerja di perusahaan punya asing. Bahkan Ibu lebih parah! Malah nyuruh May nikah sama bos kaya. May gak paham, Bang.
HANIF : Ibu seperti itu karena Ibu Cuma lulusan SD, dan Bapak bekerja jadi buruh juga karena Bapak cuma tamat SMP. Liat abang! Abang S1, kerjanya enak! Gajinya lumayan! Walaupun gaji abang lebih banyak buat bayar hutang Ibu sama Bapak. Yang penting kehidupan Abang udah terjamin.
MAIRA : Bukannya Abang cuma pegawai kontrak? Apanya yang terjamin kalau cuma pegawai kontrak? (diam cukup lama)
HANIF : Maksud kamu apa, May? (berdiri) 
MAIRA : May cuma gak paham, Bang. Kenapa Abang gak kerja aja di perusahaan punya negera kita aja? Kan banyak juga.
HANIF : Perusahaan-perusahaan punya negara kita lebih suka pakai tenaga kerja asing yang sudah professional. Mereka tidak percaya dengan saudara mereka sendiri. Menurut mereka, apapun yang dikeluarkan asing itu lebih unggul, lebih hebat! Kalau Abang maksa pengen kerja di perusahaan punya negeri kita sendiri, mungkin sampai sekarang Abang masih nganggur. Cuma nambah-nambah beban Ibu sama Bapak!
MAIRA : Kenapa seperti itu, ya, bang? Kita  seperti jadi budak orang asing di negeri sendiri. dan negeri sendiri, malah mengeluh-eluhkan, memuja-muja produk asing? 
HANIF : Seperti itulah, May. Realitas negeri ini kejam sekali. kalau kita mau terus menerus idealis yang ada perut kita semakin kritis. Susah terus menerus. Sekarang, kita realistis saja! Yang penting perut kenyang dan hati senang. Hal-hal lain biar yang berkepentingan saja yang memikirkan. Itu bukan urusan kita! Toh, mereka juga tidak pernah memikirkan nasib kita. (Maira diam) Sekarang, kamu pikirkan baik-baik tawaran Abang!


ADEGAN 4
Pukul 12 siang, matahari berada di puncak suhu terpanasnya hari ini. Suasana kelas 12 IPS 1 ramai-hening. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tertidur, bermain ponsel, dan ngobrol dengan teman-temannya. Rani, salah satu murid sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Sesekali menggaruk kepala.
PRETTY : Lagi ngapain, sih, Ran? Serius amat!
RANI : Ini nih, susah banget! (menunjuk bukunya) 
PRETTY : (merebut buku Rani) Ya ampun, rajin banget sih, Ran! 
RANI : Iya lah, kan aku mau ke Jepang!
JUKI : Ngapain ke Jepang? Mau belajar HEKI HEKI IHCOMIK? (Juki nimbrung) 
RANI : Garing loe! 
PRETTY : Kalau aku sih pengennya ke Amrik , jadi artis hollywood. Nanti acting sama Angelina Jolie, Brad Pitt, duh, gak kebayang! Kalian pasti nanti bangga sama aku. Terus kalian bilang ke semua teman-teman baru kalian ‘Hey, temen SMA gue jadi artis hollywood, lho!’
JUKI : Lu jadi artis, Angelina Jolie sama Brad Pitt juga udah keburu pensiun! (Pretty cemberut)
            Kalau gue pengen jadi presiden aja, ah. Nanti bisa jalan-jalan keluar negeri gratis, haha. (keluar) 
PRETTY : Dasar gak jelas! 
MAIRA : Kenapa, sih, kalian pengen banget keluar negeri?
PRETTY : Luar negeri itu keren, May. Apalagi Amrik, semua dari mereka itu keren, pokoknya!
RANI : Iya, May! Kalau aku sih paling suka Jepang! 
            Jepang itu terkenal dengan budaya disiplinnya yang kuat. Orang-orang di sana itu lebih banyak bekerja daripada bicara. Gak kayak orang-orang Indonesia. Kerja nyata gak ada, tapi mulut sudah berkoar-koar kemana-mana. 
PRETTY : Iya, May! Artis luar negeri juga lebih keren dari pada di sini! Mereka itu professional, aktingnya keren. Gak kaya di sini! Artis-artis populernya bukan karena karya, tapi gara-gara gossip. Selebay-lebaynya gue, gue gak mau tuh populer karena hal kaya gitu! Gak berkelas banget, deh!
RANI : Kalau kamu mau apa May abis lulus? (Maira bergeming)
PRETTY : Jangan bilang mau nikah? HAHAHA
Dan ketika Maira dan teman-temannya sedang asyik ngobrol. Tiba-tiba...
JUKI : Woy, ngopi ngapa ngopi! Diem-diem bae! (sekelas tertawa, tetapi tiba-tiba guru masuk, memukul meja dengan barang saktinya. Juki dan yang lain kaget.)
            Eh Ibu, ngopi gak, Bu? Hehe (lalu beranjak ke kursinya)
GURU : (menggelengkan kepala) Kalian ini, sudah bel daritadi guru bukannya dipanggil malah dicuekin aja. Malah bercanda-bercanda gak jelas kaya gini, sudah kelas 12 tapi masih belum ada serius-seriusnya. Mau jadi apa kalian nanti?
JUKI : Presiden, Bu. Tapi gak pake janji. Gak pake korupsi juga, tapi...kalau korupsi inget lagi omongan pertama saya, gak pake janji. Hahaha. (teman-temannya bersorak,HUUUU)
GURU : Kamu ini, Juk. Ibu ini serius, lho! Masa depan kalian kelak, ditentukan oleh apa yang kalian rencanakan dan lakukan hari ini. Jadi, kalian ini harus sudah serius merancang masa depan. (Murid-murid mulai menguap, bosan diceramahi)


ADEGAN 5
Karang, kekasih Maira, seperti biasa mengantar Maira pulang. Dan sebelum pulang, mereka selalu duduk sebentar di taman yang terletak tak jauh dari sekolah mereka. Membicarakan banyak hal. 
KARANG : Hey, kamu kenapa? Dari tadi aku liat bengong aja! (Maira menggeleng)
        Cerita aja kalau ada apa-apa!
MAIRA : Aku hanya bingung, Karang. Mau apa setelah lulus SMA nanti?
KARANG : Memangnya kamu tidak ingin kuliah?
MAIRA : Aku tidak tahu, Karang. Aku bingung. Kalau kamu mau apa?
KARANG : Entahlah, aku lebih bingung. Mungkin aku akan menikahimu.
MAIRA : Karang, ayolah. Aku serius kali ini! (merajuk) 
KARANG : Aku tidak tahu, Maira. Aku sama bingungnya denganmu. Walaupun aku tidak tahu pasti apa yang membuatmu bingung. Kamu bahkan tidak mau berbagi cerita denganku? (Maira merajuk)
         Baiklah, wanitaku. Setelah lulus  nanti mungkin aku akan berkelana. Menjelajah hutan, mengarungi samudera, mendaki gunung, melewati gurun, atau apapun. Aku ingin menjadi manusia yang bebas. Manusia yang bisa melakukan hal-hal baik dengan tulus. Tanpa perintah atau imbalan. 
MAIRA : Aku tidak mengerti, Karang.
KARANG : Aku juga sama tidak mengertinya denganmu. Sudahlah Maira, jangan pikirkan hal ini berlebihan. Aku yakin kamu pasti tahu apa yang terbaik untukmu. Dan semua yang kaupilih kupercaya itu pasti yang terbaik. Sama ketika kamu memilihku. Aku ini yang terbaik bukan? Ayo kita pulang, senja mulai beranjak datang.
(Karang menarik tangan Maira. Dan, ketika itu Maira membalas tarikan tangan Karang)
MAIRA : Karang, aku benci dengan kenyataan ini.
    Aku bingung. Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu mengapa Ayahku memilih bekerja menjadi buruh di pabrik milik negara yang pernah menjajah negeri kita beratus-ratus tahun lamanya. Negara yang telah menanamkan mental budak kepada seluruh rakyat negeri ini. Aku tidak mengerti.
   Aku juga tidak paham mengapa Kakakku malah menyuruhku bekerja untuk orang-orang bermata sipit itu. Mereka itu kan pendatang? Tapi mengapa sekarang justru aku, justru rakyat di negeri ini yang harus bekerja untuk mereka? Pasar semuanya dikuasai oleh mereka. dan rakyat di negeri ini hanya menjadi budak, pesuruh, penggerak mimpi-mimpi mereka untuk memiliki bumi pertiwi ini?
   Dan Karang, apa kau tahu? Ibuku... Ibuku bahkan menyuruhku untuk mengabdikan hidupku untuk orang asing. Memenuhi ambisi-ambisi mereka. Memuaskan nafsu-nafsu mereka. Karang, aku tidak ingin. Aku tidak ingin...
KARANG : Maira, bukan salah mereka. Bukan salah penjajah yang telah menanamkan mental budak kepada negeri ini. Bukan. Bukan juga salah para pendatang yang tiba-tiba berubah menjadi tuan rumah, lalu bermetamorfosis menjadi penjajah masa kini. Bukan, Maira. Ini bukan salah mereka.
         Aku benci mengatakannya. Tapi sejatinya ini adalah salah kita sendiri. Sebelum mereka semua memperbudak kita, kita telah diperbudak oleh kemalasan dan kebodohan. Kita hanya mau bekerja jika ada perintah dan upah. Kita tak jauh berbeda dengan singa laut, siap melewati lingkaran api demi ikan. Kita tak ubahnya binatang, Maira.
                 Dan, mereka yang berhasil merdeka dari kemalasan dan kebodohan itu malah terperangkap dalam jaring kerakusan. Hanya berpikir untuk mengenyangkan perut mereka sendiri. Haus akan kekuasaan. Rela menggadai tanah mereka sendiri demi perut. Percayalah, Maira, negeri ini tidak pernah kekurangan orang-orang cerdas. Negeri ini hanya kehilangan orang-orang yang mencintainya dengan tulus. 
         Lalu,kemana orang-orang baik? Kemana orang-orang itu? Orang-orang baik tetap ada, Maira. Mereka masih tersisa. Meski jumlahnya mungkin dapat dihitung. Namun sayang, mereka memutuskan tidak peduli. Mereka memilih hidup bahagia sendirian. Tak peduli yang lain, yang penting aku, keluargaku, dan kekasihku semuanya hidup dengan baik. Begitu pikiran mereka, Maira.
MAIRA : Apa yang dapat kita lakukan, Karang?
KARANG : Sudahlah, Maira. Jangan terlalu dipikirkan. 
MAIRA : Karang, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku. Hanya kamu yang benar-benar memahami bagaimana diriku. (Karang tersenyum)
KARANG : Aku akan mengantarmu pulang. Ayo, Maira.


ADEGAN 6
Hari ini pengumuman kelulusan siswa/i kelas 12 SMAN 1 Bakti Negeri. Semua menari sambil bernyanyi setelah mendengar kabar kelulusan itu. Waktu berlalu begitu cepat, perpisahan terjadi begitu nyata. Kemudian,  ketika hari ini kita menengok ke belakang, kita perlahan menyadari bahwa tiga tahun benar-benar berlalu tanpa terasa.
RANI : Wih, lulusan terbaik! Selamat, ya, Maira.
PRETTY : Keren banget, May. Kalau aku, bisa lulus aja udah alhamdulillah. He he. (Rani dan Pretty memeluk Maira) 
MAIRA : Terima kasih, ya. Oh iya, kamu jadi kuliah di Jepang, Ran? ( Rani menggeleng )
                Kenapa?
RANI : Biaya hidup di sana mahal banget, orang tuaku gak mampu. Beasiswa yang aku dapat gak menanggung biaya hidup.
MAIRA : Kamu gimana, Pret? Jadi ke Amrik?
PRETTY : Jadi kok. Tapi gak sekarang! Aku harus kerja dulu, mungkin sambil ikut casting di Indonesa. Setelah itu baru aku go internasional.
                  Kalau kamu gimana, May?
RANI : Iya kamu gak pernah cerita sama kami.
MAIRA : Aku akan menikah dengan Karang! (Maira berbisik membuat kedua temannya itu kaget setengah mati.) 
PRETTY : Omongan aku waktu itu gak serius, May. Jangan diambil hati.
MAIRA : Aku serius. Eh, kalian ada yang melihat Karang tidak? (Kedua temannya menggeleng)


ADEGAN 7
Maira pulang ke rumah. Hendak memberi tahu kabar menyenangkan itu kepada seluruh keluarganya. Meskipun terselip sedikit ketakutan di hatinya. 
MAIRA : Assalamu'alaykum
HANIF : Wa'alaykumsalam. Selamat, ya, Adik Abang akhirnya lulus! Besok, kita urus pendaftaran beasiswa di kantor Abang, ya.
MAIRA : Gak mau, Bang.
HANIF : Loh, kenapa gak mau?
MAIRA : Maira mau menikah saja. 
HANIF : Apa maksudmu
MAIRA : Ya, iya, Bang, Maira ingin menikah.
HANIF : Menikah? Hei berapa usiamu, Maira? Di usia saat ini seharusnya kau belajar, bukan menikah. Mau jadi apa kau kelak?
MAIRA : Maira ingin jadi istri yang baik, jadi Ibu yang baik.
HANIF : Maira kau pikir menikah itu mudah? Pernikahan itu tidak sesederhana yang kaubayangkan. (diam sejenak) IBUU!! IBU!!
(Ibu datang sambil membawa bakul)
IBU : Apa sih ya Allah teriak-teriak, malu sama tetangga.
MAIRA : Bu, Maira ingin menikah.
IBU : Hah? Nikah? Sama siapa? Bos emas  atau bos sembako? Atau jangan-jangan...... 
MAIRA : Maira ingin menikah dengan teman sekolah Maira, Karang.
IBU : Heh, apa maksud lu, May? Piyik sama piyik nikah? Lu pikir nikah itu gampang? Mau makan apa lu entar? Mau dikasih makan apa anak lu entar? Kalau sama si Karang Ibu gak setuju. Kecuali lu nikah sama orang kaya. Bisa, deh, ibu tenang. Gak sia-sia ibu ngegedein lu sampe sekarang. 
HANIF : Sudahlah, pokoknya kamu tidak boleh menikah, Maira. Belum waktunya! Kamu akan mendaftar beasiswa di perusahaan tempat abang kerja. Titik.
MAIRA : Tapi Abang, ini masa depan Maira. Biar Maira sendiri yang menentukan.
HANIF : Menikah di usia sedini ini? Masa depan apa yang kamu maksud?
IBU : Udah, udah, gak usah ribut. Puyeng gue dengernya. Lu turutin aja, deh, mau abang lu. Daripada lu nikah sama orang gak jelas, sama orang yang mentah. (Berlalu, masuk ke dalam rumah)
HANIF : Pokoknya kamu tetap harus kuliah!
MAIRA : Kuliah? Untuk apa kuliah, Abang? Untuk menjadi budak orang lain? Orang-orang asing itu!? Maira tidak ingin. Maira tidak ingin. 
HANIF : Tidak usah terlalu idealis, Maira. Kamu mau terus-terusan hidup susah seperti ini?
MAIRA : Untuk apa hidup senang kalau hanya menjadi duri dalam daging di negeri sendiri? Menjadi pengkhianat negeri sendiri? Menghamba pada kekuasaan asing di negeri sendiri? Tunduk pada kekuatan asing di negeri sendiri? Itukah definisi hidup senang yang Abang maksud? Egois!
(Hanif menampar Maira, lalu Hanif masuk ke dalam rumah) 
MAIRA : Aku harus menemui Karang, Ya, hanya dia yang bisa memahami aku. aku tidak bisa terus menerus tinggal di rumah yang penuh dengan keegoisan dan keserakahan ini! Aku muak!
(Maira pergi dari rumahnya)


ADEGAN 8
Maira mencari Karang kemana-mana, tetapi Ia tak kunjung menemukan sosok laki-laki yang selalu bilang ingin menikahinya itu. Ia mencari di sekolah tidak ada, di tempat teman-temannya juga tidak ada, ia tidak pernah tahu dimana rumah Karang. Namun, setelah bertanya kepada hampir semua teman Karang, Maira tau letak rumah Karang.
Ketika sampai, Maira tidak ragu untuk langsung mengetuk pintu. Memanggil-manggil nama kekasihnya itu. 
MAIRA : Karang, sayangku, keluarlah! 
(Seseorang yang sebaya dengan Maira keluar) 
TEMAN KARANG : Siapa kau? 
MAIRA : Dimana Karang? 
TEMAN KARANG : Kau Maira? (Maira mengangguk) Kau terlambat! Karang sudah pergi. 
MAIRA : Pergi kemana? 
TEMAN KARANG : Bukankah kau tahu? Bukankah Karang sering mengatakannya padamu? Sesering ia menceritakannya kepadaku. Ia ingin menjadi manusia bebas, ia ingin pergi berkelana. Menjelajah hutan, mengarungi samudera, mendaki gunung, melewati gurun, dan entahlah apapun itu. Bukankah kau tahu itu? 
MAIRA : Tapi, bagaimana denganku? Kenapa Karang meninggalkanku?
TEMAN KARANG : Sudahlah, kau pulang saja!
MAIRA : Tidak bisa! Aku tidak mungkin kembali ke rumah yang penuh keegoisan dan keserakahan itu. 
TEMAN KARANG : Hey, kau sebut keluargamu egois? Kau bagian dari keluarga itu. Kau mewarisi  keegoisan itu. 
MAIRA : Apa maksudmu? 
TEMAN KARANG : Kau ingin menikah dengan Karang? Hidup bahagia dengannya? Tak peduli dengan kehidupan yang lain, selama hidupmu bahagia, aman, tentram tanpa merugikan oranglain. Hei, itu sama egoisnya. Kalian memilih hidup bahagia sendirian? 
                                      Kau tahu siapa Karang? Apa kau tahu? Karang adalah anak hasil hubungan gelap ibunya dengan seorang tauke asing itu. Lalu, setelah Karang lahir Ibunya dicampakkan. Maka dari itu, sangat wajar jika Karang membenci orang-orang asing yang datang ke Indonesia. Sedangkan kau? Kau hidup bahagia bersama keluargamu yang mengabdi kepada orang asing itu! Tapi kau masih membenci mereka? KAU TAK TAHU DIRI MAIRA!
                            Pergilah! (Maira hendak pergi) Tunggu sebentar! Karang menitipkan ini untukmu sebelum ia pergi! (menyerahkan selembar surat, lalu masuk ke dalam rumahnya) 
Maira menangis demi  membaca surat yang berisi puisi perpisahan dari kekasihnya itu. Karang telah pergi. Karang memutuskan pergi. Entah akan kembali atau tidak? 
Maira : Tuhan, mengapa begini, Tuhan? (Maira menangis tersedu-sedu)


Epilog
Pada akhirnya,  Maira menuruti keinginan Kakaknya untuk mengambil beasiswa di perusahaaan tempat kakaknya bekerja. Selanjutnya, ia bekerja bahkan mengabdikan diri untuk orang-orang asing itu. Ya, ia menikah dengan atasannya di perusahaan, seorang asisten pemimpin perusahaan yang telah diangkat menjadi pemimpin cabang. Meski sejatinya, ia tak pernah lebih dari seorang budak.
Tak peduli seberapa banyak harta negeri ini yang dicuri. Baginya mereka adalah malaikat karena mereka tidak pernah meninggalkannya. Dan, entah sampai kapan negeri tercinta ini terus kehilangan arah dan tujuan. Entah sampai kapan kita terus menjadi orang-orang yang tersesat, orang-orang yang tidak punya mimpi dan hanya menjadi seonggok daging bernyawa yang menjadi penggerak mimpi orang lain, yang tanpa disadari akan menghancurkan diri bahkan negeri sendiri.




**


Terima kasih sudah membaca. Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kekurangan. Aku masih dalam tahap belajar.  Kritik dan saran dari teman-teman semua sangat aku harapkan, lho! Ditunggu, ya, di kolom komentar.

Semoga apa yang kutulis bisa bermanfaat. Aku cinta padamu.


Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.....

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...