“IP semester 1 itu IP terbesar dari semua semester.”
Deg.
Aku kaget banget waktu salah satu temanku bilang begitu. Waduh,
berarti bakal susah banget dong buat dapetin IP yang lebih tinggi dibanding
semester sebelumnya. Yah, tapi yaudahlah, ya. Usaha aja dulu.
Halo, teman-teman. Udah lama banget gak nulis di blog. Haduh,
maafin banget jari-jariku ini males banget kalau disuruh nulis. Maunya scroll-scroll
gak penting di Instagram doang. Udah jarang banget nulis. Huhuhu. Tapi, insyaa
allah, pengalaman tentang masalah IP di akan aku tulis terus di tiap semester, tentunya di blog kesayanganku
ini. Walaupun nunggu terkumpul niatnya lama banget. Hihi
Kembali ke topik.
Sebenarnya aku baru aja isi KRS (Kartu Rencana Studi) buat
semester 3, dan keinget kalau aku belum nulis di blog masalah IP-ku di semester
2, akhirnya mulailah kutulis sekarang –bersama benih-benih semangat yang mulai
kusemai. Asikkkk
Pembuka blog tadi adalah kalimat yang beberapa kali aku
dengar dari beberapa teman kuliahku. Aku sih gak tau benar apa enggak, cuma rumornya
begitu. Apalagi di semester pertama kemarin, kami memang mendapat IPS yang
cukup tinggi semua. Beberapa dosen juga pernah bilang kalau di semester awal
itu, dosen masih pada baik soal nilai. Wah, terus di semester selanjutnya gimana
dong? ☹
Hal yang bikin aku tambah pesimis di semester dua ini adalah
aku ngerasa semangat belajarku berkurang drastis, karena sejak bulan Ramadan kemarin
aku harus menempuh perjalanan 2—3 jam buat ke kampus. Ya, aku pulang-pergi Bogor-Jakarta.
Kebayang dong. Harus naik angkot, terus naik KRL, terus dilanjut naik Transjakarta
buat ke kampus. Sampai di kampus, udah capek duluan. Pulang ke rumah, harus
pakai rute yang sama. Sampai di rumah, udah capek duluan, maunya langsung
rebahan. Boro-boro belajar buat besok. Semakin pesimis lah aku gimana IP-ku di
semester ini. ☹
Meski begitu, aku tetap mencoba belajar dengan sebaik-sebaiknya.
Mengerjakan tugas dengan benar-benar menggunakan ilmu yang aku punya, tidak
sekadar untuk mencari nilai dan agar tugas selesai saja. Ujian-ujian pun aku
kerjakan dengan sebaik-baiknya. Walau di beberapa mata kuliah, aku sama sekali
gak belajar sih. Hehe. Maafkan aku. :”)
Akhirnya terlewati sudah semester dua dengan segala keruwetan
tugas dan ujiannya, serta drama-drama yang terjadi di dalamnya.
Setelah itu, tentulah aku menanti-nanti hasil belajarku
selama satu semester ke belakang. Sayangnya, pengumuman KHS di kampusku
mengalami sedikit keterlambatan. Entah apa masalahnya. Di saat pembayaran UKT
sudah dibuka, yang artinya mahasiswa sudah harus melaksanakan kewajibannya,
tetapi hak mereka untuk menerima nilai mereka belum juga diberikan oleh pihak
kampus.
Nah, barulah pada tanggal 2 Agustus 2019 pukul 00.01,
Pustikom melalui akun instagramnya, mengumumkan bahwa mahasiswa sudah bisa
melihat KHS-nya. Saat itu, kebetulan aku lagi begadang, jadi setelah ada teman
yang mengabarkan, aku segera membuka SIAKAD untuk melihat nilaiku. Tentunya
dengan berdoa terlebih dahulu.
Jujur aja, aku memang cukup deg-degan saat hendak membukanya.
Namun aku bisa sedikit lebih santai di bandingkan semester sebelumnya. Apalagi karena
aku membuka saat dini hari, jaringan juga sedang bagus-bagusnya. Hehe
Daaaan… saat aku membuka nilaiku, lagi-lagi IP-ku kali ini
membuatku bersyukur. Memang belum sempurna, tetapi tidak terlalu buruk juga. Satu
hal yang membuatku senang adalah bahwa aku berhasil membantah rumor yang
beredar di antara teman-teman kuliahku, bahwa IP semester selanjutnya tidak akan
bisa lebih tinggi daripada IP semester pertama. Segala puji bagi Allah, IP
semester duaku lebih tinggi daripada IP semester satu. Walaupun, yaaaaaaaa, selisihnya
bener-bener tipis banget, hihi.
Jadi, guys, rumor, “IP semester 1 adalah IP terbesar dari
semua semester” itu belum tentu benar, ya. Semuanya kembali lagi ke diri kita
masing-masing, sejauh mana kita mau berjuang untuk mendapatkan hasil yang baik.
Memang benar di semester awal, dosen pasti memberikan banyak
kelonggaran. Mereka pun pasti memahami peralihan kita dari masa menjadi siswa
ke mahasiswa. Tetapi, bukan berarti di semester pertama mereka memberi
kelonggaran selonggar-longgarnya, sedangkan di semester selanjutnya mereka
mengencangkan tali seketat-ketatnya.
Dosen Linguistikku pernah bilang,
“Dosen tidak memberikan nilai, mahasiswa yang menentukan nilainya sendiri.”
Nilai kita tidak tergantung
pada dosen, ilmu yang kita dapatkan pun tidak tergantung pada dosen. Dosen hanya
perantara antara kita dengan nilai dan ilmu itu sendiri. Selebihnya, kembali diri
masing-masing.
So, jangan pernah pesimis, ya!
Kalau IP-mu di semester ini belum memuaskan, tetap berusaha!
Nilaimu bisa lebih baik di setiap semesternya. Jangan lupa berdoa juga, segala
usaha tanpa doa hanya akan berakhir sia-sia. Imbangi juga pembelajaran di perkuliahan
dengan kegiatan bermanfaat lainnya, entah dengan berorganisasi, mengikuti lomba,
ataupun yang lainnya. Agar kita tidak perlu berpeluh-peluh sampai jenuh dan
bisa tetap menjalani semua dengan riang gembira! 😊
Oh iya, aku pengen tau dong, apa aja sih rumor yang beredar
di kampus kalian tentang IP dan sejenisnya? Kalau ada, boleh tulis di kolom komentar,
ya.
Terima kasih untuk teman-teman yang udah membaca tulisanku
ini sampai habis. Doakan aku supaya semakin rajin menulis, ya.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!