Saturday, November 23, 2019

BERCERITA: PENGALAMAN MEMBUAT KARTU ANGGOTA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

CARA MEMBUAT KARTU ANGGOTA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo, teman-teman.
Setelah sekian lama akhirnya aku memiliki kartu anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kali ini aku akan berbagi pengalamanku dalam membuat kartu anggota perpusnas.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 RT. 11/RW.2, Gambir, Senen Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Untuk membuat kartu anggota, kamu bisa melakukannya langsung di Lantai 2 bagian Layanan Keanggotaan Gedung Perpusnas, dengan jam operasional dan kuota antrean sebagai berikut.

Senin—Kamis      : 08.30—17.30/KUOTA ANTREAN 500
Jumat                    : 09.00—17.30/KUOTA ANTREAN 500
Sabtu & Minggu   : 09.00—16.00/ KUOTA ANTREAN 400

Meskipun jam operasionalnya sampai pukul 16.00 dan 17.30, namun apabila pendaftar telah memenuhi kuota antrean, kamu tidak bisa mencetak kartu perpusnas di hari itu. Kamu hanya akan mendapat nomor kartu anggota dan baru bisa mencetak kartu anggota di lain hari. Oleh karena itu, bila kamu ingin membuat kartu anggota pastikan dirimu tidak datang di sore hari.
Syarat untuk memiliki kartu anggota Perpusnas di antaranya, memiliki kartu identitas yang berlaku, Kartu identitas yang berlaku untuk WNI yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk), KIA (Kartu Identitas Anak), atau KK (Kartu  Keluarga). Sedangkan untuk WNA memerlukan KITAS (Residence Permit) atau VOA (Visa on Arrival). Selain itu, minimal pembuatan kartu anggota adalah SD Kelas 1.
Baiklah, sekarang mari kita membahas cara membuat kartu anggota Perpusnas.

Pendaftaraan Keanggotaan
1. Isi formulir
-          Untuk pengisian formulir, dapat dilakukan secara daring (online) melalui http://keanggotaan.perpusnas.go.id/ dan juga dapat dilakukan langsung di di Lantai 2 bagian Layanan Keanggotaan Gedung Perpusnas.
-          Untuk mengisi formulir, pastikan kamu membawa atau menyiapkan kartu identitas yang berlaku, seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk), KIA (Kartu Identitas Anak), atau KK (Kartu  Keluarga) untuk WNI dan KITAS (Residence Permit) atau VOA (Visa on Arrival) untuk WNA. Setelah itu, kamu tinggal mengisi data yang sesuai dengan kartu identitas sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Kamu diwajibkan mengisi seluruh inputan bertanda bintang (*). Selain itu, sifatnya opsional, tetapi dianjurkan untuk tetap mengisi agar datamu lebih lengkap.
-          Nah, setelah kamu mengisi seluruh data diri dengan benar, selanjutnya klik kotak kecil bagian bawah yang bertuliskan ‘Saya menyatakan data yang diisi benar dan dapat dipertanggungjawabkan, serta setuju untuk menaati segala peraturan Perpustakaan Nasional RI’.
-          Setelah itu, langsung saja klik kolom ‘DAFTAR’.
-          Selanjutnya kamu akan mendapatkan kode registrasi atau nomor anggota.

\ 2.  Mencetak Kartu
-          Apabila kamu mengisi formulir melalui website, kamu tetap perlu datang ke Perpusnas untuk mencetak kartu. Di sana, kamu tinggal memasukkan nomor anggota/NIK di komputer yang tersedia, baru akan mendapatkan nomor antrean.
Sedangkan, apabila kamu mengisi formulir langsung di Perpusnas, kamu akan mendapatkan nomor anggota sekaligus nomor antrean.
-          Setelah kamu mendapatkan nomor antrean, kamu tinggal menunggu nomormu dipanggil melalui pengeras suara. Nomormu hanya akan dipanggil nomor sebanyak dua kali, jadi pastikan kamu tidak berada terlalu jauh dari lokasi.
-          Setelah nomormu dipanggil, kamu harus segera datang ke counter sesuai yang diinstruksikan melalui pengeras suara.
-          Di counter kamu akan diminta untuk menghadap kamera untuk difoto*. Hasil foto tersebut nantinya akan langsung tercetak di kartu anggotamu. Nah, sambil menunggu proses pencetakan petugas akan melakukan verifikasi terhadap data yang telah kamu masukkan.
-          Tidak sampai lima menit, kartumu TELAH SELESAI DICETAK.
*saat di counter, kamu tidak perlu menarik kursi yang telah disediakan karena kursi tersebut telah diatur sedemikian rupa agar pas dengan kamera. Siapkan senyum terbaikmu karena kartu anggota BERLAKU UNTUK SEUMUR HIDUP :p 


Beginilah hasil kartunya.
Dokumentasi Pribadi
Kira-kira begitulah cara untuk memiliki kartu anggota Perpustakaan Nasional RI. Oh iya, aku juga ingin berbagi sedikit pengalaman pribadiku. Aku mengisi formulir di Perpusnas, namun karena saat pertama kali aku datang kuota antrean pencetakan kartu sudah penuh. Aku belum bisa mencetak kartu di hari itu. Nah, saat aku kembali datang ke Perpusnas, aku melakukan cara yang sama dengan yang mengisi formulir melalui website resmi Perpusnas.
Nah, selain itu, saat aku datang mesin pencetak kartu antrean tidak mengeluarkan kertas nomor antrean. Bila terjadi seperti itu, jangan ragu untuk memberitahu kepada petugas layanan informasi yang ada di sana. Petugas akan senang hati membantu. Hal ini juga berlaku apabila kamu memiliki kebingungan lainnya. Jangan malu untuk bertanya.
Mungkin sekian yang bisa aku sampaikan dalam blog-ku kali ini. Blog ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadiku serta sumber lainnya untuk memastikan kebenaran informasi. Mohon maaf apabila ternyata masih terdapat ketidaksesuaian. Jangan ragu untuk mengoreksi, memberikan informasi tambahan, ataupun bertanya. Langsung saja tulis di kolom komentar.
Oh iya, kalau ada yang mau aku berbagi pengalaman lagi boleh dong kasih saran apa yang harus aku bagikan. Tulis juga di kolom komentar,
Tulis dengan bahasa yang baik dan santun ya, guys. Hehe
Sekian dariku. Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Media sosial            : hanafm24 (Instagram dan Storialco)
Surat elektronik       : hanafm24@gmail.com
#hanafm #hanafmdiary

Sunday, November 17, 2019

MENGAPA GEMAR MEMBACA?

MENGAPA GEMAR MEMBACA?

Hana kecil tidak lulus TK.
Aku berhenti di kelas 0 besar dan memutuskan belajar mandiri di rumah (aku sungguhan belajar😝).  Memiliki banyak waktu luang, aku menjadi sering bermain. Aku rutin berkunjung ke istana Putri Nirmala yang baik hati dan ke rumah besar Paman Gober yang pelit tapi jenaka.

Ibu tidak pernah membelikan buku, tetapi ada seorang saudara yang selalu memberikan buku cerita secara cuma-cuma. Setiap pulang berkunjung, selalu ada majalah atau buku cerita yang kubawa. Kini buku-buku itu lenyap entah kemana. :(

Bertahun-tahun kemudian, kegemaran membaca mulai berkurang. Ada hal yang lebih menarik di televisi. Mataku beralih dari lembaran kertas bergambar ke layar kaca penuh warna.

Saat kelas 9, guru Bahasa Indonesia memberi tugas untuk membuat resensi novel. Di tengah godaan dari teman-teman untuk meniru dari internet, aku memutuskan pergi ke perpustakaan sekolah untuk meminjam sebuah novel. Meresensi novel itu sendiri. Ketika itu aku menemukan novel berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" karya Tere Liye.

Duarrr! Aku jatuh cinta dengan novel itu. Jalan ceritanya membuat air mataku luruh seketika. Terlebih banyak pemahaman baik yang kuterima. Ini berbeda saat kecil aku membaca buku anak-anak. Pemahaman yang kuterima sungguh berbeda. Mungkin ini karena diriku mulai beranjak dewasa.

Perpustakaan sekolah di SMP-ku tertata amat rapi. Sayang, pustakawan yang galak membuatku seringkali enggan untuk berkunjung ke sana. Hingga pada akhirnya Ibu pustakawan berdagang, dan aku membeli dagangannya sambil meminjam novel di perpus sekolah. Duarrr! Beliau menjadi amat ramah meski tetap pemarah^^

Sejak itu, kegemaran membacaku kembali. Berawal dari cerita yang ada di majalah, aku beralih membaca novel. Buku tebal berisi ratusan halaman tanpa warna. Hanya tulisan. Tak masalah. Aku menyukainya.

Kegemaran itu bertahan hingga hari ini dan seterusnya. Rasanya, membaca satu buku tak pernah cukup. Setelah selesai membaca, aku selalu memiliki hasrat untuk membaca buku lainnya, khususnya buku yang membahas hal yang tak dibahas tuntas di buku sebelumnya. Ah, selalu begitu siklusnya.

#hanafmdiary #mengapagemarmembaca

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...