Friday, March 02, 2018

NASKAH: TERSESAT karya Hanafm

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Hallo! Selamat pagi! Aku tidak tahu, sih, kalian membaca tulisan ini ketika pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Tapi, semoga saja semangat kalian selalu secerah dan sehangat matahari pagi. 😊

Kali ini aku akan membagikan naskah teater karyaku sendiri. Naskah dengan judul "TERSESAT" ini mulanya diperuntukkan untuk ujian praktik kelas 12 IPS 1 di SMAN 1 Ciomas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Sejarah.

Dengan begitu banyak tekanan dan aroma kopi, akhirnya aku bisa menyelesaikan naskah ini dalam beberapa hari saja. Suatu pencapaian tersendiri, sih, untukku yang masih awam dalam dunia literasi. 

Oh ya, aku akan senang sekali, lho, jika ada di antara teman-teman yang menggunakan naskahku untuk pementasan teater kalian. Jika betulan ada, tolong beritahu aku, ya! Cukup dm ke instagram (hanafrhani)  atau email (hanafm24@gmail.com)  Hehe. (ngarep banget, dah!) 

Okey, langsung saja, ya... 
Ini dia!!!




**


TERSESAT
Hanafm



Pemain :
1. Maira / May
2. Karang
3. Ibu
4. Bapak
5. Hanif / Kakak Maira
6. Guru
7.  Pretty / Teman Maira I
8. Rani / Teman Maira II
9. Juki / Teman Maira III
10. Teman Maira (lebih dari satu)
11. Pemimpin Perusahaan
12. Asisten Pemimpin Perusahan
13. Koordinator Demo
14. Demonstran (lebih dari lima orang)
15. Satpam
16. Teman Karang

ADEGAN 1
Terik matahari seakan membakar tubuh, memancing peluh untuk jatuh, meski tetap tak mampu menyurutkan semangat para buruh PT. Unibaper yang sedang berdemo di depan kantor pusat, mereka menuntut keadilan atas hak mereka. Sudah dua tahun gaji mereka tidak dinaikkan. Mereka ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan untuk menyuarakan keresahan mereka selama ini. Mereka berteriak kesakitan karena menahan panas, haus, dan lapar, serta penderitaan yang tiada berujung. 
(koordinator demo berorasi dengan berapi-api, diikuti para buruh) 
NAIKKAN UPAH KAMI! 
NAIKKAN GAJI KAMI!
BERIKAN BURUH KESEJAHTERAAN!
APARAT KEAMANAN : Harap tenang semuanya!
KOORDINATOR DEMO : Kami tidak tenang sampai kami bertemu dengan direktur, BETUL!!?
PARA BURUH : BETUL!! (meninju tangannya ke udara)
KOORDINATOR DEMO: Peringatan!!!
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa.
kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan! (Wiji Thukul, 1986) 
PARA BURUH: LAWAN!!! LAWAN!!!

Setelah mereka berorasi menyuarakan tuntutan, keluarlah dua orang berpakaian rapi dan necis, yaitu pemimpin perusahaan bersama asistennya. Pemimpin perusahaan tersebut langsung naik ke atas mimbar dan asistennya berdiri tepat disampingnya. Aparat keamanan menertibkan kembali. Meminta semua untuk tenang.
ASISTEN : Silakan katakan keinginan kalian!
KOORDINATOR : Kami ingin gaji kami dinaikkan. Kesejahteraan buruh ditingkatkan. SETUJU!!?
BURUH : SETUJU!!!
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Baik, permintaan kalian akan saya penuhi. Saya janji! Sekarang kalian pulang, dan besok silakan bekerja lagi. (Para buruh bersorak, HUUUU)
KOORDINATOR : Bagaimana kami bisa percaya dengan Anda?
Pemimpin Perusahaan : Saya telah berjanji! Dan janji kami orang-orang BARAT tidak seperti janji pemimpin-pemimpin kalian.
(Pemimpin perusahaan itu turun dari mimbar, disusul asistennya. Koordinator demo membubarkan para buruh.)


ADEGAN 2
Pemimpin perusahaan berkewarganegaraan asing itu masuk ke ruang kerjanya yang bersih, rapi, dan dingin. Berbanding berjuta kali lipat dengan suasana di luar tadi.
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Oh my God, mereka membuat saya pusing! Dasar rakyat-rakyat jelata menjijikan! (sambil merebahkan tubuhnya di kursi)
ASISTEN : Apakah Anda benar akan memenuhi permintaan mereka?
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Apa yang kau bicarakan? Saya tidak akan melakukannya!
ASISTEN : Tapi, bukankah...
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Shut Up! Kau tidak dibayar untuk menceramahi saya! (berdiri) Lagipula, untuk apa saya menunaikan janji kepada mereka? Toh, digaji kecil atau besar mereka akan tetap bekerja untuk saya. Jika bukan karena saya darimana mereka akan makan? Meminta kepada pemimpin mereka? pemimpin mereka saja masih berhutang banyak kepada negara saya! (dengan wajah melecehkan) 
ASISTEN: Saya mengerti, tapi apa Anda tidak sedikitpun iba pada mereka? 
PEMIMPIN PERUSAHAAN : Oh, ya, ya... Saya paham, kau membela mereka karena kau juga bagian dari mereka. Kau ingin naik gaji juga, kan? (Asisten nyengir, sambil menggaruk-garuk kepalanya) 
Dasar serakah! Gajimu itu sudah besar! Berpuluh-puluh kali lipat besarnya dibanding mereka! Apa lagi yang kurang? (diam sejenak) Tetapi, baiklah. Kau sudah berkorban banyak untuk saya, saya akan memberimu bonus dan menaikkan gajimu. Tapi, kau harus bisa memastikan proyek pembebasan lahan di Kampung Derita itu segera diselesaikan. Saya sudah tak sabar ingin mengembangkan kerajaan bisnisku! 
ASISTEN : Saya akan melakukan yang terbaik untuk Anda dan kemajuan perusahaaan ini.


ADEGAN 3
Di sebuah rumah kecil yang berada di gang sempit di sudut Ibu kota, terdapat seorang Ibu dan anaknya yang tengah menikmati santap makan malam dengan hening. Hingga datanglah Bapak dengan wajah kelelahan dan langsung duduk di meja makan. 
MAIRA : Bapak tadi demo? Tadi May liat di tv ( Bapak mengangguk )
IBU : Bapak lu udah demo berkali-kali tetep aje gajinye segitu-gitu bae, kagak naek-naek! Sembako aja sekarang udah pade naek. Kalau gak dibantu sama Ibu mana bisa lu makan enak tiap hari.
BAPAK : Baru pulang dimarahin, ngajak berantem? 
MAIRA : Udah Pak, Bu, udah!
BAPAK : May, lu kalau udah jadi istri harus doain suami, supaya sukses, dapet banyak duit. Bukan ngeluh aja saban hari kerjaannya. Toh, gaji laki lu buat lu -lu juga! 
IBU : Ah, pokoknya nih, May! Elu kalau nikah cari laki yang kaya dah, yang kerjanye rapi pake dasi pake seragam.
BAPAK : Tukang sampah juga pake seragam!
(Anak pertama mereka, Hanif yang baru pulang bekerja masuk.)
HANIF : Assalamualaykum... ada apa sih ini? (salam kepada Bapak, Ibu, dan Maira)
IBU : Wa'alaykumsalam... nah, udah balik lu, Nif, makan dulu dah sini! (Hanif duduk)
         Makan yang banyak, ya! (sambil mengambilkan makanan untuk anaknya)
BAPAK : Anak yang udah ngehasilin duit aja lu perhatiin. Gua laki lu sendiri kaga pernah! Noh liat si May dari tadi melongo! (menunjuk Maira) 
IBU : O iya, May, lu sekarang kelas 3 kan, ya? Entar lu kerja aja di kantor abang lu! Cari dah bos Abang lu yang tajir, biar lu dinikahin!
HANIF : Ibu, May kan mau kuliah. Ya kan, May? (Maira bergeming)
IBU : Enggak usah, deh. Ibu udah gak sanggup lagi ngebiayain si May, pas elu aja Ibu udah engap-engapan!
HANIF : Tenang, Bu. Di kantor Hanif ada beasiswa, May bisa daftar. May kan pinter. Tenang aja nanti sama Abang diusahain. Kamu mau kan, May? (Maira tetap bergeming)
IBU : Kalau gitu, Ibu setuju aja! Asal kagak ngeberatin Ibu lagi, Ibu udah tua! Ibu capek! Bapak elu mana pernah mikirin sekolah lu pada? Buat makan aja semuanya serba ngepas. Kalau bukan karena Ibu...
BAPAK : Ya Allah, elu jadi bini gak ada bersyukurnya, ya. Kerjaannya ngejelekin laki di depan anak sendiri. Gua ini kepala rumah tangga. Lu itu harusnya ngehargain gua. Capek gua lama-lama di sini. Kagak pernah ada harganya di mata elu. Kagak ngerti lagi, dah! Gak sama anak, gak sama tetangga, kerjaannya ngomongin kejelekan laki mulu, lu, ya.
IBU : Kalau elu jadi laki, jadi bapak, punya kerjaan enak juga gua gak akan ngeluh lagi. Gua bisa enak ngurus anak, dandan, arisan. Elu gak bisa ngasih hidup enak buat gua berani-beraninya marahin gua!
BAPAK : Ah, terserah! (memukul meja, keluar)
IBU : (sambil membereskan piring) Udah, biarin aja. Bapak kalian emang biasanya begitu. Nanti juga balik lagi ke sini. Paling jauh ke pos ronda, main catur, main gaple, ngopi ama pengangguran. Awas aja tuh orang judi, udah duit sedikit, terus dia pake judi. Kaga gua kasih kamar lagi. (masuk ke dapur membawa piring)
(Maira dan Hanif menghela nafas. Mereka sudah terlalu biasa mendengar pertengkaran kedua orangtua mereka)
HANIF : Gimana, May? Kamu mau?
MAIRA : Gak tau, Bang.
HANIF : Nih, May, abang kasih tau! Kalau kamu kerja Cuma pake ijazah SMA, paling-paling kamu jadi SPG, atau kerja jadi buruh kaya Bapak. Gajinya kecil. Gak dihargai sama orang. Kalau kamu pegang ijazah S1, kamu bakal dapet kerjaan enak! Kantornya pake AC!  Gajinya gede! Apalagi kalau kamu dapet beasiswa di kantor Abang, kamu bisa langsung kerja. Enak, kan?
MAIRA : Gak tau, Bang.
HANIF : Kamu ini setiap ditanya jawabannya diem, sekalinya jawab cuma gak tau gak tau aja. Jadi kamu tuh mau ngapain abis lulus? NIKAH? (dengan nada cukup tinggi) 
MAIRA : May Cuma aneh aja, Bang. Bapak kerja jadi buruh di pabrik punya asing. Abang, nyuruh May kuliah dan kerja di perusahaan punya asing. Bahkan Ibu lebih parah! Malah nyuruh May nikah sama bos kaya. May gak paham, Bang.
HANIF : Ibu seperti itu karena Ibu Cuma lulusan SD, dan Bapak bekerja jadi buruh juga karena Bapak cuma tamat SMP. Liat abang! Abang S1, kerjanya enak! Gajinya lumayan! Walaupun gaji abang lebih banyak buat bayar hutang Ibu sama Bapak. Yang penting kehidupan Abang udah terjamin.
MAIRA : Bukannya Abang cuma pegawai kontrak? Apanya yang terjamin kalau cuma pegawai kontrak? (diam cukup lama)
HANIF : Maksud kamu apa, May? (berdiri) 
MAIRA : May cuma gak paham, Bang. Kenapa Abang gak kerja aja di perusahaan punya negera kita aja? Kan banyak juga.
HANIF : Perusahaan-perusahaan punya negara kita lebih suka pakai tenaga kerja asing yang sudah professional. Mereka tidak percaya dengan saudara mereka sendiri. Menurut mereka, apapun yang dikeluarkan asing itu lebih unggul, lebih hebat! Kalau Abang maksa pengen kerja di perusahaan punya negeri kita sendiri, mungkin sampai sekarang Abang masih nganggur. Cuma nambah-nambah beban Ibu sama Bapak!
MAIRA : Kenapa seperti itu, ya, bang? Kita  seperti jadi budak orang asing di negeri sendiri. dan negeri sendiri, malah mengeluh-eluhkan, memuja-muja produk asing? 
HANIF : Seperti itulah, May. Realitas negeri ini kejam sekali. kalau kita mau terus menerus idealis yang ada perut kita semakin kritis. Susah terus menerus. Sekarang, kita realistis saja! Yang penting perut kenyang dan hati senang. Hal-hal lain biar yang berkepentingan saja yang memikirkan. Itu bukan urusan kita! Toh, mereka juga tidak pernah memikirkan nasib kita. (Maira diam) Sekarang, kamu pikirkan baik-baik tawaran Abang!


ADEGAN 4
Pukul 12 siang, matahari berada di puncak suhu terpanasnya hari ini. Suasana kelas 12 IPS 1 ramai-hening. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tertidur, bermain ponsel, dan ngobrol dengan teman-temannya. Rani, salah satu murid sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Sesekali menggaruk kepala.
PRETTY : Lagi ngapain, sih, Ran? Serius amat!
RANI : Ini nih, susah banget! (menunjuk bukunya) 
PRETTY : (merebut buku Rani) Ya ampun, rajin banget sih, Ran! 
RANI : Iya lah, kan aku mau ke Jepang!
JUKI : Ngapain ke Jepang? Mau belajar HEKI HEKI IHCOMIK? (Juki nimbrung) 
RANI : Garing loe! 
PRETTY : Kalau aku sih pengennya ke Amrik , jadi artis hollywood. Nanti acting sama Angelina Jolie, Brad Pitt, duh, gak kebayang! Kalian pasti nanti bangga sama aku. Terus kalian bilang ke semua teman-teman baru kalian ‘Hey, temen SMA gue jadi artis hollywood, lho!’
JUKI : Lu jadi artis, Angelina Jolie sama Brad Pitt juga udah keburu pensiun! (Pretty cemberut)
            Kalau gue pengen jadi presiden aja, ah. Nanti bisa jalan-jalan keluar negeri gratis, haha. (keluar) 
PRETTY : Dasar gak jelas! 
MAIRA : Kenapa, sih, kalian pengen banget keluar negeri?
PRETTY : Luar negeri itu keren, May. Apalagi Amrik, semua dari mereka itu keren, pokoknya!
RANI : Iya, May! Kalau aku sih paling suka Jepang! 
            Jepang itu terkenal dengan budaya disiplinnya yang kuat. Orang-orang di sana itu lebih banyak bekerja daripada bicara. Gak kayak orang-orang Indonesia. Kerja nyata gak ada, tapi mulut sudah berkoar-koar kemana-mana. 
PRETTY : Iya, May! Artis luar negeri juga lebih keren dari pada di sini! Mereka itu professional, aktingnya keren. Gak kaya di sini! Artis-artis populernya bukan karena karya, tapi gara-gara gossip. Selebay-lebaynya gue, gue gak mau tuh populer karena hal kaya gitu! Gak berkelas banget, deh!
RANI : Kalau kamu mau apa May abis lulus? (Maira bergeming)
PRETTY : Jangan bilang mau nikah? HAHAHA
Dan ketika Maira dan teman-temannya sedang asyik ngobrol. Tiba-tiba...
JUKI : Woy, ngopi ngapa ngopi! Diem-diem bae! (sekelas tertawa, tetapi tiba-tiba guru masuk, memukul meja dengan barang saktinya. Juki dan yang lain kaget.)
            Eh Ibu, ngopi gak, Bu? Hehe (lalu beranjak ke kursinya)
GURU : (menggelengkan kepala) Kalian ini, sudah bel daritadi guru bukannya dipanggil malah dicuekin aja. Malah bercanda-bercanda gak jelas kaya gini, sudah kelas 12 tapi masih belum ada serius-seriusnya. Mau jadi apa kalian nanti?
JUKI : Presiden, Bu. Tapi gak pake janji. Gak pake korupsi juga, tapi...kalau korupsi inget lagi omongan pertama saya, gak pake janji. Hahaha. (teman-temannya bersorak,HUUUU)
GURU : Kamu ini, Juk. Ibu ini serius, lho! Masa depan kalian kelak, ditentukan oleh apa yang kalian rencanakan dan lakukan hari ini. Jadi, kalian ini harus sudah serius merancang masa depan. (Murid-murid mulai menguap, bosan diceramahi)


ADEGAN 5
Karang, kekasih Maira, seperti biasa mengantar Maira pulang. Dan sebelum pulang, mereka selalu duduk sebentar di taman yang terletak tak jauh dari sekolah mereka. Membicarakan banyak hal. 
KARANG : Hey, kamu kenapa? Dari tadi aku liat bengong aja! (Maira menggeleng)
        Cerita aja kalau ada apa-apa!
MAIRA : Aku hanya bingung, Karang. Mau apa setelah lulus SMA nanti?
KARANG : Memangnya kamu tidak ingin kuliah?
MAIRA : Aku tidak tahu, Karang. Aku bingung. Kalau kamu mau apa?
KARANG : Entahlah, aku lebih bingung. Mungkin aku akan menikahimu.
MAIRA : Karang, ayolah. Aku serius kali ini! (merajuk) 
KARANG : Aku tidak tahu, Maira. Aku sama bingungnya denganmu. Walaupun aku tidak tahu pasti apa yang membuatmu bingung. Kamu bahkan tidak mau berbagi cerita denganku? (Maira merajuk)
         Baiklah, wanitaku. Setelah lulus  nanti mungkin aku akan berkelana. Menjelajah hutan, mengarungi samudera, mendaki gunung, melewati gurun, atau apapun. Aku ingin menjadi manusia yang bebas. Manusia yang bisa melakukan hal-hal baik dengan tulus. Tanpa perintah atau imbalan. 
MAIRA : Aku tidak mengerti, Karang.
KARANG : Aku juga sama tidak mengertinya denganmu. Sudahlah Maira, jangan pikirkan hal ini berlebihan. Aku yakin kamu pasti tahu apa yang terbaik untukmu. Dan semua yang kaupilih kupercaya itu pasti yang terbaik. Sama ketika kamu memilihku. Aku ini yang terbaik bukan? Ayo kita pulang, senja mulai beranjak datang.
(Karang menarik tangan Maira. Dan, ketika itu Maira membalas tarikan tangan Karang)
MAIRA : Karang, aku benci dengan kenyataan ini.
    Aku bingung. Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu mengapa Ayahku memilih bekerja menjadi buruh di pabrik milik negara yang pernah menjajah negeri kita beratus-ratus tahun lamanya. Negara yang telah menanamkan mental budak kepada seluruh rakyat negeri ini. Aku tidak mengerti.
   Aku juga tidak paham mengapa Kakakku malah menyuruhku bekerja untuk orang-orang bermata sipit itu. Mereka itu kan pendatang? Tapi mengapa sekarang justru aku, justru rakyat di negeri ini yang harus bekerja untuk mereka? Pasar semuanya dikuasai oleh mereka. dan rakyat di negeri ini hanya menjadi budak, pesuruh, penggerak mimpi-mimpi mereka untuk memiliki bumi pertiwi ini?
   Dan Karang, apa kau tahu? Ibuku... Ibuku bahkan menyuruhku untuk mengabdikan hidupku untuk orang asing. Memenuhi ambisi-ambisi mereka. Memuaskan nafsu-nafsu mereka. Karang, aku tidak ingin. Aku tidak ingin...
KARANG : Maira, bukan salah mereka. Bukan salah penjajah yang telah menanamkan mental budak kepada negeri ini. Bukan. Bukan juga salah para pendatang yang tiba-tiba berubah menjadi tuan rumah, lalu bermetamorfosis menjadi penjajah masa kini. Bukan, Maira. Ini bukan salah mereka.
         Aku benci mengatakannya. Tapi sejatinya ini adalah salah kita sendiri. Sebelum mereka semua memperbudak kita, kita telah diperbudak oleh kemalasan dan kebodohan. Kita hanya mau bekerja jika ada perintah dan upah. Kita tak jauh berbeda dengan singa laut, siap melewati lingkaran api demi ikan. Kita tak ubahnya binatang, Maira.
                 Dan, mereka yang berhasil merdeka dari kemalasan dan kebodohan itu malah terperangkap dalam jaring kerakusan. Hanya berpikir untuk mengenyangkan perut mereka sendiri. Haus akan kekuasaan. Rela menggadai tanah mereka sendiri demi perut. Percayalah, Maira, negeri ini tidak pernah kekurangan orang-orang cerdas. Negeri ini hanya kehilangan orang-orang yang mencintainya dengan tulus. 
         Lalu,kemana orang-orang baik? Kemana orang-orang itu? Orang-orang baik tetap ada, Maira. Mereka masih tersisa. Meski jumlahnya mungkin dapat dihitung. Namun sayang, mereka memutuskan tidak peduli. Mereka memilih hidup bahagia sendirian. Tak peduli yang lain, yang penting aku, keluargaku, dan kekasihku semuanya hidup dengan baik. Begitu pikiran mereka, Maira.
MAIRA : Apa yang dapat kita lakukan, Karang?
KARANG : Sudahlah, Maira. Jangan terlalu dipikirkan. 
MAIRA : Karang, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku. Hanya kamu yang benar-benar memahami bagaimana diriku. (Karang tersenyum)
KARANG : Aku akan mengantarmu pulang. Ayo, Maira.


ADEGAN 6
Hari ini pengumuman kelulusan siswa/i kelas 12 SMAN 1 Bakti Negeri. Semua menari sambil bernyanyi setelah mendengar kabar kelulusan itu. Waktu berlalu begitu cepat, perpisahan terjadi begitu nyata. Kemudian,  ketika hari ini kita menengok ke belakang, kita perlahan menyadari bahwa tiga tahun benar-benar berlalu tanpa terasa.
RANI : Wih, lulusan terbaik! Selamat, ya, Maira.
PRETTY : Keren banget, May. Kalau aku, bisa lulus aja udah alhamdulillah. He he. (Rani dan Pretty memeluk Maira) 
MAIRA : Terima kasih, ya. Oh iya, kamu jadi kuliah di Jepang, Ran? ( Rani menggeleng )
                Kenapa?
RANI : Biaya hidup di sana mahal banget, orang tuaku gak mampu. Beasiswa yang aku dapat gak menanggung biaya hidup.
MAIRA : Kamu gimana, Pret? Jadi ke Amrik?
PRETTY : Jadi kok. Tapi gak sekarang! Aku harus kerja dulu, mungkin sambil ikut casting di Indonesa. Setelah itu baru aku go internasional.
                  Kalau kamu gimana, May?
RANI : Iya kamu gak pernah cerita sama kami.
MAIRA : Aku akan menikah dengan Karang! (Maira berbisik membuat kedua temannya itu kaget setengah mati.) 
PRETTY : Omongan aku waktu itu gak serius, May. Jangan diambil hati.
MAIRA : Aku serius. Eh, kalian ada yang melihat Karang tidak? (Kedua temannya menggeleng)


ADEGAN 7
Maira pulang ke rumah. Hendak memberi tahu kabar menyenangkan itu kepada seluruh keluarganya. Meskipun terselip sedikit ketakutan di hatinya. 
MAIRA : Assalamu'alaykum
HANIF : Wa'alaykumsalam. Selamat, ya, Adik Abang akhirnya lulus! Besok, kita urus pendaftaran beasiswa di kantor Abang, ya.
MAIRA : Gak mau, Bang.
HANIF : Loh, kenapa gak mau?
MAIRA : Maira mau menikah saja. 
HANIF : Apa maksudmu
MAIRA : Ya, iya, Bang, Maira ingin menikah.
HANIF : Menikah? Hei berapa usiamu, Maira? Di usia saat ini seharusnya kau belajar, bukan menikah. Mau jadi apa kau kelak?
MAIRA : Maira ingin jadi istri yang baik, jadi Ibu yang baik.
HANIF : Maira kau pikir menikah itu mudah? Pernikahan itu tidak sesederhana yang kaubayangkan. (diam sejenak) IBUU!! IBU!!
(Ibu datang sambil membawa bakul)
IBU : Apa sih ya Allah teriak-teriak, malu sama tetangga.
MAIRA : Bu, Maira ingin menikah.
IBU : Hah? Nikah? Sama siapa? Bos emas  atau bos sembako? Atau jangan-jangan...... 
MAIRA : Maira ingin menikah dengan teman sekolah Maira, Karang.
IBU : Heh, apa maksud lu, May? Piyik sama piyik nikah? Lu pikir nikah itu gampang? Mau makan apa lu entar? Mau dikasih makan apa anak lu entar? Kalau sama si Karang Ibu gak setuju. Kecuali lu nikah sama orang kaya. Bisa, deh, ibu tenang. Gak sia-sia ibu ngegedein lu sampe sekarang. 
HANIF : Sudahlah, pokoknya kamu tidak boleh menikah, Maira. Belum waktunya! Kamu akan mendaftar beasiswa di perusahaan tempat abang kerja. Titik.
MAIRA : Tapi Abang, ini masa depan Maira. Biar Maira sendiri yang menentukan.
HANIF : Menikah di usia sedini ini? Masa depan apa yang kamu maksud?
IBU : Udah, udah, gak usah ribut. Puyeng gue dengernya. Lu turutin aja, deh, mau abang lu. Daripada lu nikah sama orang gak jelas, sama orang yang mentah. (Berlalu, masuk ke dalam rumah)
HANIF : Pokoknya kamu tetap harus kuliah!
MAIRA : Kuliah? Untuk apa kuliah, Abang? Untuk menjadi budak orang lain? Orang-orang asing itu!? Maira tidak ingin. Maira tidak ingin. 
HANIF : Tidak usah terlalu idealis, Maira. Kamu mau terus-terusan hidup susah seperti ini?
MAIRA : Untuk apa hidup senang kalau hanya menjadi duri dalam daging di negeri sendiri? Menjadi pengkhianat negeri sendiri? Menghamba pada kekuasaan asing di negeri sendiri? Tunduk pada kekuatan asing di negeri sendiri? Itukah definisi hidup senang yang Abang maksud? Egois!
(Hanif menampar Maira, lalu Hanif masuk ke dalam rumah) 
MAIRA : Aku harus menemui Karang, Ya, hanya dia yang bisa memahami aku. aku tidak bisa terus menerus tinggal di rumah yang penuh dengan keegoisan dan keserakahan ini! Aku muak!
(Maira pergi dari rumahnya)


ADEGAN 8
Maira mencari Karang kemana-mana, tetapi Ia tak kunjung menemukan sosok laki-laki yang selalu bilang ingin menikahinya itu. Ia mencari di sekolah tidak ada, di tempat teman-temannya juga tidak ada, ia tidak pernah tahu dimana rumah Karang. Namun, setelah bertanya kepada hampir semua teman Karang, Maira tau letak rumah Karang.
Ketika sampai, Maira tidak ragu untuk langsung mengetuk pintu. Memanggil-manggil nama kekasihnya itu. 
MAIRA : Karang, sayangku, keluarlah! 
(Seseorang yang sebaya dengan Maira keluar) 
TEMAN KARANG : Siapa kau? 
MAIRA : Dimana Karang? 
TEMAN KARANG : Kau Maira? (Maira mengangguk) Kau terlambat! Karang sudah pergi. 
MAIRA : Pergi kemana? 
TEMAN KARANG : Bukankah kau tahu? Bukankah Karang sering mengatakannya padamu? Sesering ia menceritakannya kepadaku. Ia ingin menjadi manusia bebas, ia ingin pergi berkelana. Menjelajah hutan, mengarungi samudera, mendaki gunung, melewati gurun, dan entahlah apapun itu. Bukankah kau tahu itu? 
MAIRA : Tapi, bagaimana denganku? Kenapa Karang meninggalkanku?
TEMAN KARANG : Sudahlah, kau pulang saja!
MAIRA : Tidak bisa! Aku tidak mungkin kembali ke rumah yang penuh keegoisan dan keserakahan itu. 
TEMAN KARANG : Hey, kau sebut keluargamu egois? Kau bagian dari keluarga itu. Kau mewarisi  keegoisan itu. 
MAIRA : Apa maksudmu? 
TEMAN KARANG : Kau ingin menikah dengan Karang? Hidup bahagia dengannya? Tak peduli dengan kehidupan yang lain, selama hidupmu bahagia, aman, tentram tanpa merugikan oranglain. Hei, itu sama egoisnya. Kalian memilih hidup bahagia sendirian? 
                                      Kau tahu siapa Karang? Apa kau tahu? Karang adalah anak hasil hubungan gelap ibunya dengan seorang tauke asing itu. Lalu, setelah Karang lahir Ibunya dicampakkan. Maka dari itu, sangat wajar jika Karang membenci orang-orang asing yang datang ke Indonesia. Sedangkan kau? Kau hidup bahagia bersama keluargamu yang mengabdi kepada orang asing itu! Tapi kau masih membenci mereka? KAU TAK TAHU DIRI MAIRA!
                            Pergilah! (Maira hendak pergi) Tunggu sebentar! Karang menitipkan ini untukmu sebelum ia pergi! (menyerahkan selembar surat, lalu masuk ke dalam rumahnya) 
Maira menangis demi  membaca surat yang berisi puisi perpisahan dari kekasihnya itu. Karang telah pergi. Karang memutuskan pergi. Entah akan kembali atau tidak? 
Maira : Tuhan, mengapa begini, Tuhan? (Maira menangis tersedu-sedu)


Epilog
Pada akhirnya,  Maira menuruti keinginan Kakaknya untuk mengambil beasiswa di perusahaaan tempat kakaknya bekerja. Selanjutnya, ia bekerja bahkan mengabdikan diri untuk orang-orang asing itu. Ya, ia menikah dengan atasannya di perusahaan, seorang asisten pemimpin perusahaan yang telah diangkat menjadi pemimpin cabang. Meski sejatinya, ia tak pernah lebih dari seorang budak.
Tak peduli seberapa banyak harta negeri ini yang dicuri. Baginya mereka adalah malaikat karena mereka tidak pernah meninggalkannya. Dan, entah sampai kapan negeri tercinta ini terus kehilangan arah dan tujuan. Entah sampai kapan kita terus menjadi orang-orang yang tersesat, orang-orang yang tidak punya mimpi dan hanya menjadi seonggok daging bernyawa yang menjadi penggerak mimpi orang lain, yang tanpa disadari akan menghancurkan diri bahkan negeri sendiri.




**


Terima kasih sudah membaca. Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kekurangan. Aku masih dalam tahap belajar.  Kritik dan saran dari teman-teman semua sangat aku harapkan, lho! Ditunggu, ya, di kolom komentar.

Semoga apa yang kutulis bisa bermanfaat. Aku cinta padamu.


Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.....

9 comments:

  1. Ceritanya nyeremin, pas awal awal teater.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak seserem ketemu mantan sama pacar barunya di jalan, kan, Kak Anonim? Hehehe. Btw, makasih, lho, udah mampir😊.

      Delete
  2. Ceritanya seru, amanatnya dapet banget. Ditengah tengah agak ngebosenin. Semangat terus ka hana cantikkk😆😆😆😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya seru, di tengah makin ngebosenin. Hm, kaya hubungan aja, ya, hehe. Makasih Kak Aditya komentarnya😊

      Delete
  3. Bagus, tingkatkan lagi kak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih! Pasti! Aku akan belajar lebih banyak lagi! 😊

      Delete
  4. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete

Tentang Semester Empat, dan Syukur yang Belum Sempat Terucap

~~~ Guru favoritku selalu berkata bahwa saat di bangku kuliah kita boleh mengejar apapun selama tak melupakan IPK. Menurutnya, IPK adalah ya...