KELIRU
Hana Farhani Maulida
“Dia itu Cina!”
Aku terkesiap demi mendengarnya. Dalam hatiku bertanya-tanya, kenapa? Namun ibu tak mau menjelaskan dan lebih memilih menutup pintu kamar. Menangis. Saat itu juga aku diliputi kegamangan luar biasa. Apakah aku harus mengetuk pintu, atau pergi menuju ruang tamu. Aku tidak tahu dan hanya bisa terpaku di bibir pintu. Sementara di dalam kamar, ibu menangis tersedu.
“Bu, tolong jangan begini. Keluarlah!” pintaku sambil mengetuk pintu. Amat berhati-hati. Namun, tak ada jawaban, selain tangis yang semakin menderas.
Setelah diam membisu selama beberapa waktu, aku pergi ke ruang tamu. Menemui kekasih hatiku. Wajahnya amat sendu. Matanya berlinang pilu. Dia pasti mendengar semuanya, dan pastilah itu membuatnya sangat terluka.
Aku semakin tidak mengerti, tentang segalanya, termasuk bagaimana cara menghadapi dua wanita yang sedang terluka, yang mana aku sangat mencintai keduanya.
“Maafkan aku. Aku tidak mengerti.” Dan kalimat bodoh inilah yang terucap dari bibirku kemudian. Ia menatap mataku –masih dengan wajah sendu. Ya Tuhan, tolong hentikan waktu! “Aku akan pulang,” tuturnya parau.
Dan di sinilah kami sekarang, di dalam mobilku yang entah mengapa terasa sempit dan sesak. Aku memandang sang puan yang tengah menikmati ramainya kota, atau entahlah, aku hanya menerka-nerka sesuatu yang kuharap dapat membuatku lega. Padahal jelas kulihat tangisnya tak kunjung mereda. Mendung di parasnya tak kunjung sirna. Sungguh, aku tidak percaya. Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya rona bahagia yang terpancar?
Beberapa jam yang lalu, di tempat yang sama, kami begitu bahagia. Melepas canda yang mengundang tawa. Meski debar gugup di dada tak dipungkiri tetap ada. Sesampainya di rumahku, kesenangan itu masih tak terkira jumlahnya. Ibuku menyambutnya dengan perasaan suka cita. Tetapi, baru lima menit kami duduk di sofa, semua kegembiraan itu lenyap tak tersisa.
Sebagai lelaki, aku tidak ditakdirkan untuk mudah peka. Kami lebih senang bermain logika. Untuk itulah, hingga detik ini, aku masih sibuk menerka-nerka.
Hening menemani kami selama dalam perjalanan.
Sang perempuan enggan berkata, lelakinya bingung harus mengucap apa.
**
“Kapan pacarmu itu dikenalin sama ibu?”
“Sabar, Bu. Nanti aku pasti kenalin sama Ibu.”
“Cepetan dong!” Ibu merajuk genit yang kusambut dengan senyum malu-malu.
Kurasakan ibu sangat gembira. Wajahnya tampak begitu antusias. Wajar saja, ini adalah kali pertama aku menceritakan seorang wanita kepada ibunda. Wanita yang telah kucintai selama setahun belakangan. Wanita pertama yang kucintai setelah dirinya.
Hari itupun tiba, hari di mana aku memperkenalkan kekasih hatiku pada ibu. Keduanya tampak begitu antusias. Ibu memasak hidangan terlezat untuk menjamu calon menantu, dan kekasihku membuat kue yang kubilang kesukaan calon mertuanya. Sebagai wanita, merekapun tak lupa menampilkan yang terbaik. Setelah makanan terhidang di meja, ibu sibuk bersolek. Sementara kekasihku, begitu lama kutunggu, karena sibuk mempercantik diri. Tak tahukah mereka, bahwa mereka sudah begitu sempurna di mataku –dengan ataupun tanpa bedak itu.
Jarak antara sedih dan bahagia sungguh terlalu dekat. Harapanku terlampau segala, hingga kenyataan membawaku pada siksa.
**
Masa melesat begitu cepat. Tidak pernah lebih lambat dari mata yang mengerjap. Aku telah tiba di depan rumahnya.
“Kenapa ibumu sangat membenciku?” tanyanya setelah sekian lama membisu. Ia menunduk lemah.
Tak semua manusia dapat menemukan cintanya. Tak semua pertanyaan ada jawabannya. Aku menemukan cintaku –dirinya , tetapi tak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku belum mampu mencerna semuanya. Tidak bisa menyimpulkan apa-apa.
Apa yang baru saja terjadi seribu kali lebih cepat dibanding kilat, dan sejuta kali lebih menggemparkan dibanding gelegarnya. Mulutku terkunci rapat, yang bisa kulakukan selanjutnya hanyalah menggenggam tangannya erat.
“Tolong, tinggalkan perempuan itu. Kau bisa menikah dengan siapapun, asal tidak dengan mereka.” Aku teringat kalimat yang tadi ibu ucapkan setelah tiba-tiba meninggalkan ruang tamu saat kami tengah bercakap santai. Saat aku bertanya kenapa, ibu malah menjawab dengan jawaban yang membuatku semakin bertanya-tanya.
Aku menatap lekat mata bening kekasihku. Pikiranku pun melayang kepada cerita itu.
Kala itu, aku masih dalam rahim ibu. Beberapa hari kemudian barulah aku bisa merasakan dunia. Namun, dalam ‘beberapa hari’ itu begitu banyak yang terjadi. Beberapa hari itu cukup sudah mengacaukan kebahagiaan keluargaku.
Semua orang marah dan bertindak di luar kewarasan dirinya. Langit biru menjadi kelabu. Hujan turun menjatuhkan abu. Api membara di mana-mana. Asapnya membuat gelap dan pengap. Dan ayah ada di sana. Ketika semua orang berlari menjauh pergi, dengan gagah berani ayah turun ke sana. Mencari berita. Namun, sungguh, jika ayah hanya mencari berita, tentulah ayah tidak akan meregang nyawa. Ayah melakukan lebih dari tugasnya.
Ayah tak tahan dengan kerumunan itu. Hatinya panas melihatnya. Ayah menarik perempuan yang berada dalam kerumunan. Menyelamatkannya. Perempuan itu tampak menyedihkan. Pakaian yang melindungi tubuhnya sudah tak sempurna lagi. Rambutnya berantakan. Wajahnya dipenuhi memar. Entah apa saja yang sudah direnggut darinya. Namun, menyelamatkan perempuan itu tidak semudah yang ia kira. Pepatah ‘kebaikan akan selalu menang’ ketika itu, sangat tidak ada artinya. Ayah tidak bisa menjadi malaikat untuk perempuan itu. Justru malaikat yang datang menjemputnya. Ayah dibunuh. Dibunuh karena kebaikan hatinya.
Aku ingat cerita itu. Aku ingat wajah sendu ibu ketika menceritakannya. Pelan-pelan aku mulai memahami sesuatu.
**
Aku kembali ke rumah, menemui Ibu yang kutahu sangat terluka. Kejadian itu memang sudah ia maafkan. Namun, dendam hanya terpendam, tidak sirna. Aku memeluk ibu yang masih saja terluka. Tak peduli sudah berapa lama, semuanya masih tersimpan rapi di dalam kepala. Teringat dan membekas selamanya.
Ayahmu adalah orang baik, namun menjadi baik harus siap dicabik. Itu yang dulu juga ibu katakan. Ibu benar. Aku tahu itu. Aku sangat mengenal ayahku, seratus persen sama dengan ibu mengenalnya. Aku bercakap dengan ayah melalui cerita-cerita ibu. Aku masih dalam rahimnya kala itu. Tak bisa merasakan kesedihan ibu. Tiada kuasa mengusap air matanya. Kini aku sudah dewasa, lebih dari cukup untuk memahami semuanya.
Memang selama ini kutahu ibu bisa berdamai dengan waktu. Menjalani hidup dengan baik-baik saja. Bahkan berkeseharian dengan mereka, namun untuk menjadikan salah satu dari mereka keluarga, aku mengerti kenapa ibu tak pernah rela.
Saat mengetahui kekasihku ternyata berdarah Tionghoa, masa lalu itu kembali lagi, menyayat hatinya bagai sembilu. Bertahun-tahun ia yakin luka itu telah sirna, namun ternyata dendam itu hanya terpendam, dan melekat selamanya. Tak peduli sampai sejauh ini dia terlihat baik-baik saja.
Sekarang semuanya terang benderang.
**
Senja adalah waktu berpisah untuk hari yang baik ataupun buruk. Entah hari ini hari yang seperti apa, tetapi semoga perpisahan ini menjadi sebuah awal untuk melihat indahnya bintang di langit. Meski aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kekasihku ada di depan mataku, wajahnya masih saja sendu. Aku dilucuti rindu. Hasrat memeluknya begitu menggebu. Namun kali ini tak bisa lagi.
Aku menyampaikan semuanya. Semua hal yang bahkan pernah terlupa olehku.
“Aku turut berduka cita atas ayahmu. Kebaikan hatinya pada kami telah merenggut nyawa sekaligus kebahagiaan keluargamu,” ujarnya sendu. Tumpah ruah air mata tidak kuasa dibendungnya lagi.
“Sungguh, itu bukan salahmu. Kau tak ada sangkut pautnya dalam tragedi itu.” Ya Tuhan, tolong jangan buat kekasihku merasa bersalah. Ini bukan salahnya. Takdir saja yang tak berpihak pada kami. Hatiku semakin tidak terima, haruskah aku meninggalkan perempuan sesuci dirinya?
“Aku tidak sesuci yang kau kira. Aku terlibat. Aku adalah bagian dalam tragedi pilu itu.” Air matanya terhenti, tetapi kini aku yang tidak mengerti, apa maksudnya?
“Aku adalah salah satu anak korban dari tragedi itu, dan perbuatan ayahmu sungguh sedikit banyak menyenangkan hatiku. Bahwa ternyata masih ada yang peduli pada kami saat itu,” pungkasnya sambil tersenyum. Senyum yang begitu teduh. Aku terperanjat tidak percaya. Bagaimana mungkin?
**
Terima kasih telah berkenan membaca. Kritik dan saran sungguh sangat aku harapkan. :)
Salam sastra, salam cinta π
Jadilah temanku!
Ikuti aku di instagram: hanafrhani
Beli buku di @bookstore.fm (ig), ya.
Beli buku di @bookstore.fm (ig), ya.
Surel: hanafm24@gmail.com
No comments:
Post a Comment