~~~
Guru favoritku selalu berkata bahwa
saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya,
IPK adalah yang utama. Aku separuh menuruti, sedikit membangkang. Ia selalu
menjadi guru favoritku, meski kami berbeda dalam beberapa hal. Nasihat-nasihatnya
selalu terukir di hatiku. Namun kini aku adalah manusia merdeka dan oleh sebab itu
berhak memiliki keyakinan terhadap pemikiranku sendiri; bahwa IPK bukan
segalanya.
Sejak awal selalu kukatakan
begitu. Agak sombong memang. Terlebih sejak semester awal IPK-ku selalu melangkah
maju, meski dengan malu-malu. Sampai ternyata di semester empat kemarin, IPK-ku
menurun. Dan ternyata, aku cukup sedih. Memang tidak drastis, begitu hiburku
pada diri sendiri. Namun tetap saja hadir sedikit kegelisahan di hati.
Setelah kutilik kembali, aku mulai
bisa menerima semuanya. Semester ini memang tidak mudah bagiku, dan mungkin
bagi semuanya. Pandemi hadir di antara kami. Kami beradaptasi dari perkuliahan
yang biasa dilakukan secara tatap muka dengan tatap maya atau dikenal dengan
istilah PJJ (Perkuliahan Jarak Jauh). Ah, kami mengenal terlalu banyak istilah
baru semenjak pandemi ini.
Sejujurnya, PJJ ini menyenangkan bagiku.
Aku tak perlu bangun sepagi mungkin untuk berjuang di padatnya kereta pagi lalu
menghadapi macetnya ibukota di jam sibuk. Namun yang menyedihkan adalah
keterbatasan jaringan internet di daerahku. Huh, menyebalkan sekali. Setiap ada
pertemuan tatap maya melalui video konferensi, aku sulit sekali untuk menyimak
materi. Bagaimana hendak menyimak, aku disibukkan untuk mengurusi sinyal yang
tidak stabil. Bisa dibayangkan betapa menyebalkannya. Walau sebenarnya aku tak
ingin kamu membayangkan hal yang buruk. Sebab cukup diriku saja yang ada di bayanganmu
:p (CAILAH)
Meski begitu, aku tak ingin hanya
menyalahkan keadaan. Sebab dari hal-hal kurang baik yang terjadi, selalu ada
hal luar biasa yang Allah takdirkan untukku. Sejak awal perkuliahan semester
ini, aku mulai mencoba mengikuti organisasi yang kujalani dengan niat yang
serius dan menyenangkan. Meski aku gak-aktif-aktif-amat, tetapi karena aku
menjalaninya dengan sepenuh hati, maka tak dapat dipungkiri bahwa waktuku sedikit-banyak aku korbankan untuknya. Aku senang menjalaninya, dan itu adalah anugerah. Aku tak
menyesalinya.
Selain memulai berorganisasi, di
semester ini aku juga mulai kembali menemukan semangatku. Asiiiik, wkwk. Tepatnya,
aku mulai mengembangkan kegemaranku terhadap literasi-bisnis. Aku menyalurkannya
dengan mendirikan sebuah toko buku online kecil, yang kunamai Toko Buku
FM (dulunya bookstore fm). Aku memang sudah mendirikan ini sejak tahun 2019, tetapi
sejak PJJ ini aku bisa lebih banyak memberikan waktuku untuk buah hatiku ini. Ah,
ia semakin tumbuh menggemaskan.
Bahkan sempat terbesit dalam
pikiranku untuk meninggalkan bangku kuliah untuk menjalani dengan serius toko
bukuku ini. Sebab aku merasa benar-benar menemukan diriku di sini. Aku benar-benar
mencintai setiap yang aku kerjakan. Namun setelah kupikirkan matang-matang, aku
tidak mungkin melakukannya. Sebab bangku perkuliahan adalah amanah yang harus
kujalani dengan baik sampai tuntas. Aku tak ingin berhenti di tengah jalan. Selagi
Allah menakdirkan terus berjalan di sini sampai akhir, aku akan menuntaskannya.
Pada saatnya, akan ada waktunya. Aku memang masih begitu muda dan berapi-api,
tetapi aku terus belajar untuk menjadi bijak.
Pada semester ini, nilaiku memang
tak sebaik sebelumnya, tetapi aku belajar banyak hal. Sinyal, organisasi, dan
toko buku bisa dibilang sebagai tiga faktor utama terhadap menurunnya IPK-ku
pada semester ini. Dan, hey, dua dari tiga hal itu merupakan hal baik. Aku tidak
sedikitpun menyesalinya. Justru kedua hal itu banyak sekali membantuku. Aku amat
mensyukurinya.
Aku tak ingin menjadikan kesalahanku atas pembenaran terhadap hal ini. Namun pemahaman yang kudapatkan sampai detik ini, membuatku semakin menyadari bahwa aku memang
perlu banyak belajar, terutama perihal memanajemen waktu dan prioritas, serta
kesadaran mengenai bahwa tak segala hal bisa kupeluk sekaligus. Bahwa untuk
mengejar sesuatu, memerlukan pengorbanan pada hal lainnya. Ya, aku masih perlu
banyak belajar. Sangat banyak. Namun aku tak ingin membebani diriku dengan
kalimat-kalimat negatif dan menyudutkan. Aku ingin mengapresiasi diriku yang
sudah bekerja keras dan bertahan dengan luar biasa hingga saat ini.
“Hei, Hana, kamu benar-benar luar
biasa!”
Omong-omong, aku sangat amat
terlambat menuliskan ini. Aku baru menuliskan #TentangIP ini di perjalanan menuju
akhir semester lima, di antara padatnya tugas menjelang UAS. Tadinya, aku ingin
berkeluh kesah. Barangkali itu bisa melegakan pikiranku. Namun ternyata tidak,
aku lebih banyak bersyukur daripada mengutuk. Ah, waktu dan keadaan. Kau sungguh
mendewasakan.
Baiklah, sudah cukup rasanya. Terima
kasih sudah membaca ceritaku. Aku sangat berterimakasih. Jangan khawatir, sebentar
lagi akhir semester lima, kita akan kembali berjumpa dalam waktu dekat. Doakan aku
agar tulisanku nanti tidak terlambat dan hal-hal baik yang akan kau baca
selanjutnya. Maafkanlah segala hal buruk yang ada di sini. Cukuplah kau
menjadikannya pelajaran. Bawalah pulang hanya hal-hal serta doa yang baik.
Sekian, kecup jauh paling hangat
dariku,
Hanafm –pemilik Toko Buku FM.
