Thursday, March 21, 2019

PENGERTIAN MEMBACA, MEMBACA KRITIS, DAN MEMBACA KREATIF

Hana Farhani Maulida
1 PB 1
Keterampilan Membaca Kritis Kreatif

1. Pengertian Membaca
Membaca adalah suatu proses untuk memperoleh informasi dari suatu bahan tulisan dengan media kata-kata yang menunjukan interaksi tidak langsung antara penulis dan pembaca.

2. Pengertian Membaca menurut Para Ahli

Henry Guntur Tarigan (2008 : 7)
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.

Sabarti Akhdiah 1993: 22
Suatu proses untuk memahami makna tulisan.

Santosa, 2009: 63
Kegiatan memahami bahasa tulisa

Kusnama, 2011: 73
Kegiatan memaknai lambang-lambang bunyi atau lambang ortografis tertulis dalam kegiatan berbahasa,


3. Tujuan Membaca
·         Memperoleh ilmu, gagasan, wawasan, dan pengetahuan baru
·         Mengembangkan pengetahuan dan ilmu yang telah dimiliki
·         Memenuhi asupan kebutuhan otak / akal
·         Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam sendiri maupun dari lingkungan
·         Memperluas wawasan agar dapat berpikiran terbuka
·         Mengaitkan antara satu informasi dengan informasi lainnya

4. Pengertian Membaca Kritis
Kegiatan membaca yang ditempuh dengan cara yang bijak, mendalam, evaluative, serta analisis agar dapat memahami suatu informasi suatu bacaan dengan sebaik-baiknya, bukan sekadar mencari-cari kesalahan isi atau pilihan kata yang terdapat dalam bahan bacaan.

5. Pengertian Membaca Kreatif
Kegiatan membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan baru yang terdapat dalam bahan bacaan dengan cara mengidentifikasi atau mengombinasikan pengetahuan yang sebelumnya telah didapatkan. Membaca kreatif di sini juga memiliki tujuan untuk menciptakan suatu karya tulis atau bahan bacaan baru melalui proses merekayasa teks, misalnya teks puisi direkayasa menjadi sebuah teks novel.



Tuesday, March 05, 2019

Hanafm's Diary: TUGAS PERTAMA KULIAH DI SEMESTER 2

TUGAS PERTAMA KULIAH DI SEMESTER 2:
 yang terlalu terburu-buru


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Selamat pagi, temen-temen... Hari ini aku akan share tugas pertamaku di masa perkuliahan di semester 2 :) Tugas mata kuliah Keterampilan Membaca Kritis Kreatif ini merupakan mata kuliah lanjutan dari "Keterampilan Membaca Teknik" di semester pertama. Di pertemuan pertama, pastilah ya dosen memperkenalkan diri, menjelaskan RPS, memberikan tagihan-tagihan tugas, dll dll. Nah, setelah itu, dosenku memberikan tugas kepada kami untuk menceritakan pengalaman pertama kami menginjakkan kaki pertama kalinya di kampus tercinta, Universitas Negeri Jakarta. Yuhuuu. Namun, cukup disayangkan, waktu yang diberikan itu hanya sekitar 30 menit sebelum jam mata kuliah usai. Bayangkan, guys. Selama satu bulan lebih, jemari ini tidak dipakai untuk menulis cepat, eh tiba-tiba di hari pertama kuliah diharuskan menulis dengan cepat.

Sama seperti yang lainnya, akupun mulai mengerjakan tugas (mau tak mau), meski didera rasa bingung yang luar biasa karena cukup lucu rasanya harus mengulik perasaanku waktu itu. Ah, UNJ. Namun cukup disayangkan, aku belum bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Pokoknya, asal mengumpulkan saja. And I regret for it. Maka dari itu, aku berkeinginan untuk menulis kisahku itu di blog pribadiku. Yeaaaaaay. Selamat membaca :)


Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia: Pilihan yang Terlalu Terburu-buru

Di kelas 12, tentu setiap orang mulai memikirkan untuk menentukan masa depannya, entah pilihan untuk bekerja ataupun melanjutkan pendidikan. Apapun itu pasti setiap dari mereka menginginkan yang terbaik untuk dirinya, dan diriku termasuk ke dalam setiap orang itu. Sejak kelas 10, aku sudah mantap untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, tak peduli apa kendalanya dan bagaimana caranya. Saat itu, aku belum memikirkan apapun, termasuk ke mana aku akan kuliah dan konsentrasi apa yang ingin aku dalami. Aku hanya berusaha untuk membulatkan tekad sedini mungkin. 

Saat duduk di bangku kelas 11, aku mulai meyakinkan diri untuk memilih Pendidikan Ekonomi sebagai jurusan pilihanku, dengan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, sebagai tempatku menuntut ilmu. Akupun semakin rajin belajar dan mulai mencari informasi mengenai mimpiku tersebut. Namun, semakin tahu, semakin aku tak menentu. Langkahku tiba-tiba goyah. Semangatku mendadak hilang arah. Meski begitu, aku tak pernah berhenti berusaha dan berdoa. Segala yang kubisa, tetap kukerahkan semampunya.

Penghujung kelas 12 pun tiba, aku "diharuskan" untuk "benar-benar" memantapkan pilihan. Dengan perasaan yakin dan bismillahirrahmannirrahim, kuputuskan sebuah pilihan yang membuat guru-guruku kaget. Beberapa bahkan menentangku habis-habisan. Ya, karena aku yang dulunya keukeuh untuk mengambil Pendidikan Ekonomi, kini berpindah haluan dengan mengambil Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mayoritas dari mereka yang selama ini mendukungku, kini ada di barisan orang yang mencemooh pilihanku. Mereka berdalih kalau aku bisa lebih dari itu. Tetapi aku percaya, inilah yang terbaik untukku dan akulah yang paling tahu mengenai hal itu. Selain berpindah pilihan program studi, aku juga berpindah pilihan universitas. Atas beberapa pertimbangan yang telah kupikirkan dengan matang.

Pengumuman SNMPTN pun terdengar, derai air mata bahagia maupun kecewa mulai menampakkan rinainya. Mereka menamainya, #TIMHIJAU dan #TIMMERAH, Alhamdulillahirrabbil'alamiin, aku masuk ke daftar #TIMHIJAU yang berbahagia, sebab aku diterima di pilihan pertama. Air mata tak kuasa kubendung. Puji syukur tak henti terhatur. Serta ucapan terima kasih tak lupa kusampaikan pada mereka yang terkasih,

Singkat cerita, masa perkuliahan pun dimulai. Aku mencoba menjalaninya dengan segenap suka cita. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang kurasa kosong, hampa, serta sia-sia. Perasaan cemburu seketika menyergapku. Aku iri pada temanku yang berada di program studi yang selama ini begitu kuingini. Aku terus berpikir, "Seharusnya aku menjadi seorang guru Ekonomi yang mencintai dunia tulis-menulis." Bukan seperti yang kujalani sekarang ini. Akupun mulai menjalani perkuliahan dengan ogah-ogahan. Belajar hanya bila benar-benar terpaksa dan semaunya.

Di pertengahan semester satu, aku mulai mencoba menerima fakta yang harus kujalani. Mungkin rezekiku ada di sini. Aku mulai belajar dengan fokus dan serius, mengesampingkan karakter ambisius. Tak apa. Aku harus bersyukur. Banyak di luar sana lulusan muda yang bahkan tak bisa kuliah, dengan banyak alasan. Dan aku adalah satu di antara banyak dari mereka yang beruntung. Betapa hina diriku jika terus mengeluh di atas semua nikmat yang telah Allah SWT. berikan. 

Sungguh, aku tak perlu menyesal. Sedikitpun tidak perlu. Itu hanya akan membuang waktu berhargaku. Aku hanya dapat memetik pelajaran dari semua kejadian yang menghampiri, bahwasanya, yang tahu sesuatu yang baik atau tidak untuk diri kita,sejatinya bukanlah diri kita, melainkan Allah Subhannahu Wa Ta'ala. :) Aku akan belajar untuk tidak memutuskan sesuatu dengan tergesa-gesa dan aku harus belajar untuk menerima segala yang datang padaku dengan lapang dada, karena hanya itulah yang bisa kulakukan sebagai hamba.

Bismillahirrahmannirrahiim...
Aku akan berkuliah dengan baik,
 mewujudkan semua impianku,
demi mengangkat derajat keluarga, terutama kedua orang tuaku, di dunia dan di akhirat kelak.
Dengan ridho-Mu dan ridho mereka: KUYAKIN BISA!

***


Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca kisahku. Semoga kebahagiaan dan berkah Tuhan selalu menyertai kalian semua.  Doakan aku semoga bisa aktif menulis blog, ya. Sebab niatku ingin menebar manfaat dengan cara yang aku bisa. Mari saling mendoakan, mari saling mengingatkan perihal kebaikan. :)

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...





Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...