Tuesday, December 22, 2020

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~

Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah yang utama. Aku separuh menuruti, sedikit membangkang. Ia selalu menjadi guru favoritku, meski kami berbeda dalam beberapa hal. Nasihat-nasihatnya selalu terukir di hatiku. Namun kini aku adalah manusia merdeka dan oleh sebab itu berhak memiliki keyakinan terhadap pemikiranku sendiri; bahwa IPK bukan segalanya.

Sejak awal selalu kukatakan begitu. Agak sombong memang. Terlebih sejak semester awal IPK-ku selalu melangkah maju, meski dengan malu-malu. Sampai ternyata di semester empat kemarin, IPK-ku menurun. Dan ternyata, aku cukup sedih. Memang tidak drastis, begitu hiburku pada diri sendiri. Namun tetap saja hadir sedikit kegelisahan di hati.

Setelah kutilik kembali, aku mulai bisa menerima semuanya. Semester ini memang tidak mudah bagiku, dan mungkin bagi semuanya. Pandemi hadir di antara kami. Kami beradaptasi dari perkuliahan yang biasa dilakukan secara tatap muka dengan tatap maya atau dikenal dengan istilah PJJ (Perkuliahan Jarak Jauh). Ah, kami mengenal terlalu banyak istilah baru semenjak pandemi ini.

Sejujurnya, PJJ ini menyenangkan bagiku. Aku tak perlu bangun sepagi mungkin untuk berjuang di padatnya kereta pagi lalu menghadapi macetnya ibukota di jam sibuk. Namun yang menyedihkan adalah keterbatasan jaringan internet di daerahku. Huh, menyebalkan sekali. Setiap ada pertemuan tatap maya melalui video konferensi, aku sulit sekali untuk menyimak materi. Bagaimana hendak menyimak, aku disibukkan untuk mengurusi sinyal yang tidak stabil. Bisa dibayangkan betapa menyebalkannya. Walau sebenarnya aku tak ingin kamu membayangkan hal yang buruk. Sebab cukup diriku saja yang ada di bayanganmu :p (CAILAH)

Meski begitu, aku tak ingin hanya menyalahkan keadaan. Sebab dari hal-hal kurang baik yang terjadi, selalu ada hal luar biasa yang Allah takdirkan untukku. Sejak awal perkuliahan semester ini, aku mulai mencoba mengikuti organisasi yang kujalani dengan niat yang serius dan menyenangkan. Meski aku gak-aktif-aktif-amat, tetapi karena aku menjalaninya dengan sepenuh hati, maka tak dapat dipungkiri bahwa waktuku sedikit-banyak aku korbankan untuknya. Aku senang menjalaninya, dan itu adalah anugerah. Aku tak menyesalinya.

Selain memulai berorganisasi, di semester ini aku juga mulai kembali menemukan semangatku. Asiiiik, wkwk. Tepatnya, aku mulai mengembangkan kegemaranku terhadap literasi-bisnis. Aku menyalurkannya dengan mendirikan sebuah toko buku online kecil, yang kunamai Toko Buku FM (dulunya bookstore fm). Aku memang sudah mendirikan ini sejak tahun 2019, tetapi sejak PJJ ini aku bisa lebih banyak memberikan waktuku untuk buah hatiku ini. Ah, ia semakin tumbuh menggemaskan.

Bahkan sempat terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkan bangku kuliah untuk menjalani dengan serius toko bukuku ini. Sebab aku merasa benar-benar menemukan diriku di sini. Aku benar-benar mencintai setiap yang aku kerjakan. Namun setelah kupikirkan matang-matang, aku tidak mungkin melakukannya. Sebab bangku perkuliahan adalah amanah yang harus kujalani dengan baik sampai tuntas. Aku tak ingin berhenti di tengah jalan. Selagi Allah menakdirkan terus berjalan di sini sampai akhir, aku akan menuntaskannya. Pada saatnya, akan ada waktunya. Aku memang masih begitu muda dan berapi-api, tetapi aku terus belajar untuk menjadi bijak.

Pada semester ini, nilaiku memang tak sebaik sebelumnya, tetapi aku belajar banyak hal. Sinyal, organisasi, dan toko buku bisa dibilang sebagai tiga faktor utama terhadap menurunnya IPK-ku pada semester ini. Dan, hey, dua dari tiga hal itu merupakan hal baik. Aku tidak sedikitpun menyesalinya. Justru kedua hal itu banyak sekali membantuku. Aku amat mensyukurinya.

Aku tak ingin menjadikan kesalahanku atas pembenaran terhadap hal ini. Namun pemahaman yang kudapatkan sampai detik ini, membuatku semakin menyadari bahwa aku memang perlu banyak belajar, terutama perihal memanajemen waktu dan prioritas, serta kesadaran mengenai bahwa tak segala hal bisa kupeluk sekaligus. Bahwa untuk mengejar sesuatu, memerlukan pengorbanan pada hal lainnya. Ya, aku masih perlu banyak belajar. Sangat banyak. Namun aku tak ingin membebani diriku dengan kalimat-kalimat negatif dan menyudutkan. Aku ingin mengapresiasi diriku yang sudah bekerja keras dan bertahan dengan luar biasa hingga saat ini.

“Hei, Hana, kamu benar-benar luar biasa!”

Omong-omong, aku sangat amat terlambat menuliskan ini. Aku baru menuliskan #TentangIP ini di perjalanan menuju akhir semester lima, di antara padatnya tugas menjelang UAS. Tadinya, aku ingin berkeluh kesah. Barangkali itu bisa melegakan pikiranku. Namun ternyata tidak, aku lebih banyak bersyukur daripada mengutuk. Ah, waktu dan keadaan. Kau sungguh mendewasakan.

Baiklah, sudah cukup rasanya. Terima kasih sudah membaca ceritaku. Aku sangat berterimakasih. Jangan khawatir, sebentar lagi akhir semester lima, kita akan kembali berjumpa dalam waktu dekat. Doakan aku agar tulisanku nanti tidak terlambat dan hal-hal baik yang akan kau baca selanjutnya. Maafkanlah segala hal buruk yang ada di sini. Cukuplah kau menjadikannya pelajaran. Bawalah pulang hanya hal-hal serta doa yang baik.

Sekian, kecup jauh paling hangat dariku,

Hanafm –pemilik Toko Buku FM.

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...