Tuesday, December 22, 2020

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~

Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah yang utama. Aku separuh menuruti, sedikit membangkang. Ia selalu menjadi guru favoritku, meski kami berbeda dalam beberapa hal. Nasihat-nasihatnya selalu terukir di hatiku. Namun kini aku adalah manusia merdeka dan oleh sebab itu berhak memiliki keyakinan terhadap pemikiranku sendiri; bahwa IPK bukan segalanya.

Sejak awal selalu kukatakan begitu. Agak sombong memang. Terlebih sejak semester awal IPK-ku selalu melangkah maju, meski dengan malu-malu. Sampai ternyata di semester empat kemarin, IPK-ku menurun. Dan ternyata, aku cukup sedih. Memang tidak drastis, begitu hiburku pada diri sendiri. Namun tetap saja hadir sedikit kegelisahan di hati.

Setelah kutilik kembali, aku mulai bisa menerima semuanya. Semester ini memang tidak mudah bagiku, dan mungkin bagi semuanya. Pandemi hadir di antara kami. Kami beradaptasi dari perkuliahan yang biasa dilakukan secara tatap muka dengan tatap maya atau dikenal dengan istilah PJJ (Perkuliahan Jarak Jauh). Ah, kami mengenal terlalu banyak istilah baru semenjak pandemi ini.

Sejujurnya, PJJ ini menyenangkan bagiku. Aku tak perlu bangun sepagi mungkin untuk berjuang di padatnya kereta pagi lalu menghadapi macetnya ibukota di jam sibuk. Namun yang menyedihkan adalah keterbatasan jaringan internet di daerahku. Huh, menyebalkan sekali. Setiap ada pertemuan tatap maya melalui video konferensi, aku sulit sekali untuk menyimak materi. Bagaimana hendak menyimak, aku disibukkan untuk mengurusi sinyal yang tidak stabil. Bisa dibayangkan betapa menyebalkannya. Walau sebenarnya aku tak ingin kamu membayangkan hal yang buruk. Sebab cukup diriku saja yang ada di bayanganmu :p (CAILAH)

Meski begitu, aku tak ingin hanya menyalahkan keadaan. Sebab dari hal-hal kurang baik yang terjadi, selalu ada hal luar biasa yang Allah takdirkan untukku. Sejak awal perkuliahan semester ini, aku mulai mencoba mengikuti organisasi yang kujalani dengan niat yang serius dan menyenangkan. Meski aku gak-aktif-aktif-amat, tetapi karena aku menjalaninya dengan sepenuh hati, maka tak dapat dipungkiri bahwa waktuku sedikit-banyak aku korbankan untuknya. Aku senang menjalaninya, dan itu adalah anugerah. Aku tak menyesalinya.

Selain memulai berorganisasi, di semester ini aku juga mulai kembali menemukan semangatku. Asiiiik, wkwk. Tepatnya, aku mulai mengembangkan kegemaranku terhadap literasi-bisnis. Aku menyalurkannya dengan mendirikan sebuah toko buku online kecil, yang kunamai Toko Buku FM (dulunya bookstore fm). Aku memang sudah mendirikan ini sejak tahun 2019, tetapi sejak PJJ ini aku bisa lebih banyak memberikan waktuku untuk buah hatiku ini. Ah, ia semakin tumbuh menggemaskan.

Bahkan sempat terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkan bangku kuliah untuk menjalani dengan serius toko bukuku ini. Sebab aku merasa benar-benar menemukan diriku di sini. Aku benar-benar mencintai setiap yang aku kerjakan. Namun setelah kupikirkan matang-matang, aku tidak mungkin melakukannya. Sebab bangku perkuliahan adalah amanah yang harus kujalani dengan baik sampai tuntas. Aku tak ingin berhenti di tengah jalan. Selagi Allah menakdirkan terus berjalan di sini sampai akhir, aku akan menuntaskannya. Pada saatnya, akan ada waktunya. Aku memang masih begitu muda dan berapi-api, tetapi aku terus belajar untuk menjadi bijak.

Pada semester ini, nilaiku memang tak sebaik sebelumnya, tetapi aku belajar banyak hal. Sinyal, organisasi, dan toko buku bisa dibilang sebagai tiga faktor utama terhadap menurunnya IPK-ku pada semester ini. Dan, hey, dua dari tiga hal itu merupakan hal baik. Aku tidak sedikitpun menyesalinya. Justru kedua hal itu banyak sekali membantuku. Aku amat mensyukurinya.

Aku tak ingin menjadikan kesalahanku atas pembenaran terhadap hal ini. Namun pemahaman yang kudapatkan sampai detik ini, membuatku semakin menyadari bahwa aku memang perlu banyak belajar, terutama perihal memanajemen waktu dan prioritas, serta kesadaran mengenai bahwa tak segala hal bisa kupeluk sekaligus. Bahwa untuk mengejar sesuatu, memerlukan pengorbanan pada hal lainnya. Ya, aku masih perlu banyak belajar. Sangat banyak. Namun aku tak ingin membebani diriku dengan kalimat-kalimat negatif dan menyudutkan. Aku ingin mengapresiasi diriku yang sudah bekerja keras dan bertahan dengan luar biasa hingga saat ini.

“Hei, Hana, kamu benar-benar luar biasa!”

Omong-omong, aku sangat amat terlambat menuliskan ini. Aku baru menuliskan #TentangIP ini di perjalanan menuju akhir semester lima, di antara padatnya tugas menjelang UAS. Tadinya, aku ingin berkeluh kesah. Barangkali itu bisa melegakan pikiranku. Namun ternyata tidak, aku lebih banyak bersyukur daripada mengutuk. Ah, waktu dan keadaan. Kau sungguh mendewasakan.

Baiklah, sudah cukup rasanya. Terima kasih sudah membaca ceritaku. Aku sangat berterimakasih. Jangan khawatir, sebentar lagi akhir semester lima, kita akan kembali berjumpa dalam waktu dekat. Doakan aku agar tulisanku nanti tidak terlambat dan hal-hal baik yang akan kau baca selanjutnya. Maafkanlah segala hal buruk yang ada di sini. Cukuplah kau menjadikannya pelajaran. Bawalah pulang hanya hal-hal serta doa yang baik.

Sekian, kecup jauh paling hangat dariku,

Hanafm –pemilik Toko Buku FM.

Friday, January 24, 2020

Langkah Malu-malu Semester Tigaku


“Mohon maaf kalau tulisanku kali ini agak emosional.”

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...

Halo, teman-teman!
Wah, tidak terasa semester 3 (111) sudah kulalui dan IP-nya sudah keluar. Ini agak gak nyangka sih, karena di jadwal harusnya tanggal 25 Januari 2020 nilai baru keluar, tapi satu hari sebelumnya semua mahasiswa UNJ sudah bisa mengetahui nilainya. Walaupun katanya nilai yang sesungguhnya baru dilihat besok. Well, aku harap besok gak ada perubahan apapun terhadap IP-ku (eh, tapi kalau nilainya nambah boleh deh, hehe).

Dengan sudah dilihatnya IP-ku di semester artinya ini sudah ketiga kali aku membahas 'Tentang IP'. Well, aku mohon maaf kalau tulisanku kali ini agak emosional. Aku dan keluargaku sedang sakit jadi you know lah, ya. Aku sedang tidak dalam kondisi terbaiku. But yeah, aku ingin menceritakan tentang ini tepat waktu ketika euforianya masih benar-benar terasa.

Sesuai judulnya, kali ini IP-ku nilainya masih melangkah malu-malu. Ia persis seperti diriku. Meski begitu, seperti kalian tahu aku gak akan memberitahu nilaiku di tulisan ini, ya walaupun aku memang hanya memberitahu yang perlu tahu aja sih. Bagiku IP adalah suatu hal yang sangat individual. Bukan ajang kompetisi, siapa yang paling tinggi, siapa yang paling rendah. No. IP adalah salah satu dari refleksi selama satu semester ke belakang dan IPK adalah refleksi di semester-semester yang sudah dilalui.

Well, di semester kali ini aku merasa semangatku masih belum optimal. Aku masih merasa belum mengeluarkan sisi terbaikku di semester ini. Aku sudah mencoba, tapi hasilnya masih belum. Aku masih kurang dan belum beruntung dalam beberapa hal, walaupun aku merasa Allah memberiku limpahan rezeki di hal-hal lainnya. Sungguh Dia Maha Baik.

Salah satu hal yang cukup mengangguku di semester ini yaitu tugas kelompok. Aku bukan orang yang baik dalam sebuah tim, aku adalah si introver yang lebih senang mengerjakan sesuatu sendirian. Walaupun aku tetap butuh arahan dengan bertanya dan berdiskusi. Namun dalam kelompok, mau tak mau aku harus bekerjasama. Sayangnya ada satu kelompok yang dalam perjalanannya, sungguh ingin mengeluarkan diri dari kelompok itu saja. Menyebalkan sekali. Meski tidak semuanya semenyebalkan itu, hanya oknum saja. Oknum itu sangat tidak kooperatif terhadap perannya dalam kelompok, tetapi sangat ingin tampil sebagai sorotan. Well, apa aku saja yang sebal terhadap orang seperti itu?

Di sini aku tidak sedang membicarakan siapapun, kecuali kekesalanku sendiri.

Meskipun super kesal, dari hal ini aku ingin mengerti sesuatu bahwa Tuhan tidak tidur. Walau kita berada dalam ruang yang sama, mengerjakan hal yang sama, berproses dalam sesuatu yang sama, namun mengeluarkan effort yang berbeda-beda, result can't lie. Hasil gak bisa bohong. Dari sini juga belajar lagi, bahwa mungkin hasil yang seseorang peroleh bukan hanya dari kecerdasannya, tetapi juga dari usahanya dalam setiap proses.

Yaa Allah, jadikan aku manusia yang lebih bijaksana.

Beralih topik, di penghujung semester ini juga aku mempelajari sesuatu. Bahwa aku dan kita semua tidak boleh menyepelekan mata kuliah apapun. Pada setiap matkul, terdapat kewajiban dan amanah yang sama. Tak peduli itu MKDK, MKU, atau apapun golongannya. Temanku baru saja bilang, belajar adalah amanah tidak seharusnya disepelekan di satu sisi.

Mungkin kali ini aku akan mengakhiri tulisanku sama seperti sebelumnya. IP atau IPK bukan segalanya. Setiap pendaki memiliki puncaknya sendiri. Ada yang tidak begitu mementingkan nilai, ada yang sangat mengejarnya. Namun satu hal, kita tidak berhak menghakimi orang lain atas apapun yang menjadi prioritasnya. Meskipun berada dalam naungan dan jalan yang sama, setiap asa punya tujuan yang berbeda-beda.

Semoga Allah senantiasa menjaga semangat kita dalam menjalankan amanah luar biasa ini. Aamiin.

Sekian tulisanku kali ini. Semoga teman-teman yang membaca tulisan ini dapat mempelajari sesuatu. Buang yang buruk dan ambil yang baik.
Sampai jumpa di Tentang IP semester 4!
(Doain yaa semester selanjutnya ada kabar baik lagi, hehe).

Friday, January 10, 2020

#1 Egois

Mereka menyebutku egois. Mereka selalu membicarakanku dengan pandangan sinis. Aku bergeming di hadapan mereka. Seolah tak peduli. Seolah tak mau peduli. Padahal sungguh hatiku teriris-iris. Mereka tak akan tahu. Mereka telanjur merasa serba tahu. Segalanya adalah yang tampak. Sesuatu yang tersembunyi dianggapnya hanya imaji.

Aku adalah pemikir yang luar biasa. Satu kata terucap dari mereka, teringat di kepalaku sepanjang masa. Terkadang saja aku pura-pura lupa. Memastikan mereka tak lupa akan perlakuan tak menyenangkan yang terpaksa aku terima.

Setiap orang punya egonya sendiri-sendiri. Kurasa itu perlu. Nahas padaku saja penghakiman itu ada.

Aku yang tak pandai bersuara harus rela mendengar sesuatu yang membuatku terluka. Tanpa bisa melakukan pembelaan apa-apa. Selalu begitu, selamanya.

:)

Saturday, November 23, 2019

BERCERITA: PENGALAMAN MEMBUAT KARTU ANGGOTA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

CARA MEMBUAT KARTU ANGGOTA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo, teman-teman.
Setelah sekian lama akhirnya aku memiliki kartu anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kali ini aku akan berbagi pengalamanku dalam membuat kartu anggota perpusnas.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 RT. 11/RW.2, Gambir, Senen Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Untuk membuat kartu anggota, kamu bisa melakukannya langsung di Lantai 2 bagian Layanan Keanggotaan Gedung Perpusnas, dengan jam operasional dan kuota antrean sebagai berikut.

Senin—Kamis      : 08.30—17.30/KUOTA ANTREAN 500
Jumat                    : 09.00—17.30/KUOTA ANTREAN 500
Sabtu & Minggu   : 09.00—16.00/ KUOTA ANTREAN 400

Meskipun jam operasionalnya sampai pukul 16.00 dan 17.30, namun apabila pendaftar telah memenuhi kuota antrean, kamu tidak bisa mencetak kartu perpusnas di hari itu. Kamu hanya akan mendapat nomor kartu anggota dan baru bisa mencetak kartu anggota di lain hari. Oleh karena itu, bila kamu ingin membuat kartu anggota pastikan dirimu tidak datang di sore hari.
Syarat untuk memiliki kartu anggota Perpusnas di antaranya, memiliki kartu identitas yang berlaku, Kartu identitas yang berlaku untuk WNI yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk), KIA (Kartu Identitas Anak), atau KK (Kartu  Keluarga). Sedangkan untuk WNA memerlukan KITAS (Residence Permit) atau VOA (Visa on Arrival). Selain itu, minimal pembuatan kartu anggota adalah SD Kelas 1.
Baiklah, sekarang mari kita membahas cara membuat kartu anggota Perpusnas.

Pendaftaraan Keanggotaan
1. Isi formulir
-          Untuk pengisian formulir, dapat dilakukan secara daring (online) melalui http://keanggotaan.perpusnas.go.id/ dan juga dapat dilakukan langsung di di Lantai 2 bagian Layanan Keanggotaan Gedung Perpusnas.
-          Untuk mengisi formulir, pastikan kamu membawa atau menyiapkan kartu identitas yang berlaku, seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk), KIA (Kartu Identitas Anak), atau KK (Kartu  Keluarga) untuk WNI dan KITAS (Residence Permit) atau VOA (Visa on Arrival) untuk WNA. Setelah itu, kamu tinggal mengisi data yang sesuai dengan kartu identitas sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Kamu diwajibkan mengisi seluruh inputan bertanda bintang (*). Selain itu, sifatnya opsional, tetapi dianjurkan untuk tetap mengisi agar datamu lebih lengkap.
-          Nah, setelah kamu mengisi seluruh data diri dengan benar, selanjutnya klik kotak kecil bagian bawah yang bertuliskan ‘Saya menyatakan data yang diisi benar dan dapat dipertanggungjawabkan, serta setuju untuk menaati segala peraturan Perpustakaan Nasional RI’.
-          Setelah itu, langsung saja klik kolom ‘DAFTAR’.
-          Selanjutnya kamu akan mendapatkan kode registrasi atau nomor anggota.

\ 2.  Mencetak Kartu
-          Apabila kamu mengisi formulir melalui website, kamu tetap perlu datang ke Perpusnas untuk mencetak kartu. Di sana, kamu tinggal memasukkan nomor anggota/NIK di komputer yang tersedia, baru akan mendapatkan nomor antrean.
Sedangkan, apabila kamu mengisi formulir langsung di Perpusnas, kamu akan mendapatkan nomor anggota sekaligus nomor antrean.
-          Setelah kamu mendapatkan nomor antrean, kamu tinggal menunggu nomormu dipanggil melalui pengeras suara. Nomormu hanya akan dipanggil nomor sebanyak dua kali, jadi pastikan kamu tidak berada terlalu jauh dari lokasi.
-          Setelah nomormu dipanggil, kamu harus segera datang ke counter sesuai yang diinstruksikan melalui pengeras suara.
-          Di counter kamu akan diminta untuk menghadap kamera untuk difoto*. Hasil foto tersebut nantinya akan langsung tercetak di kartu anggotamu. Nah, sambil menunggu proses pencetakan petugas akan melakukan verifikasi terhadap data yang telah kamu masukkan.
-          Tidak sampai lima menit, kartumu TELAH SELESAI DICETAK.
*saat di counter, kamu tidak perlu menarik kursi yang telah disediakan karena kursi tersebut telah diatur sedemikian rupa agar pas dengan kamera. Siapkan senyum terbaikmu karena kartu anggota BERLAKU UNTUK SEUMUR HIDUP :p 


Beginilah hasil kartunya.
Dokumentasi Pribadi
Kira-kira begitulah cara untuk memiliki kartu anggota Perpustakaan Nasional RI. Oh iya, aku juga ingin berbagi sedikit pengalaman pribadiku. Aku mengisi formulir di Perpusnas, namun karena saat pertama kali aku datang kuota antrean pencetakan kartu sudah penuh. Aku belum bisa mencetak kartu di hari itu. Nah, saat aku kembali datang ke Perpusnas, aku melakukan cara yang sama dengan yang mengisi formulir melalui website resmi Perpusnas.
Nah, selain itu, saat aku datang mesin pencetak kartu antrean tidak mengeluarkan kertas nomor antrean. Bila terjadi seperti itu, jangan ragu untuk memberitahu kepada petugas layanan informasi yang ada di sana. Petugas akan senang hati membantu. Hal ini juga berlaku apabila kamu memiliki kebingungan lainnya. Jangan malu untuk bertanya.
Mungkin sekian yang bisa aku sampaikan dalam blog-ku kali ini. Blog ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadiku serta sumber lainnya untuk memastikan kebenaran informasi. Mohon maaf apabila ternyata masih terdapat ketidaksesuaian. Jangan ragu untuk mengoreksi, memberikan informasi tambahan, ataupun bertanya. Langsung saja tulis di kolom komentar.
Oh iya, kalau ada yang mau aku berbagi pengalaman lagi boleh dong kasih saran apa yang harus aku bagikan. Tulis juga di kolom komentar,
Tulis dengan bahasa yang baik dan santun ya, guys. Hehe
Sekian dariku. Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Media sosial            : hanafm24 (Instagram dan Storialco)
Surat elektronik       : hanafm24@gmail.com
#hanafm #hanafmdiary

Sunday, November 17, 2019

MENGAPA GEMAR MEMBACA?

MENGAPA GEMAR MEMBACA?

Hana kecil tidak lulus TK.
Aku berhenti di kelas 0 besar dan memutuskan belajar mandiri di rumah (aku sungguhan belajar๐Ÿ˜).  Memiliki banyak waktu luang, aku menjadi sering bermain. Aku rutin berkunjung ke istana Putri Nirmala yang baik hati dan ke rumah besar Paman Gober yang pelit tapi jenaka.

Ibu tidak pernah membelikan buku, tetapi ada seorang saudara yang selalu memberikan buku cerita secara cuma-cuma. Setiap pulang berkunjung, selalu ada majalah atau buku cerita yang kubawa. Kini buku-buku itu lenyap entah kemana. :(

Bertahun-tahun kemudian, kegemaran membaca mulai berkurang. Ada hal yang lebih menarik di televisi. Mataku beralih dari lembaran kertas bergambar ke layar kaca penuh warna.

Saat kelas 9, guru Bahasa Indonesia memberi tugas untuk membuat resensi novel. Di tengah godaan dari teman-teman untuk meniru dari internet, aku memutuskan pergi ke perpustakaan sekolah untuk meminjam sebuah novel. Meresensi novel itu sendiri. Ketika itu aku menemukan novel berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" karya Tere Liye.

Duarrr! Aku jatuh cinta dengan novel itu. Jalan ceritanya membuat air mataku luruh seketika. Terlebih banyak pemahaman baik yang kuterima. Ini berbeda saat kecil aku membaca buku anak-anak. Pemahaman yang kuterima sungguh berbeda. Mungkin ini karena diriku mulai beranjak dewasa.

Perpustakaan sekolah di SMP-ku tertata amat rapi. Sayang, pustakawan yang galak membuatku seringkali enggan untuk berkunjung ke sana. Hingga pada akhirnya Ibu pustakawan berdagang, dan aku membeli dagangannya sambil meminjam novel di perpus sekolah. Duarrr! Beliau menjadi amat ramah meski tetap pemarah^^

Sejak itu, kegemaran membacaku kembali. Berawal dari cerita yang ada di majalah, aku beralih membaca novel. Buku tebal berisi ratusan halaman tanpa warna. Hanya tulisan. Tak masalah. Aku menyukainya.

Kegemaran itu bertahan hingga hari ini dan seterusnya. Rasanya, membaca satu buku tak pernah cukup. Setelah selesai membaca, aku selalu memiliki hasrat untuk membaca buku lainnya, khususnya buku yang membahas hal yang tak dibahas tuntas di buku sebelumnya. Ah, selalu begitu siklusnya.

#hanafmdiary #mengapagemarmembaca

Saturday, August 31, 2019

IP Kedua, Bagaimana?


“IP semester 1 itu IP terbesar dari semua semester.”
Deg.
Aku kaget banget waktu salah satu temanku bilang begitu. Waduh, berarti bakal susah banget dong buat dapetin IP yang lebih tinggi dibanding semester sebelumnya. Yah, tapi yaudahlah, ya. Usaha aja dulu. 


Halo, teman-teman. Udah lama banget gak nulis di blog. Haduh, maafin banget jari-jariku ini males banget kalau disuruh nulis. Maunya scroll-scroll gak penting di Instagram doang. Udah jarang banget nulis. Huhuhu. Tapi, insyaa allah, pengalaman tentang masalah IP di akan aku tulis  terus di tiap semester, tentunya di blog kesayanganku ini. Walaupun nunggu terkumpul niatnya lama banget. Hihi

Kembali ke topik.

Sebenarnya aku baru aja isi KRS (Kartu Rencana Studi) buat semester 3, dan keinget kalau aku belum nulis di blog masalah IP-ku di semester 2, akhirnya mulailah kutulis sekarang –bersama benih-benih semangat yang mulai kusemai. Asikkkk

Pembuka blog tadi adalah kalimat yang beberapa kali aku dengar dari beberapa teman kuliahku. Aku sih gak tau benar apa enggak, cuma rumornya begitu. Apalagi di semester pertama kemarin, kami memang mendapat IPS yang cukup tinggi semua. Beberapa dosen juga pernah bilang kalau di semester awal itu, dosen masih pada baik soal nilai. Wah, terus di semester selanjutnya gimana dong?

Hal yang bikin aku tambah pesimis di semester dua ini adalah aku ngerasa semangat belajarku berkurang drastis, karena sejak bulan Ramadan kemarin aku harus menempuh perjalanan 2—3 jam buat ke kampus. Ya, aku pulang-pergi Bogor-Jakarta. Kebayang dong. Harus naik angkot, terus naik KRL, terus dilanjut naik Transjakarta buat ke kampus. Sampai di kampus, udah capek duluan. Pulang ke rumah, harus pakai rute yang sama. Sampai di rumah, udah capek duluan, maunya langsung rebahan. Boro-boro belajar buat besok. Semakin pesimis lah aku gimana IP-ku di semester ini.

Meski begitu, aku tetap mencoba belajar dengan sebaik-sebaiknya. Mengerjakan tugas dengan benar-benar menggunakan ilmu yang aku punya, tidak sekadar untuk mencari nilai dan agar tugas selesai saja. Ujian-ujian pun aku kerjakan dengan sebaik-baiknya. Walau di beberapa mata kuliah, aku sama sekali gak belajar sih. Hehe. Maafkan aku. :”)

Akhirnya terlewati sudah semester dua dengan segala keruwetan tugas dan ujiannya, serta drama-drama yang terjadi di dalamnya.

Setelah itu, tentulah aku menanti-nanti hasil belajarku selama satu semester ke belakang. Sayangnya, pengumuman KHS di kampusku mengalami sedikit keterlambatan. Entah apa masalahnya. Di saat pembayaran UKT sudah dibuka, yang artinya mahasiswa sudah harus melaksanakan kewajibannya, tetapi hak mereka untuk menerima nilai mereka belum juga diberikan oleh pihak kampus.
Nah, barulah pada tanggal 2 Agustus 2019 pukul 00.01, Pustikom melalui akun instagramnya, mengumumkan bahwa mahasiswa sudah bisa melihat KHS-nya. Saat itu, kebetulan aku lagi begadang, jadi setelah ada teman yang mengabarkan, aku segera membuka SIAKAD untuk melihat nilaiku. Tentunya dengan berdoa terlebih dahulu.

Jujur aja, aku memang cukup deg-degan saat hendak membukanya. Namun aku bisa sedikit lebih santai di bandingkan semester sebelumnya. Apalagi karena aku membuka saat dini hari, jaringan juga sedang bagus-bagusnya. Hehe

Daaaan… saat aku membuka nilaiku, lagi-lagi IP-ku kali ini membuatku bersyukur. Memang belum sempurna, tetapi tidak terlalu buruk juga. Satu hal yang membuatku senang adalah bahwa aku berhasil membantah rumor yang beredar di antara teman-teman kuliahku, bahwa IP semester selanjutnya tidak akan bisa lebih tinggi daripada IP semester pertama. Segala puji bagi Allah, IP semester duaku lebih tinggi daripada IP semester satu. Walaupun, yaaaaaaaa, selisihnya bener-bener tipis banget, hihi.

Jadi, guys, rumor, “IP semester 1 adalah IP terbesar dari semua semester” itu belum tentu benar, ya. Semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing, sejauh mana kita mau berjuang untuk mendapatkan hasil yang baik.

Memang benar di semester awal, dosen pasti memberikan banyak kelonggaran. Mereka pun pasti memahami peralihan kita dari masa menjadi siswa ke mahasiswa. Tetapi, bukan berarti di semester pertama mereka memberi kelonggaran selonggar-longgarnya, sedangkan di semester selanjutnya mereka mengencangkan tali seketat-ketatnya.

Dosen Linguistikku pernah bilang, 
“Dosen tidak memberikan nilai, mahasiswa yang menentukan nilainya sendiri.” 
Nilai kita tidak tergantung pada dosen, ilmu yang kita dapatkan pun tidak tergantung pada dosen. Dosen hanya perantara antara kita dengan nilai dan ilmu itu sendiri. Selebihnya, kembali diri masing-masing.

So, jangan pernah pesimis, ya!

Kalau IP-mu di semester ini belum memuaskan, tetap berusaha! Nilaimu bisa lebih baik di setiap semesternya. Jangan lupa berdoa juga, segala usaha tanpa doa hanya akan berakhir sia-sia. Imbangi juga pembelajaran di perkuliahan dengan kegiatan bermanfaat lainnya, entah dengan berorganisasi, mengikuti lomba, ataupun yang lainnya. Agar kita tidak perlu berpeluh-peluh sampai jenuh dan bisa tetap menjalani semua dengan riang gembira! ๐Ÿ˜Š

Oh iya, aku pengen tau dong, apa aja sih rumor yang beredar di kampus kalian tentang IP dan sejenisnya? Kalau ada, boleh tulis di kolom komentar, ya.

Terima kasih untuk teman-teman yang udah membaca tulisanku ini sampai habis. Doakan aku supaya semakin rajin menulis, ya. 
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Wednesday, June 19, 2019

CERPEN: KELIRU Karya Hanafm

KELIRU
Hana Farhani Maulida


“Dia itu Cina!”
Aku terkesiap demi mendengarnya. Dalam hatiku bertanya-tanya, kenapa? Namun ibu tak mau menjelaskan dan lebih memilih menutup pintu kamar. Menangis. Saat itu juga aku diliputi kegamangan luar biasa. Apakah aku harus mengetuk pintu, atau pergi menuju ruang tamu. Aku tidak tahu dan hanya bisa terpaku di bibir pintu. Sementara di dalam kamar, ibu menangis tersedu.
“Bu, tolong jangan begini. Keluarlah!” pintaku sambil mengetuk pintu. Amat berhati-hati. Namun, tak ada jawaban, selain tangis yang semakin menderas.
Setelah diam membisu selama beberapa waktu, aku pergi ke ruang tamu. Menemui kekasih hatiku. Wajahnya amat sendu. Matanya berlinang pilu. Dia pasti mendengar semuanya, dan pastilah itu membuatnya sangat terluka.
Aku semakin tidak mengerti, tentang segalanya, termasuk bagaimana cara menghadapi dua wanita yang sedang terluka, yang mana aku sangat mencintai keduanya.
“Maafkan aku. Aku tidak mengerti.” Dan kalimat bodoh inilah yang terucap dari bibirku kemudian. Ia menatap mataku –masih dengan wajah sendu. Ya Tuhan, tolong hentikan waktu! “Aku akan pulang,” tuturnya parau.
Dan di sinilah kami sekarang, di dalam mobilku yang entah mengapa terasa sempit dan sesak. Aku memandang sang puan yang tengah menikmati ramainya kota, atau entahlah, aku hanya menerka-nerka sesuatu yang kuharap dapat membuatku lega. Padahal jelas kulihat tangisnya tak kunjung mereda. Mendung di parasnya tak kunjung sirna. Sungguh, aku tidak percaya. Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya rona bahagia yang terpancar?
Beberapa jam yang lalu, di tempat yang sama, kami begitu bahagia. Melepas canda yang mengundang tawa. Meski debar gugup di dada tak dipungkiri tetap ada. Sesampainya di rumahku, kesenangan itu masih tak terkira jumlahnya. Ibuku menyambutnya dengan perasaan suka cita. Tetapi, baru lima menit kami duduk di sofa, semua kegembiraan itu lenyap tak tersisa. 
Sebagai lelaki, aku tidak ditakdirkan untuk mudah peka. Kami lebih senang bermain logika. Untuk itulah, hingga detik ini, aku masih sibuk menerka-nerka.
Hening menemani kami selama dalam perjalanan.
Sang perempuan enggan berkata, lelakinya bingung harus mengucap apa.

**

“Kapan pacarmu itu dikenalin sama ibu?”
“Sabar, Bu. Nanti aku pasti kenalin sama Ibu.”
“Cepetan dong!” Ibu merajuk genit yang kusambut dengan senyum malu-malu.
Kurasakan ibu sangat gembira. Wajahnya tampak begitu antusias. Wajar saja, ini adalah kali pertama aku menceritakan seorang wanita kepada ibunda. Wanita yang telah kucintai selama setahun belakangan. Wanita pertama yang kucintai setelah dirinya.
Hari itupun tiba, hari di mana aku memperkenalkan kekasih hatiku pada ibu. Keduanya tampak begitu antusias. Ibu memasak hidangan terlezat untuk menjamu calon menantu, dan kekasihku membuat kue yang kubilang kesukaan calon mertuanya. Sebagai wanita, merekapun tak lupa menampilkan yang terbaik. Setelah makanan terhidang di meja, ibu sibuk bersolek. Sementara kekasihku, begitu lama kutunggu, karena sibuk mempercantik diri. Tak tahukah mereka, bahwa mereka sudah begitu sempurna di mataku –dengan ataupun tanpa bedak itu.
Jarak antara sedih dan bahagia sungguh terlalu dekat. Harapanku terlampau segala, hingga kenyataan membawaku pada siksa.

**

Masa melesat begitu cepat. Tidak pernah lebih lambat dari mata yang mengerjap. Aku telah tiba di depan rumahnya.
“Kenapa ibumu sangat membenciku?”  tanyanya setelah sekian lama membisu. Ia menunduk lemah.
Tak semua manusia dapat menemukan cintanya. Tak semua pertanyaan ada jawabannya. Aku menemukan cintaku –dirinya , tetapi tak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku belum mampu mencerna semuanya. Tidak bisa menyimpulkan apa-apa.
Apa yang baru saja terjadi seribu kali lebih cepat dibanding kilat, dan sejuta kali lebih menggemparkan dibanding gelegarnya. Mulutku terkunci rapat, yang bisa kulakukan selanjutnya hanyalah menggenggam tangannya erat.
“Tolong, tinggalkan perempuan itu. Kau bisa menikah dengan siapapun, asal tidak dengan mereka.” Aku teringat kalimat yang tadi ibu ucapkan setelah tiba-tiba meninggalkan ruang tamu saat kami tengah bercakap santai. Saat aku bertanya kenapa, ibu malah menjawab dengan jawaban yang membuatku semakin bertanya-tanya.
Aku menatap lekat mata bening kekasihku. Pikiranku pun melayang kepada cerita itu.
Kala itu, aku masih dalam rahim ibu. Beberapa hari kemudian barulah aku bisa merasakan dunia. Namun, dalam ‘beberapa hari’ itu begitu banyak yang terjadi. Beberapa hari itu cukup sudah mengacaukan kebahagiaan keluargaku.
Semua orang marah dan bertindak di luar kewarasan dirinya. Langit biru menjadi kelabu. Hujan turun menjatuhkan abu. Api membara di mana-mana. Asapnya membuat gelap dan pengap. Dan ayah ada di sana. Ketika semua orang berlari menjauh pergi, dengan gagah berani ayah turun ke sana. Mencari berita. Namun, sungguh, jika ayah hanya mencari berita, tentulah ayah tidak akan meregang nyawa. Ayah melakukan lebih dari tugasnya.
Ayah tak tahan dengan kerumunan itu. Hatinya panas melihatnya. Ayah menarik perempuan yang berada dalam kerumunan. Menyelamatkannya. Perempuan itu tampak menyedihkan. Pakaian yang melindungi tubuhnya sudah tak sempurna lagi. Rambutnya berantakan. Wajahnya dipenuhi memar. Entah apa saja yang sudah direnggut darinya. Namun, menyelamatkan perempuan itu tidak semudah yang ia kira. Pepatah ‘kebaikan akan selalu menang’ ketika itu, sangat tidak ada artinya. Ayah tidak bisa menjadi malaikat untuk perempuan itu. Justru malaikat yang datang menjemputnya. Ayah dibunuh. Dibunuh karena kebaikan hatinya.
Aku ingat cerita itu. Aku ingat wajah sendu ibu ketika menceritakannya. Pelan-pelan aku mulai memahami sesuatu.

**

Aku kembali ke rumah, menemui Ibu yang kutahu sangat terluka. Kejadian itu memang sudah ia maafkan. Namun, dendam hanya terpendam, tidak sirna. Aku memeluk ibu yang masih saja terluka. Tak peduli sudah berapa lama, semuanya masih tersimpan rapi di dalam kepala. Teringat dan membekas selamanya.
Ayahmu adalah orang baik, namun menjadi baik harus siap dicabik. Itu yang dulu juga ibu katakan. Ibu benar. Aku tahu itu. Aku sangat mengenal ayahku, seratus persen sama dengan ibu mengenalnya. Aku bercakap dengan ayah melalui cerita-cerita ibu. Aku masih dalam rahimnya kala itu. Tak bisa merasakan kesedihan ibu. Tiada kuasa mengusap air matanya. Kini aku sudah dewasa, lebih dari cukup untuk memahami semuanya. 
Memang selama ini kutahu ibu bisa berdamai dengan waktu. Menjalani hidup dengan baik-baik saja. Bahkan berkeseharian dengan mereka, namun untuk menjadikan salah satu dari mereka keluarga, aku mengerti kenapa ibu tak pernah rela.
Saat mengetahui kekasihku ternyata berdarah Tionghoa, masa lalu itu kembali lagi, menyayat hatinya bagai sembilu. Bertahun-tahun ia yakin luka itu telah sirna, namun ternyata dendam itu hanya terpendam, dan melekat selamanya. Tak peduli sampai sejauh ini dia terlihat baik-baik saja.
Sekarang semuanya terang benderang.

**

Senja adalah waktu berpisah untuk hari yang baik ataupun buruk. Entah hari ini hari yang seperti apa, tetapi semoga perpisahan ini menjadi sebuah awal untuk melihat indahnya bintang di langit. Meski aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kekasihku ada di depan mataku, wajahnya masih saja sendu. Aku dilucuti rindu. Hasrat memeluknya begitu menggebu. Namun kali ini tak bisa lagi.
Aku menyampaikan semuanya. Semua hal yang bahkan pernah terlupa olehku.
“Aku turut berduka cita atas ayahmu. Kebaikan hatinya pada kami telah merenggut nyawa sekaligus kebahagiaan keluargamu,” ujarnya sendu. Tumpah ruah air mata tidak kuasa dibendungnya lagi.
“Sungguh, itu bukan salahmu. Kau tak ada sangkut pautnya dalam tragedi itu.” Ya Tuhan, tolong jangan buat kekasihku merasa bersalah. Ini bukan salahnya. Takdir saja yang tak berpihak pada kami. Hatiku semakin tidak terima, haruskah aku meninggalkan perempuan sesuci dirinya?
“Aku tidak sesuci yang kau kira. Aku terlibat. Aku adalah bagian dalam tragedi pilu itu.” Air matanya terhenti, tetapi kini aku yang tidak mengerti, apa maksudnya?
“Aku adalah salah satu anak korban dari tragedi itu, dan perbuatan ayahmu sungguh sedikit banyak menyenangkan hatiku. Bahwa ternyata masih ada yang peduli pada kami saat itu,” pungkasnya sambil tersenyum. Senyum yang begitu teduh. Aku terperanjat tidak percaya. Bagaimana mungkin?

**


Terima kasih telah berkenan membaca. Kritik dan saran sungguh sangat aku harapkan. :)
Salam sastra, salam cinta ๐Ÿ’“

Jadilah temanku!
Ikuti aku di instagram: hanafrhani
Beli buku di @bookstore.fm (ig), ya. 
Surel: hanafm24@gmail.com

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...