Saturday, August 31, 2019

IP Kedua, Bagaimana?


“IP semester 1 itu IP terbesar dari semua semester.”
Deg.
Aku kaget banget waktu salah satu temanku bilang begitu. Waduh, berarti bakal susah banget dong buat dapetin IP yang lebih tinggi dibanding semester sebelumnya. Yah, tapi yaudahlah, ya. Usaha aja dulu. 


Halo, teman-teman. Udah lama banget gak nulis di blog. Haduh, maafin banget jari-jariku ini males banget kalau disuruh nulis. Maunya scroll-scroll gak penting di Instagram doang. Udah jarang banget nulis. Huhuhu. Tapi, insyaa allah, pengalaman tentang masalah IP di akan aku tulis  terus di tiap semester, tentunya di blog kesayanganku ini. Walaupun nunggu terkumpul niatnya lama banget. Hihi

Kembali ke topik.

Sebenarnya aku baru aja isi KRS (Kartu Rencana Studi) buat semester 3, dan keinget kalau aku belum nulis di blog masalah IP-ku di semester 2, akhirnya mulailah kutulis sekarang –bersama benih-benih semangat yang mulai kusemai. Asikkkk

Pembuka blog tadi adalah kalimat yang beberapa kali aku dengar dari beberapa teman kuliahku. Aku sih gak tau benar apa enggak, cuma rumornya begitu. Apalagi di semester pertama kemarin, kami memang mendapat IPS yang cukup tinggi semua. Beberapa dosen juga pernah bilang kalau di semester awal itu, dosen masih pada baik soal nilai. Wah, terus di semester selanjutnya gimana dong?

Hal yang bikin aku tambah pesimis di semester dua ini adalah aku ngerasa semangat belajarku berkurang drastis, karena sejak bulan Ramadan kemarin aku harus menempuh perjalanan 2—3 jam buat ke kampus. Ya, aku pulang-pergi Bogor-Jakarta. Kebayang dong. Harus naik angkot, terus naik KRL, terus dilanjut naik Transjakarta buat ke kampus. Sampai di kampus, udah capek duluan. Pulang ke rumah, harus pakai rute yang sama. Sampai di rumah, udah capek duluan, maunya langsung rebahan. Boro-boro belajar buat besok. Semakin pesimis lah aku gimana IP-ku di semester ini.

Meski begitu, aku tetap mencoba belajar dengan sebaik-sebaiknya. Mengerjakan tugas dengan benar-benar menggunakan ilmu yang aku punya, tidak sekadar untuk mencari nilai dan agar tugas selesai saja. Ujian-ujian pun aku kerjakan dengan sebaik-baiknya. Walau di beberapa mata kuliah, aku sama sekali gak belajar sih. Hehe. Maafkan aku. :”)

Akhirnya terlewati sudah semester dua dengan segala keruwetan tugas dan ujiannya, serta drama-drama yang terjadi di dalamnya.

Setelah itu, tentulah aku menanti-nanti hasil belajarku selama satu semester ke belakang. Sayangnya, pengumuman KHS di kampusku mengalami sedikit keterlambatan. Entah apa masalahnya. Di saat pembayaran UKT sudah dibuka, yang artinya mahasiswa sudah harus melaksanakan kewajibannya, tetapi hak mereka untuk menerima nilai mereka belum juga diberikan oleh pihak kampus.
Nah, barulah pada tanggal 2 Agustus 2019 pukul 00.01, Pustikom melalui akun instagramnya, mengumumkan bahwa mahasiswa sudah bisa melihat KHS-nya. Saat itu, kebetulan aku lagi begadang, jadi setelah ada teman yang mengabarkan, aku segera membuka SIAKAD untuk melihat nilaiku. Tentunya dengan berdoa terlebih dahulu.

Jujur aja, aku memang cukup deg-degan saat hendak membukanya. Namun aku bisa sedikit lebih santai di bandingkan semester sebelumnya. Apalagi karena aku membuka saat dini hari, jaringan juga sedang bagus-bagusnya. Hehe

Daaaan… saat aku membuka nilaiku, lagi-lagi IP-ku kali ini membuatku bersyukur. Memang belum sempurna, tetapi tidak terlalu buruk juga. Satu hal yang membuatku senang adalah bahwa aku berhasil membantah rumor yang beredar di antara teman-teman kuliahku, bahwa IP semester selanjutnya tidak akan bisa lebih tinggi daripada IP semester pertama. Segala puji bagi Allah, IP semester duaku lebih tinggi daripada IP semester satu. Walaupun, yaaaaaaaa, selisihnya bener-bener tipis banget, hihi.

Jadi, guys, rumor, “IP semester 1 adalah IP terbesar dari semua semester” itu belum tentu benar, ya. Semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing, sejauh mana kita mau berjuang untuk mendapatkan hasil yang baik.

Memang benar di semester awal, dosen pasti memberikan banyak kelonggaran. Mereka pun pasti memahami peralihan kita dari masa menjadi siswa ke mahasiswa. Tetapi, bukan berarti di semester pertama mereka memberi kelonggaran selonggar-longgarnya, sedangkan di semester selanjutnya mereka mengencangkan tali seketat-ketatnya.

Dosen Linguistikku pernah bilang, 
“Dosen tidak memberikan nilai, mahasiswa yang menentukan nilainya sendiri.” 
Nilai kita tidak tergantung pada dosen, ilmu yang kita dapatkan pun tidak tergantung pada dosen. Dosen hanya perantara antara kita dengan nilai dan ilmu itu sendiri. Selebihnya, kembali diri masing-masing.

So, jangan pernah pesimis, ya!

Kalau IP-mu di semester ini belum memuaskan, tetap berusaha! Nilaimu bisa lebih baik di setiap semesternya. Jangan lupa berdoa juga, segala usaha tanpa doa hanya akan berakhir sia-sia. Imbangi juga pembelajaran di perkuliahan dengan kegiatan bermanfaat lainnya, entah dengan berorganisasi, mengikuti lomba, ataupun yang lainnya. Agar kita tidak perlu berpeluh-peluh sampai jenuh dan bisa tetap menjalani semua dengan riang gembira! 😊

Oh iya, aku pengen tau dong, apa aja sih rumor yang beredar di kampus kalian tentang IP dan sejenisnya? Kalau ada, boleh tulis di kolom komentar, ya.

Terima kasih untuk teman-teman yang udah membaca tulisanku ini sampai habis. Doakan aku supaya semakin rajin menulis, ya. 
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...